** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer**
Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?
Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru)
Pendahuluan
Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat. Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif atas model tatanan dunia yang dibangun Barat. Hegemoni Islam menjadi topik strategis karena umat Muslim dihadapkan pada dilema: di satu sisi, ada tanggung jawab historis untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam, di sisi lain mereka tidak lepas dari ketergantungan pada struktur global yang diciptakan Barat.
Selain itu, kebangkitan ulang kesadaran keagamaan dan fenomena politik identitas di berbagai negara Muslim menandai pencarian arah baru bagi dunia Islam. Meluasnya kesadaran akan adanya “standar ganda” dalam politik internasional kerap dijadikan argumen untuk merumuskan cita-cita tatanan dunia berbasis nilai-nilai Islam yang universal seperti keadilan, perdamaian, serta perlindungan hak asasi manusia bagi seluruh umat manusia. Kekhawatiran Barat akan bangkitnya kekuatan Islam justru membuktikan pentingnya membahas dan menggali konsep hegemoni Islam secara ilmiah dan proporsional.
Tatanan dunia baru atau New World Order merupakan istilah yang merujuk pada struktur kekuasaan, aturan, dan norma yang mengatur hubungan antarnegara setelah terjadi perubahan signifikan di tingkat global, seperti setelah Perang Dingin. Tatanan ini bukan hanya urusan konfigurasi kekuatan militer-ekonomi, tetapi juga mencakup penyebaran nilai, pola pikir, dan institusi sosial-budaya secara luas. Dalam realitas kontemporer, tatanan dunia baru identik dengan keterbukaan, integrasi ekonomi, serta interdependensi multilateral yang didorong oleh globalisasi dan kemajuan teknologi informasi.
Hegemoni, dalam ranah hubungan internasional, diartikan sebagai dominasi satu kekuatan atas kekuatan lain bukan semata dengan paksaan, namun juga melalui penyebaran norma dan nilai yang diterima secara sukarela oleh masyarakat global. Konsep hegemoni penting, karena ia menentukan arah kebijakan, siapa yang diidolakan sebagai role model, siapa yang didengar dan siapa yang terpinggirkan. Dalam konteks tatanan dunia baru, peran hegemoni sangat signifikan karena ia sering beroperasi di bawah kesadaran kolektif melalui mekanisme ekonomi, pengetahuan, media, bahkan teknologi informasi, sebagaimana tampak pada dominasi Barat saat ini. Namun, pada sisi lain, Islam juga memiliki tradisi nilai dan sistem sosial yang pernah berjaya dan diidealkan sebagai alternatif mewujudkan tatanan dunia yang adil dan damai, dengan semangat rahmatan lil ‘alamin.
Tulisan ini bertujuan menganalisis cita-cita hegemoni Islam dan perbedaannya dengan model hegemoni Barat, beserta potensi nilai-nilai universal Islam sebagai fondasi pembentukan tatanan dunia baru. Kajian akan menjelaskan bagaimana hegemoni Barat membangun tatanan dunia berbasis sekularisme, kapitalisme, dan rasionalitas instrumental namun menghadirkan banyak ketidakadilan global, serta bagaimana Islam menawarkan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan perdamaian yang lebih inklusif melalui konsep rahmatan lil ‘alamin.
Analisis akan memetakan titik perbedaan mendasar antara konsep hegemoni Islam dan Barat, baik dari segi motif, metode, maupun tujuan, serta bagaimana nilai universal Islam mampu memberikan antitesis dan alternatif terhadap hegemoni Barat yang kerap berujung pada ketergantungan dan fragmentasi dunia Muslim. Selain itu, tulisan ini bertujuan untuk menyoroti bagaimana potensi nilai luhur Islam bila diterjemahkan secara substantif dan universal dapat menjadi landasan bersama dalam membangun tatanan global yang berkeadilan, humanis, dan damai di era kekacauan internasional serta pertarungan ideologi pasca-pandemi dan konflik global dewasa ini.
Konsep Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru
Hegemoni secara bahasa berarti proses penguasaan atau dominasi suatu negara atau kelompok terhadap negara atau kelompok lain tanpa praktik kekerasan langsung, melainkan dengan menciptakan pengaruh ideologis, budaya, maupun kebijakan politik-ekonomi tertentu. Dalam konteks Islam dan hubungan internasional, hegemoni sering dikaitkan dengan dominasi peradaban Barat yang muncul via globalisasi dan modernisasi, yang menyebabkan ketergantungan dan pengaruh kuat Barat terhadap negara-negara Islam.
Islam memahami hubungan internasional dengan landasan utama agama, yakni ajaran Al-Quran dan Hadist yang mencakup prinsip keadilan, persaudaraan (ukhuwah), kebebasan beragama, dan penghormatan antar negara. Islam membagi dunia menjadi Dar al-Islam (wilayah yang tunduk pada ajaran Islam) dan Dar al-Harb (wilayah peperangan atau yang belum tunduk), serta menekankan diplomasi, perdamaian, dan kerja sama di antara negara.
Hegemoni Barat muncul dari kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang memungkinkan negara-negara kecil Barat mendominasi dunia lewat pameo sosio-kultural dan politik-ekonomi. Ini menjadi tantangan bagi umat Islam yang kemudian merespons baik dengan sikap menolak, menerima dengan kritik, atau mengadopsi secara selektif nilai-nilai Barat agar tetap berpegang pada prinsip Islam.
Cita-cita hegemoni Islam dalam tatanan dunia baru tidak semata-mata dominasi militer atau politik, tetapi lebih kepada upaya membangun tatanan dunia yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam yang universal, seperti keadilan, persamaan, dan perdamaian. Islam berupaya mengedepankan perdamaian sebagai nilai utama, namun tidak menolak jihad yang dipahami sebagai perjuangan mempertahankan dan menyebarkan nilai-nilai tersebut.
Sebagai respon atas dominasi Barat, hegemoni Islam diwujudkan lewat pembentukan pemerintahan dan kerjasama politik-ekonomi yang mengadopsi nilai-nilai Islam, serta menegakkan kemandirian umat Islam secara budaya dan sosial. Dalam era globalisasi, cita-cita ini juga diwujudkan melalui dakwah, penguatan umat Islam global, dan pembentukan institusi politik ekonomi yang menegakkan keadilan sosial dan melawan ketergantungan ekonomi pada Barat. Selain itu, hegemoni Islam memikul tanggung jawab menjaga persatuan umat dan menjalin hubungan internasional yang mengedepankan kerjasama, penghormatan terhadap perjanjian, serta perlakuan adil antara negara Islam dan non-Islam. Ini termasuk penolakan segala bentuk imperialisme baru dan kolonialisme modern yang dilakukan oleh kekuatan dunia lain.
Perbandingan dengan Hegemoni Barat dan Amerika Serikat
Ambisi kekuasaan Barat, khususnya Eropa dan Amerika Serikat, dalam tatanan dunia berakar dari proses panjang modernisasi dan perkembangan teknologi sejak abad ke-18. Barat mulai menunjukkan dominasi setelah revolusi industri dan revolusi politik (misal Revolusi Prancis 1789), yang menghasilkan kekuatan ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan superior. Pada abad ke-19 dan ke-20, kolonialisme dan imperialisme menjadi sarana utama Barat untuk menguasai wilayah-wilayah strategis, termasuk dunia Islam, dengan memanfaatkan teknologi dan strategi diplomasi serta militer. Amerika Serikat bertindak sebagai penerus hegemoni Barat abad ke-20 dengan mengedepankan peran global pasca Perang Dunia II, memperluas pengaruhnya secara ekonomi, militer, dan ideologi liberal-demokrasi.
Dalam perjalanannya, hegemoni Barat dicirikan pada beberapa aspek, (1) Dominasi militer yang tangguh dan penggunaan kekuatan militer sebagai alat mempertahankan atau memperluas pengaruh global (misal Perang Dunia, Perang Dingin, dan intervensi militer AS); (2) Dominasi ekonomi yang berlandaskan kapitalisme global dan sistem ekonomi pasar bebas yang mengandung liberalisasi perdagangan dan investasi internasional; (3) Dominasi ideologi melalui penyebaran nilai-nilai liberalisme dan demokrasi dalam sistem politik, yang menempatkan kebebasan individu, sekularisme, dan hak asasi manusia sebagai fondasi, sekaligus sering digunakan sebagai alat legitimasi intervensi politik. Kerangka hegemoni ini juga diperkuat oleh teknologi informasi dan media massa yang mengglobal, membentuk opini publik internasional dan budaya populer yang mendukung dominasi Barat.
Perbedaan mendasar antara cita-cita hegemoni Islam dan hegemoni Barat terletak pada motif dan tujuan, pendekatan terhadap kekuasaan, serta dimensi etika dan universalitas nilai. Hegemoni Barat lebih didorong oleh motivasi untuk memonopoli kekuasaan demi kepentingan ekonomi, politik, dan ideologi sekuler, dengan fokus pada dominasi dunia dan keuntungan nasional. Pendekatan Barat terhadap kekuasaan mengandalkan kekuatan militer, ekonomi, dan diplomasi yang agresif, termasuk intervensi dan kolonialisme modern. Dari sisi nilai, Barat menyebarkan ideologi liberalisme dan demokrasi, yang memposisikan kebebasan individu, sekularisme, dan hak asasi manusia sebagai pijakan utama, meskipun sering dikritik karena cenderung eksklusif dan imperialistik.
Sebaliknya, cita-cita hegemoni Islam berakar pada nilai spiritual dan etika Islam yang lebih universal, yang mengutamakan prinsip keadilan, moralitas, dan kesejahteraan umat manusia secara luas. Tujuan utamanya bukan monopoli kekuasaan, melainkan membangun tatanan dunia yang adil dan damai berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Pendekatan Islam terhadap kekuasaan lebih menekankan pada dakwah, kerjasama antar umat, serta diplomasi yang berlandaskan nilai agama dan spiritual tanpa mengedepankan dominasi militer secara semata-mata. Dari aspek etika, Islam mengedepankan universalitas nilai yang menolak imperialisme dan penjajahan, serta mengutamakan persaudaraan dan harmoni antar bangsa tanpa paksaan agama.
Dengan demikian, perbedaan pokok antara keduanya terletak pada tujuan yang bersifat materi dan monopoli dalam hegemoni Barat, sementara hegemoni Islam berfokus pada pembentukan nilai spiritual dan etika untuk kesejahteraan umat dan dunia secara adil dan harmonis. Pendekatan dan dimensi nilai ini menjadikan hegemoni Islam secara fundamental berbeda dengan model dominasi Barat yang sifatnya lebih strategis dan materialistis.
Implikasi dan Prospek Hegemoni Islam dalam Hubungan Internasional Masa Depan
Hegemoni Islam berpotensi membawa perubahan signifikan terhadap struktur dan kebijakan global, terutama dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih mengedepankan keadilan sosial, persaudaraan umat, dan penegakan nilai-nilai etika berdasarkan ajaran Islam. Implikasi ini khususnya terkait upaya mengurangi dominasi hegemoni Barat yang berbasis pada kekuatan militer dan kapitalisme, serta menggantikan paradigma yang sering eksploitatif dan tidak adil dengan pendekatan tata dunia yang inklusif, berperikemanusiaan, dan menolak imperialisme. Hegemoni Islam diharapkan mendorong kebijakan global yang lebih humanis, terutama dalam aspek pemberdayaan negara-negara berkembang dan perlawanan terhadap penjajahan ekonomi dan budaya.
Untuk mencapai cita-cita hegemoni Islam, negara-negara Islam dan komunitas internasional perlu menempuh strategi yang realistis dan pragmatis. Strategi tersebut melibatkan penguatan persatuan umat Islam secara politik dan sosial melalui kolaborasi lintas negara dan organisasi Islam, pengembangan sumber daya manusia dengan basis pendidikan dan ilmu pengetahuan modern yang tetap berlandaskan nilai Islam, serta peningkatan kemandirian ekonomi dan teknologi sebagai modal utama menghadapi dominasi asing.
Selanjutnya, negara-negara Islam harus membangun diplomasi strategis dengan kekuatan global lain untuk menciptakan tatanan multipolar yang lebih seimbang, termasuk memperkuat blok regional dan kerja sama ekonomi serta politik antarnegara Islam (misalnya Organisasi Kerjasama Islam dan blok ekonomi regional). Adaptasi terhadap globalisasi dengan tetap menjaga identitas dan nilai Islam menjadi kunci dalam strategi ini. Pendekatan ini harus mengedepankan dialog, toleransi, serta pengembangan soft power Islam sebagai alternatif hegemoni yang humanis dan damai.
Dalam tatanan dunia baru yang semakin multipolar dan kompleks, hegemoni Islam perlu membangun relasi yang konstruktif dengan berbagai blok dan kekuatan global lain, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, China, dan Rusia. Kerjasama antar negara-negara dan blok tersebut harus didasarkan pada prinsip saling menghormati kedaulatan, non-intervensi, dan kepentingan bersama untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran global. Negara-negara Islam dapat memainkan peran penting dalam mengisi kekosongan kepemimpinan global yang mulai menggeser dominasi satu negara tunggal. Koalisi yang inklusif dan berbasis kepentingan bersama, seperti BRICS atau koalisi negara berkembang lainnya, dapat menjadi wadah strategis bagi negara-negara Islam untuk memperkuat posisi tawar mereka di kancah global. Hegemoni Islam, dengan pendekatan nilai spiritual dan etika, dapat menjadi model alternatif tata dunia yang menjembatani perbedaan ideologi dan kepentingan antar blok.
Kesimpulan
Temuan utama menunjukkan bahwa hegemoni Islam bukan sekadar dominasi kekuasaan atau penguasaan wilayah semata, melainkan wujud kepemimpinan spiritual, etika, dan politik yang berlandaskan prinsip-prinsip agama Islam. Bentuk hegemoni Islam meliputi dimensi politik, ekonomi, budaya, dan ideologi yang didayagunakan untuk membangun tata dunia yang berkeadilan, inklusif, dan damai. Berbeda dengan hegemoni Barat yang berfokus pada dominasi militer, ekonomi kapitalis, dan penyebaran ideologi liberal-demokrasi, hegemoni Islam menekankan pada nilai-nilai universal seperti keadilan sosial, persaudaraan umat manusia, dan moralitas berbasis spiritualitas.
Implikasi teoritis dari temuan ini menambah ragam perspektif studi hubungan internasional dengan memperkenalkan paradigma alternatif yang mengintegrasikan nilai-nilai agama, etika, dan moralitas sebagai faktor penggerak politik internasional. Secara praktis, hegemoni Islam menawarkan pendekatan konstruktif dalam mengatasi problem globalisasi dan hegemoni Barat dengan membangun solidaritas umat dan strategi kerjasama internasional berbasis nilai keadilan dan kemanusiaan.
Referensi
Jainuri, A. (2017). Hegemoni Dunia Islam Melalui Globalisasi Isu Terorisme dan Radikalisme. Al-Adlah, 20(1), 167-177.
Kailani. (2013). Islam dan Hubungan Antar Negara. Jurnal Ilmu Agama Islam, XIV(299), 99-118.
Marjuki, M. (2024). Hegemoni Peradaban Barat dalam Globalisasi dan Respons Islam. Halaqah, 1(2), 166-180.
Ruslan, I., & Mawardi. (2019). Dominasi Barat dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Islam. Al-Adyan, 14(1), 51-69.
Wicaksono, A. (2013). Islam Politik dalam Politik Global. Jurnal Politik Profetik, 2(2), 1-40.
Putri, I. M., Indah, M., & Fz, Y. I. (2024). Analisis Framing Pemberitaan Gerakan All Eyes on Rafah di Media Sosial. Prosiding Semnaskom - Unram, 6(1), 80-96.
Rizki, R. (2017). Diplomasi Kontemporer dan Tantangannya di Era Globalisasi. Jurnal Sospol, 3(1), 126-141.
Grinin, L., Korotayev, A., & Issaev, L. (2017). World Order Transformation and Sociopolitical Destabilization. Working Papers Series International Relations WP BRP 29IR2017. National Research University Higher School of Economics.

Komentar
Posting Komentar