Gus Baha bercerita, bahwa Imam Al Ghazali pernah dikritik banyak ulama semasanya ketika menolak konsep Su'ul Khotimah. Argumen yang beliau sodorkan untuk mengganti hal tersebut adalah konsep Su'ul Shobiqoh alias awal yang buruk.
Sejak dulu, semua takdir tentang baik dan buruk telah diputuskan oleh Allah SWT jauh sebelum kita turun dan lahir sebagai manusia, sehingga saat ini tak ada yang perlu ditakutkan asbab semua telah tertulis soal akhir dari penghidupan kita.
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
Artinya: "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah,"
Keuntungan yang kita dapatkan dari putusan awal ini adalah negosiasi. Ibaratnya, kalau dalam dunia hukum kita bisa mengajukan banding, kasasi atau peninjauan kembali lah istilahnya. "Gusti catatanku yang buruk itu ya mbok bisa diubah jadi baik dong, toh njenengan kan Maha Berkuasa dan itu tidak mengubah keTuhanan Engkau, maka tolong ubah itu Gusti".
Konsep Suul Shobiqoh ini pulalah yang membuat amal-amal seperti silaturahmi memanjangkan umur, sedekah membuat kaya, dan seterusnya itu menjadi masuk akal, sebab mungkin catatan kita diawal buruk dapat direvisi menjadi baik.
***
Namun, apakah hanya cukup dengan khusnul khotimah ?
Bagi saya tidak. Konsep khusnul khotimah hanya cukup bagi kita pribadi sendiri, yang tengah akan berhadapan dengan realitas akhirat, sedangkan kita juga pernah hadir kedunia dan terkoneksi dengan manusia lain secara sosial. Artinya, realitas yang kita tinggalkan bukan berarti menjadi tidak penting, apalagi sepanjang hidup kita mungkin saja menjalin hubungan dengan manusia lainnya entah itu suami/istri, orang tua/anak, teman, sahabat, dan seterusnya.
Sehingga kita perlu memperhatikan cerita-cerita yang baik soal kita, alias konsep "Khusnus Sirroh". Dimana ada semacam kompleksitas yang terkoneksi dengan konsep ini.
Bayangkan misalnya, jika kita wafat dan meninggalkan cerita-cerita yang buruk. Ketika tubuh terbujur kaku, orang-orang sibuk bergunjing tentang keburukan yang pernah kita dilakukan, bahkan sampai tubuh itu masuk kedalam liang lahat dan terbenam disana hingga akhir dunia, orang-orang juga masih mengingat semua keburukan. Akan seberapa tersiksanya kita dengan semua dengungan gema-gema keburukan itu, sedangkan ruh membutuhkan ruang ketenangan dari konekting dunia.
Apa hanya pada diri kita dampak buruknya ? Ya tentu tidak. Istri, anak, saudara, orang tua, dan manusia yang pernah terkoneksi dengan kita, juga kecipratan cerita-cerita buruk itu. Mereka juga ikut digunjingi, dilabeli buruk, difitnah, dan seterusnya dengan cerita buruk yang kita wariskan didunia.
***
Dalam Serial Kepahlawanan (2008), Anis Matta memberikan definisi bahwa pahlawan adalah orang-orang biasa yang berusaha melakukan pekerjaan luar biasa. Artinya, semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi pahlawan. Pekerjaan luar biasa itu, bukan hanya soal memperjuangkan kemerdekaan misalnya, tapi juga pekerjaan mengisi hari-hari pasca kemerdekaan itu diraih.
Semangat kepahlawanan inilah yang saya maksud sebagai manifesto dari konsep Khusnul Khotimah dan Khusnussirroh.
Coba carikan saya, satu saja pahlawan yang memiliki cerita buruk dan tercela?, yang ada kita akan kesulitan menemukannya. Jika pun ada, mungkin yang muncul hanyalah sebatas perdebatan akan sejarah dirinya yang begitu subyektif.
Pahlawan ini sebenarnya bukan gelar, tapi sebentuk pewarisan karakter dan nilai. Semangat kepahlawanan dan nilai-nilai kepahlawanan. Atas dasar semua orang berhak menjadi pahlawan, artinya siapapun anda, apapun pekerjaan anda, semua berhak menjadi pahlawan yang mengakhiri hidupnya dengan kebaikan-kebaikan, dan mengakhir serta mewarisi kematiannya dengan kebaikan pula.
__________
Tabik, Sultan Alam Gilang Kusuma.
Komentar
Posting Komentar