Langsung ke konten utama

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring.


Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta.


***


Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian.


Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya.


Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan jiwa kala dirundung berbagai kecemasan dan pilihan. 


Terlepas benar atau tidaknya, yang pasti ramai peziarah yang bahkan menginap untuk mlaku tirakat disini, berharap mendapat ketentraman jiwa ditengah rundungan masalahnya.


***


Cerita tentang Joko Umbaran bermula kala Ki Ageng Pemanahan, ayah dari Panembahan Senopati datang berkunjung ke rumah Ki Ageng Giring, putra Syekh Ketib Anom Batang yang pernah mengabdi kepada Sultan Trenggana, raja Demak Bintara.


Waktu itu, Ki Ageng Pemanahan sampai dengan kondisi kehausan, hingga dilihatnya sebuah degan (kelapa) dan diminumnya. Konon itu bukanlah degan sembarangan, ia didapat oleh Ki Ageng Giring saat pergi ke tegalan, waktu itu Ki Ageng Giring mendapat suara gaib. Barang siapa mampu minum degan kambil ijo sampai habis. Maka anak keturunan bisa menjadi raja di tanah Jawa.


Alangkah terkejut Ki Ageng Giring kala tahu bahwa degan tersebut diminum oleh Ki Ageng Pemanahan, namun beliau bisa menata perasaan, sudah menjadi takdir Tuhan. 


Bahwasanya Ki Ageng Pemanahan kelak akan menurunkan raja di tanah Jawa. Nak tumanak run tumurun, akan menjadi narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati.


Meski begitu, antara keduanya kemudian membuat semacam kesepakatan ; bahwa Rara Lembayung, anak dari Ki Ageng Giring akan dinikahkan dengan Danang Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan yang kelak akan dikenal sebagai Raja Pertama Wangsa Mataram Islam. Sehingga dengan begitu, hajat agar anak keturunannya Ki Ageng Giring menjadi raja di Jawa dapat terpenuhi.


***


Dari pernikahan kedua anak dari sosok-sosok mahsyur tersebut, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Mas Damar, atau kelak lebih dikenal sebagai Joko Umbaran.


Dalam riwayat Mataram disebutkan bahwa Rara Lembayung ini kemudian diasingkan oleh Panembahan Senopati ke wilayah Sada, Gunung Kidul. 


Tidak jelas apa sebabnya, tapi dari cerita-cerita mainstream di kalangan masyarakat menyebutkan bahwa paras Rara Lembayung ini tidaklah “ayu” sehingga dia pun rela, agar suaminya tidak malu, memilih untuk di asingkan. 


Rara Lembayung juga diminta oleh Panembahan Senopati agar merahasiakan sosok ayah kepada anaknya kelak, meski kemudian di usia dewasanya Raden Mas Damar mendesak untuk diberitahu tentang kebenaran mengenai siapa ayahnya.


Ki Ageng Giring yang merasa iba dengan cucunya kemudian memberikan “clue” bahwa Raden Mas Damar musti berjalan menuju arah barat sampai menemukan dua buah beringin yang bersanding, disanalah dia akan menemukan sosok ayahnya, hingga kemudian diketahui bahwa ternyata yang dicari-cari itu adalah raja dari Kerajaan Mataram Islam ; Panembahan Senopati.


Kepada Panembahan Senopati, dia mengaku sebagai anak dari Rara Lembayung dan cucu Ki Ageng Giring. Namun tidak mudah untuk Raden Mas Damar atau Joko Umbaran mendapat pengakuan dari ayahnya tersebut.


Kepadanya, ia diberikan dua syarat untuk ditunaikan agar mendapatkan pengakuan ;


pertama, berupa perintah dan teka-teki mencari warangka (sarung) keris di kediaman ibunya. Disebutkan bahwa setelah sampai di rumah dan menyebutkan perintah tersebut, sang ibu paham, ia berkorban demi pencarian identitas anaknya. Ia kemudian berlari menusukkan dirinya sendiri lalu meninggal. 


kedua, Damar dikirim ke Madiun untuk turut membantu pasukan Mataram dalam misi penaklukan wilayah. Keberhasilannya selama perang membuatnya diakui sebagai anak sekaligus diangkat menjadi pangeran dengan gelar adipati. Ia kemudian menjadi sebagai salah satu panglima perang Mataram.


De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram berpendapat bahwa pemberian nama Purbaya merupakan cara Senopati melegitimasi kekuasaan Mataram atas Madiun. Sebab, Purbaya adalah nama Madiun di masa lampau. Nama Pangeran Purbaya sebagai panglima perang turut disebut De Graaf dalam penyerangan ke Kediri pada 1591 dan 1593. 


***


Sampai akhir hayatnya, Panembahan Purbaya atau Raden Mas Damar atau Joko Umbaran ini mengabdikan dirinya pada empat raja Mataram dari generasi pertama yaitu ; Panembahan Senopati, Mas Jolang, Sultan Agung hingga Amangkurat 1.


Dalam ziarah saya ke pusaranya, tidak banyak yang saya lakukan ; yasin,tahlil, kemudian menutup dengan dialog kepadanya.


Dialog tersebut pada dasarnya pengakuan saya terhadap kewalian dan kesyahidan dirinya, bahwa ia tidaklah mati melainkan tetap terkonekting dengan berbagai realitas dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...