Langsung ke konten utama

Narasi Kepahlawanan : Tidak Hanya Cukup "Khusnul Khotimah" __________

Gus Baha bercerita, bahwa Imam Al Ghazali pernah dikritik banyak ulama semasanya ketika menolak konsep Su'ul Khotimah. Argumen yang beliau sodorkan untuk mengganti hal tersebut adalah konsep Su'ul Shobiqoh alias awal yang buruk. 


Sejak dulu, semua takdir tentang baik dan buruk telah diputuskan oleh Allah SWT jauh sebelum kita turun dan lahir sebagai manusia, sehingga saat ini tak ada yang perlu ditakutkan asbab semua telah tertulis soal akhir dari penghidupan kita.


مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ


Artinya: "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah,"


Keuntungan yang kita dapatkan dari putusan awal ini adalah negosiasi. Ibaratnya, kalau dalam dunia hukum kita bisa mengajukan banding, kasasi atau peninjauan kembali lah istilahnya. "Gusti catatanku yang buruk itu ya mbok bisa diubah jadi baik dong, toh njenengan kan Maha Berkuasa dan itu tidak mengubah keTuhanan Engkau, maka tolong ubah itu Gusti".


Konsep Suul Shobiqoh ini pulalah yang membuat amal-amal seperti silaturahmi memanjangkan umur, sedekah membuat kaya, dan seterusnya itu menjadi masuk akal, sebab mungkin catatan kita diawal buruk dapat direvisi menjadi baik.


***


Namun, apakah hanya cukup dengan khusnul khotimah ?


Bagi saya tidak. Konsep khusnul khotimah hanya cukup bagi kita pribadi sendiri, yang tengah akan berhadapan dengan realitas akhirat, sedangkan kita juga pernah hadir kedunia dan terkoneksi dengan manusia lain secara sosial. Artinya, realitas yang kita tinggalkan bukan berarti menjadi tidak penting, apalagi sepanjang hidup kita mungkin saja menjalin hubungan dengan manusia lainnya entah itu suami/istri, orang tua/anak, teman, sahabat, dan seterusnya.


Sehingga kita perlu memperhatikan cerita-cerita yang baik soal kita, alias konsep "Khusnus Sirroh". Dimana ada semacam kompleksitas yang terkoneksi dengan konsep ini.


Bayangkan misalnya, jika kita wafat dan meninggalkan cerita-cerita yang buruk. Ketika tubuh terbujur kaku, orang-orang sibuk bergunjing tentang keburukan yang pernah kita dilakukan, bahkan sampai tubuh itu masuk kedalam liang lahat dan terbenam disana hingga akhir dunia, orang-orang juga masih mengingat semua keburukan. Akan seberapa tersiksanya kita dengan semua dengungan gema-gema keburukan itu, sedangkan ruh membutuhkan ruang ketenangan dari konekting dunia.


Apa hanya pada diri kita dampak buruknya ? Ya tentu tidak. Istri, anak, saudara, orang tua, dan manusia yang pernah terkoneksi dengan kita, juga kecipratan cerita-cerita buruk itu. Mereka juga ikut digunjingi, dilabeli buruk, difitnah, dan seterusnya dengan cerita buruk yang kita wariskan didunia.


***


Dalam Serial Kepahlawanan (2008), Anis Matta memberikan definisi bahwa pahlawan adalah orang-orang biasa yang berusaha melakukan pekerjaan luar biasa. Artinya, semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi pahlawan. Pekerjaan luar biasa itu, bukan hanya soal memperjuangkan kemerdekaan misalnya, tapi juga pekerjaan mengisi hari-hari pasca kemerdekaan itu diraih.


Semangat kepahlawanan inilah yang saya maksud sebagai manifesto dari konsep Khusnul Khotimah dan Khusnussirroh.


Coba carikan saya, satu saja pahlawan yang memiliki cerita buruk dan tercela?, yang ada kita akan kesulitan menemukannya. Jika pun ada, mungkin yang muncul hanyalah sebatas perdebatan akan sejarah dirinya yang begitu subyektif.


Pahlawan ini sebenarnya bukan gelar, tapi sebentuk pewarisan karakter dan nilai. Semangat kepahlawanan dan nilai-nilai kepahlawanan. Atas dasar semua orang berhak menjadi pahlawan, artinya siapapun anda, apapun pekerjaan anda, semua berhak menjadi pahlawan yang mengakhiri hidupnya dengan kebaikan-kebaikan, dan mengakhir serta mewarisi kematiannya dengan kebaikan pula.


__________


Tabik, Sultan Alam Gilang Kusuma.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...