Langsung ke konten utama

Rebutan Erick Thohir : Paket Jokowi Untuk Para Capres

 Dalam berbagai hasil survei yang dirilis belakang ini, setidaknya ada tiga nama besar yang muncul sebagai kandidat terkuat dalam bursa calon Wakil Presiden pada Pemilu 2024 mendatang, satu diantaranya adalah Menteri BUMN yang juga Ketua PSSI, Erick Thohir.


Menguatnya kans ET, sapaan akrabnya, dalam kontestasi Pilpres tahun depan selalu menarik ditelusuri. Sebab bukan hanya karena dia memiliki resource yang paripurna berupa elektabilitas, popularitas dan isitas, melainkan juga terkoneksinya realitas ET sebagai “paket” Jokowi dalam cawe-cawenya terhadap Pilpres 2024 yang akan datang.


Kisruh Piala Dunia dan Agenda Menyelamatkan “Bapak Infrastruktur”


Untuk melacak ini, kita bisa mulai pada peristiwa batalnya gelaran Piala Dunia U-20 di Indonesia. Agak aneh misalnya jika dikatakan bahwa pembatalan itu disebabkan oleh isu penolakan publik Indonesia terhadap Israel.


Disway pada 7 Maret merilis sebuah artikel dengan tajuk “FIFA : Semua Stadion Piala Dunia U-20 Minus, Fakta Indonesia Belum Siap Jadi Tuan Rumah, Erick Thohir : Jangan Sampai Dicoret!”. ET dalam artikel tersebut menyebutkan bahwa FIFA memberikan catatan minus terhadap 6 stadion tempat dimana gelaran pertandingan sepak bola bertaraf Dunia itu akan dilaksanakan.


Jika kita coba melakukan perbandingan misalnya, sewaktu Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia beberapa waktu lalu, Airport Qatar juga sempat dipermasalahkan dan dianggap tidak siap. Padalah Hamad Internasional itu homebase Qatar Airways, maskapai nomor 1 Dunia. Salah satu alasannya adalah banyak pegawai baru yang direkrut masif di Airport tersebut, dan ini memungkinkan mereka tidak dapat melakukan pelayanan secara profesional.


Pertanyaannya, apa iya hanya untuk memenuhi standa FIFA Indonesia tidak memiliki kemampuan tersebut ? Nah inilah musykilnya masalah ini, apa beratnya ? apalagi untuk kelas seperti Jokowi yang digelarkan “Bapak Infrastruktur” itu. Tapi, itu jugalah jawabannya, bahwa kelas-kelas infrastruktur yang selama ini dibanggakan itu bukan sesuatu yang spesial dan dahsyat. Standar FIFA itu memang berat, perbandingan tentang Qatar diatas membuktikan bahwa sekelas mereka saja hampir gagal memenuhinya.


Sampai disini, kita bisa menyimpulkan bahwa kegagalan pelaksanaan Piala Dunia U-20 beberapa waktu lalu lebih disebabkan karena gagalnya Indonesia memenuhi standar kelayakan psarana FIFA, tapi isu Israel diperlukan untuk setidaknya menyelamatkan air muka “Bapak Infrastruktur”.


Sebenarnya, PKS bisa menjadi mesin gratis Jokowi untuk melakukan kerja-kerja itu, tetapi ternyata suara dari partai berwarna orange ini tidak cukup, istilahnya efeknya biasa-biasa saja. Untuk itulah, diperlukan PDIP a.k.a Ganjar Pranowo dan Koster maju ke hadapan publik melakukan penolakan. Saya mungkin lebih suka menyebut bahwa pengorbanan PDIP ini lebih karena ada mekanisme tagih di belakang setelah menempatkan diri menyelamatkan Jokowi dari isu kegagalan infrastruktur.


Apa rewardnya bagi PDIP secara khusus ? restu Jokowi dalam Pilpres berupa “orangnya Jokowi”, Erick Thohir sebagai Cawapres.


ET, Orangnya Jokowi


Kita perlu melacak kenapa pula ET menyandang gelar “orangnya Jokowi” itu. Pertama, kita harus ingat bahwa sejak awal pencapresan Jokowi di 2019 lalu, Erick Thohirlah yang menyandang jabatan sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin. Jabatan ini bukan sembarang, bahkan Luhut Binsar Pandjaitan yang kita sebut-sebut sebagai Perdana Menteri Indonesia itupun mengincarnya.


 Pasca terpilih, trend ET dihadapan Jokowi semakin menunjukkan begitu besar eksistensinya. Lihat saja, menyandang kursi Menteri Badan Usaha Milik Negara, dan menjadi kepala dari berbagai event-event besar negara. Trend “keanehan” ET terus terjadi, menjadi semacam keteraturan.


LBP yang selama ini dipakai Jokowi untuk mengimbangi Megawati, posisinya mulai digesar oleh ET yang merupakan titik temu antara Jokowi dan Megawati. Istilahnya, tidak perlu berantemlah dengan ibu sendiri, jika memang bisa punya titik temu, maka ketimbang LBP, ET lebih mungkin mendapat tempat itu.


Pilpres : Ganjar-ET


Jokowi telah blak-blakkan menyebut bahwa dia merasa perlu cawe-cawe terhadap urusan Pilpres 2024. Ini rasa-rasanya wajar, pertama karena dia memerlukan keberlanjutan program-program strategisnya, juga berikutnya untuk menghindari nasib yang sama seperti SBY, kehilangan deposit terhadap ruang-ruang kekuasaan.


Lantas kenapa ET harus ke Ganjar ? karena lewatnya lah Jokowi bisa akses cukup di PDIP yang akan digunakan nanti sebagai mekanisme tagih. Jokowi sekarang ya Presiden, setelah itu ? maka dia paham betul posisinya sebagai aktor signifikan pada urusan non elektabilitas. Setelah pensiun, dia tahu fakta bahwa kemungkinan besar akan kehilangan power, maka disinilah PDIP penting bagi seorang Jokowi.


Ganjar Pranowo bisa diseimbangkan oleh Jokowi lewat PDIP dan Erick Thohir, dan ET sendiri dapat diseimbangkan Jokowi lewat PDIP. Siapa aktor kuncinya ? Megawati, dialah penghubung semua itu.


Ganjar-ET ini adalah titik temu Jokowi dan Megawati, mekanisme keseimbangannya menguntungkan pihak-pihak tersebut. Kenapa PDIP menjadi alat yang joss untuk mekanisme balancing termasuk nagih bagi Jokowi dan Megawati? Karena mereka meyakini PDIP akan menang besar, terbukti dalam dua pemilu sebelumnya.


Perubahan Situasi dan Rebutan ET


Saya tidak bisa bilang bahwa hipotesa soal Ganjar-Erick ini akan tetap dan tidak berubah. Pertama, karena kita tahu setiap manusia punya fitur reflektifitas dan yang kedua, sebab realitas politik kita masih cair. Tapi apakah sampai hari ini masih dapat dikatakan bahwa Erick adalah “Orangnya Jokowi”? maka jawabannya adalah ya.


Ada satu mekanisme dalam lobi-lobi politik yang jarang dilihat oleh orang-orang, yaitu mekanisme tagih, ini realitas yang kadang diabaikan oleh analis. Jokowi yang sekarang powerfull, kalau mau dukung si A, nagihnya gimana pasca dia bukan Presiden ? apa iya orang mau ditagih cukup dikasih surat perjanjian?


Apakah ET selalu dengan Jokowi ? belum tentu, bila terjadi realitas yang menjadikan dia reflektif ke Jokowi. Tapi ngapain juga ET harus sulit-sulit melawan Jokowi ? padahal dialah aktor kunci dalam urusan non-elektabilitas.


Pada bagian atas tadi kita telah bahas bahwa ini soal mekanisme tagih. Apakah Jokowi tetap akan pada Megawati ? ini juga belum tentu. Reflektifitas akan realitas lainnya juga perlu dilihat, bisa jadi Prabowo a.k.a Gerindra memberikan tawaran lain terhadap Jokowi ? Soal ET, dia tidak perlu susah payah, pokoknya “manut dan nderek Jokowi” selama itupun menguntungkan.


Perhari ini, kita bisa melihat bahwa situasi masih begitu cair. Nego sana sini terjadi di pasar hingga titik keseimbangan antara pelaku-pelaku indsutri pasar Pilpres ini ada. Namun setidaknya, kita bisa membaca dan tidak terlalu banyak tenggelam dalam tsunami informasi dan hipotesa analisis yang cenderung bikin kita makin bertanya-tanya dan mumet.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...