Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2024

Rahasia Kemenangan Komeng ? Shoope COD!

Netizen tampak kaget ketika perolehan suara komedian Komeng di Pemilihan Anggota DPD melejit. Angkanya fantastis, mengalahkan Capres Ganjar Pranowo di Dapil Jawa Barat. Fenemona ini dibedah banyak orang. Ada yang bilang bahwa sejak lama Komeng memang dikenal sebagai komedian kawakan, sehingga dia tak perlu berkampanye lagi lewat APK, media sosial, atau jumpa-jumpa masyarakat. Tapi nampaknya penjelasan itu tidak relevan dengan beberapa orang komedian kawakan, artis terkenal dan publik figur yang gagal melenggang ke Senayan pada Pemilu 2024 ini. Ada juga yang berpendapat bahwa Komeng menjadi simbol segar atas kejumudan proses politik di negeri ini. Orang-orang yang mengaku serius akan mengurus negara dengan menjadi wakil rakyat, justru tampil penuh kelucuan layaknya para komedian di Senayan sana. Sehingga, voters berpikir, mending sekalian milih pelawak untuk ke Senayan, siapa tahu dia jadi antitesa wakil rakyat hari ini. Pendapat ini bisa jadi benar bisa jadi juga tidak. Sebab, rasional...

Deduktif Sherlock Holmes

Sejak begitu akrab dengan dunia internet, rasa-rasanya durasi menjelajah saya setiap hari sangat tinggi. Bahkan bisa seharian biasanya berkutat didepan layar smartphone dan laptop hanya untuk mencari tahu berbagai hal diatas muka bumi ini. Sebab inilah disalah satu literatur saya bertemu tokoh bernama Sherlock Holmes ini. Begitu saya tahu bahwa dia adalah tokoh fiksi gubahan Sir Arthur Conan Doyle seorang novelis sekaligus juga detektif, setumpuk buku dikeranjang belanja tokopedia penuh dengan judul-judul serial novel Sherlock. Tak hanya berhenti pada membaca bukunya, berlangganan netflix juga salah satunya agar bisa menonton serial filmnya, baik yang dibuat berseri atau premiere film. Ada satu hal yang menarik bagi saya ketika menelisik jauh kisah-kisah detektif yang tinggal di Baker Street ini. Science Deduktif, ya... dia menamakan metode identifikasi kasus-kasusnya dengan itu yang artinya secara garis besar Holmes menganulir jauh metode deduksi. Deduksi ini biasanya saya temukan dal...

Covid19, Biopower, dan Konstruksi Sosial

Orang-orang yang memakai kacamata pendekatan contruktivism postmodernisme akan mengatakan bahwa sejatinya segala sesuatu yang kita anggap realita adalah hasil dari konstruksi sosial. Sederhananya, realita yang muncul dalam setiap kata-kata, baik itu disebut sebagai fakta atau opini, maka semuanya adalah hasil kontruksi.  Kita memahami bahwa fakta itu tidak pernah tunggal, tidak pernah objektif sebab ia akan terus berubah tergantung darimana ia diucapkan sebagai sebuah kata-kata. Termasuk bagaimana kita memahami Covid19 yang hari ini dikonstruksi sebagai kekacauan abad ini, itu semua kebenaran yang ada pada jaringan yang membenarkan kehadiran Covid19 itu sendiri. Kita juga menemukan dalam situasi ini, bagaimana jaringan yang mendekonstruksi secara teologis apa-apa yang berkaitan dengan Covid19 sebagai bahan pembenaran, jika kita berparadigma Postmo maka kita menerima kebenaran itu dengan sifat subyektif, artinya ada kebenaran lain yang mungkin muncul dari jaringan lain.  Dekons...

Keberagaman Seksualitas dan Gender : Seperti Apa Kita Memandang Mereka ?

 Perdebatan panjang tentang keberagaman gender di Indonesia rasanya bukan lagi hal yang jarang terjadi. Adanya silang pendapat dari berbagai kalangan yang tentunya dengan pegangan perspektif masing-masing membawa kita pada satu pertanyaan besar, seharusnya seperti apa kita memandang mereka yang diklaim berbeda dengan kita. Sebelum lebih jauh membahas tentang pertanyaan tersebut, mari kita bersama melihat fakta penting tentang jejak – jejak keberagaman gender ini melalui literatur perspektif kebudayaan Indonesia. Mengutip melalui beberapa literatur antropologi, keberagaman gender di Indonesia ini bukanlah lagi hal tabu, sebab sejak dahulu orang – orang sudah mengklasifikasi gender bukan hanya heteroseksualitas yang pada hari ini dianggap sebagai sebuah “kenormalan” pada masyarakat kita. Di tanah Toraja, to burake tambolang menjadi sebutan bagi gender ketiga yang kemudian punya kedudukan penting sebagai pemuka – pemuka ritual adat keagamaan. Bukan hanya Toraja, bahkan masyarakat Bugi...

COVID19, Indonesia, Dan Depopulasi

 Terhitung 24 hari sudah Bangsa Indonesia melalui perjuangan untuk menanggulangi Pandemi yang disebabkan oleh Corona Virus Disease 19 atau COVID19. Terhitung sejak di umumkannya pertama kali kasus positif corona oleh Presiden Joko Widodo, hingga hari ini jumlah penderita yang terinfeksi virus ini lebih dari 600 orang belum lagi mereka yang dikategorikan sebagai OPD dan PDP Persentasi mereka yang meninggal berjumlah sekitar 55 orang, yang merupakan dath rate tertinggi di Asia Tenggara dan menduduki posisi kedua dari 186 negara yang terjangkiti virus ini dengan persentasi dath rate 8 %. COVID19 bukan hanya menimbulkan kerugian berupa kematian, melainkan juga membahayakan sistem perekonomian dunia yang otomatis bangsa Indonesia termasuk didalamnya. Bukti melemahnya sistem perekonomian Indonesia adalah terakhir kemarin dari data yang diterima menyatakan bahwa kurs nilai tukar rupiah ke dollar tembus sebesar 16.000 lebih, persis ketika krisis moneter 1998 terjadi. Kemungkinan besar, in...

Analisis Dunia Tanpa Negara : Masyarakat Jaringan Bukan Masyarakat Anarkis

Ruddy Agusyanto (2010) menyebutkan bahwa ; Bentuk atau struktur sebuah jaringan sosial sangat membantu kita untuk menentukan sesuatu atau bagian mana yang berguna (usefulness) dari jaringan sosial di mana seseorang menjadi anggota atau bagian dari padanya. Jaringan sosial yang relatif kecil dan ketat (eksklusif) dapat saja menjadi kurang bermanfaat/berguna bagi para anggotanya ketimbang atau dibandingkan dengan sebuah jaringan sosial yang di antara para anggotanya terhubungkan dengan seperangkat ikatan yang longgar dan kaya akan hubungan dengan individu-individu di luar jaringan utamanya. Dengan ikatan-ikatan dan koneksi-koneksi sosial pada jaringan sosial yang beragam akan lebih berpotensi (memberi peluang) dalam memperkenalkan ide-ide dan oportuniti-oportuniti baru kepada para anggotanya dibandingkan dengan jaringan-jaringan yang eksklusif atau tertutup (closed networks) — yang penuh atau pada ikatan-ikatan tapi redundant (hubungan antar anggota yang terjadi adalah hubungan sosial de...

Pesona Kecepatan : Memaknai Ulang Era Disrupsi (7)

Satu waktu saya bertemu seorang penulis yang begitu produktif menghasilkan karya buku, dan tak hanya menulis, dia juga mendirikan sebuah usaha penerbitan buku. Mungkin sebagian besar dari kita hari ini, mengatakan bahwa orang-orang yang mau membaca buku itu sedikit sekali, apalagi yang bentuknya cetak dan tentu saja ini berdampak pada para pelaku usaha dunia perbukuan, satu diantara yang telah terdepak adalah Toko Buku Gunung Agung. Orang-orang lantas berujar bahwa ini adalah akibat dari perubahan, disrupsi yang mengubah minat orang dalam urusan baca-membaca. Sebagian besar orang sudah tidak lagi memerlukan kerja pelik mencari informasi lewat buku-buku fisik, melainkan kecanggihan teknologi semisal Google dan sebagiannya telah menggantikan itu. Kalaupun ada yang berminat baca buku, paling-paling lewat ebook, lebih praktis mudah dan murah. Kasus TB Gunung Agung sebelumnya oleh beberapa pakar disebutkan alasannya bahwa mereka gagal bertransformasi ke going digital, sebagaimana kecenderun...

Pesona Kecepatan : Memaknai Ulang Era Disrupsi (6)

Penyederhanaan yang dilakukan oleh sebagian besar intelektual dengan menyebut perubahan sebagai konsekuensi dari gerak dan dinamika kehidupan yang sangat cepat akhirnya berdampak pada terjebaknya kita dalam memahami konteks sosial masyarakat. Padahal sejak dulu, dunia memang bergerak, cepat atau lambat. Namun pemaknaan atas cepat lambat inilah yang penting untuk digali, bahwa apa keteraturan yang terjadi disebaliknya, bukan menyederhanakannya seakan-akan unpredictable.  Senyatanya, kecepatan itu konstruksi manusia, bahwa merekalah yang menjadi subjek didalamnya. Waktu-gerak dan kecepatan sesungguhnya tidak pernah berubah, adakah misalnya kita lihat jarum jam bergerak lebih cepat ? Maka, letak pesona dari kecepatan adalah pada “rasa” manusia. Lihatlah misalnya ketika banyak orang mengeluh tentang “kok semakin hari rasanya waktu berjalan cepat ya?” atau ketika sedang puasa orang menyebut “kok rasanya waktu maghrib ini lama sekali ya ?” Yang celaka adalah, misalnya ketika orang-orang ...

Pesona Kecepatan : Memaknai Ulang Era Disrupsi (5)

Keruntuhan yang terjadi pada sekat-sekat jarak geografis dan atribut sosial bikin melongo banyak orang. Kebingungan itu lantas disederhanakan dengan menyebutnya sebagai disrupsi. Tapi, ternyata kerangka berpikir banyak orang tidak bertaubat dari jebakan sebelumnya. Justru bertambah akut, dengan membuat asumsi-asumsi yang menyatakan bahwa struktur sosial telah berubah seiring pengaruh kemajuan media komunikasi pada tindakan-sikap-perilaku manusia. Mari melihat contoh kembali, masih seputar dunia politik tentunya. *** Pasca Badan Pusat Statistik merilis sebuah data yang memuat laporan tingkat pendidikan masyarakat Indonesia, muncul pula sebuah riset yang coba melihat data tersebut dengan mengkonversinya ke dalam teori perilaku pemilih. BPS menyebutkan bahwa penduduk Indonesia di dominasi oleh mereka yang berpendidkan rendah. 61% tidak tamat atau sebatas lulus SD, 30% yang tamat pendidikan menengah, dan hanya 9% yang lulus perguruan tinggi. Lantas, riset tersebut menyimpulkan bahwa, denga...

Pesona Kecepatan : Memaknai Ulang Era Disrupsi (4)

Kemajuan teknologi komunikasi berbasis internet oleh Castels dianggap mempengaruhi struktur sosial masyarakat, denga kata lain, manusia-lah yang berubah dan berhasil diubah di era perubahan ini. Lantas, benarkah demikian ? Kita bisa mulai dengan mengambil contoh Pemilu 2019 yang lalu, ketika ramai informasi yang beredar di media sosial bahwa PDI Perjuangan adalah partai antek-antek PKI. PKI tentu saja telah dilarang di Indonesia, konstruksi cerita tentang jejak berdarah PKI di Indonesia memungkinkan bagi semua orang enggan dan jijik terhadap realitas keberadaan PKI. Lantas, apakah kemudian PDI Perjuangan terlempar dari gelanggang kemenangan Pileg ? Data rekapitulasi suara pada 2019 lalu sebagaimana yang diumukan KPU menyatakan bahwa PDI Perjuangan memperoleh 19,33% suara atau sekitar 27 juta lebih rakyat Indonesia memilihnya. Lantas bagaimana kita menjawab fenomena seperti ini ? bukankah PKI dibenci oleh seluruh rakyat Indonesia, dan bila PDI Perjuangan dianggap representasi PKI reborn...

Narasi Kepahlawanan : Tidak Hanya Cukup "Khusnul Khotimah" __________

Gus Baha bercerita, bahwa Imam Al Ghazali pernah dikritik banyak ulama semasanya ketika menolak konsep Su'ul Khotimah. Argumen yang beliau sodorkan untuk mengganti hal tersebut adalah konsep Su'ul Shobiqoh alias awal yang buruk.  Sejak dulu, semua takdir tentang baik dan buruk telah diputuskan oleh Allah SWT jauh sebelum kita turun dan lahir sebagai manusia, sehingga saat ini tak ada yang perlu ditakutkan asbab semua telah tertulis soal akhir dari penghidupan kita. مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ Artinya: "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah," Keuntungan yang kita dapatkan dari putusan awal ini adalah negosiasi. Ibaratnya, kalau dalam dunia hukum kita bisa mengajukan ban...

PKS Tanpa Anies

Setelah Deklarasi AB-Cak Imin di Surabaya beberapa waktu lalu, tanpa kehadiran satupun perwakilan PKS, muncul pertanyaan di benak banyak orang, bahwa jika PKS memutuskan keluar dari koalisi dan menarik dukungan ke AB, bisakah PKS itu tanpa Anies?. Jawaban dari pertanyaan itu justru dengan pertanyaan baru.  Jika tanpa PKS, apakah AB akan tetap berlayar? dan bila disertai PKS, seberapa butuh Nasdem-PKB dengan kehadiran partai berwarna orange tersebut dalam koalisinya?. Semakin rumit, tapi mari membedahnya satu-persatu. Anies Baswedan, dengan atau tanpa PKS, sudah barang tentu akan tetap berlayar, pertama, karena yang pertama kali mengusungnya adalah Nasdem, kedua, kehadiran PKB telah dapat menggantikan posisi Demokrat dan PKS sekaligus. Ceruk Islam yang awalnya diharapkan datang dari PKS, kini tidak lagi bertumpu melalui alasan itu. PKS dianggap mewakili Islam Kanan dan persentasi jaringan itu tidak banyak, berbeda dengan PKB yang dianggap mewakili persentasi Islam Tradisional atau k...

TAHU MERASA

Sebagai seorang yang fokus pada studi Hubungan Internasional saya termasuk yang percaya bahwa kompleksitas hubungan antar aktor non-state belakangan ini telah menggerus relevansi dari nation-state itu sendiri.  Ada banyak tulisan yang saya buat, khusus untuk mengkritik negara, sekaligus menekankan bahwa kehadirannya hari ini tidaklah penting-penting amat. Oleh sebab itu, banyak teman yang menyindir, ketika dengan terang-terangan saya rajin mengkritik Jokowi sepasca putusan Mahkamah Konstitusi tentang batasan umur Capres-Cawapres. Kok masih ngurusin negara ? kan katanya ndak perlu negara, demikian ujar beberapa dari mereka. Ya, negara memang tidak lagi relevan, tapi sayangnya realitas hidup di bawah kuasa negara itu masih harus saya jalani sampai sekarang, entah sampai kapan tidak ada yang tahu pasti. Bisa jadi anak cucu pun masih merasai. *** Dan sialnya, hari ini generasi saya harus menjalani masa dimana penguasa yang bertahta atas nama negara itu, menggunakan pinjaman privilege k...

Rebutan Erick Thohir : Paket Jokowi Untuk Para Capres

 Dalam berbagai hasil survei yang dirilis belakang ini, setidaknya ada tiga nama besar yang muncul sebagai kandidat terkuat dalam bursa calon Wakil Presiden pada Pemilu 2024 mendatang, satu diantaranya adalah Menteri BUMN yang juga Ketua PSSI, Erick Thohir. Menguatnya kans ET, sapaan akrabnya, dalam kontestasi Pilpres tahun depan selalu menarik ditelusuri. Sebab bukan hanya karena dia memiliki resource yang paripurna berupa elektabilitas, popularitas dan isitas, melainkan juga terkoneksinya realitas ET sebagai “paket” Jokowi dalam cawe-cawenya terhadap Pilpres 2024 yang akan datang. Kisruh Piala Dunia dan Agenda Menyelamatkan “Bapak Infrastruktur” Untuk melacak ini, kita bisa mulai pada peristiwa batalnya gelaran Piala Dunia U-20 di Indonesia. Agak aneh misalnya jika dikatakan bahwa pembatalan itu disebabkan oleh isu penolakan publik Indonesia terhadap Israel. Disway pada 7 Maret merilis sebuah artikel dengan tajuk “FIFA : Semua Stadion Piala Dunia U-20 Minus, Fakta Indonesia Belum...