Langsung ke konten utama

PKS Tanpa Anies

Setelah Deklarasi AB-Cak Imin di Surabaya beberapa waktu lalu, tanpa kehadiran satupun perwakilan PKS, muncul pertanyaan di benak banyak orang, bahwa jika PKS memutuskan keluar dari koalisi dan menarik dukungan ke AB, bisakah PKS itu tanpa Anies?.


Jawaban dari pertanyaan itu justru dengan pertanyaan baru. 


Jika tanpa PKS, apakah AB akan tetap berlayar? dan bila disertai PKS, seberapa butuh Nasdem-PKB dengan kehadiran partai berwarna orange tersebut dalam koalisinya?.


Semakin rumit, tapi mari membedahnya satu-persatu.


Anies Baswedan, dengan atau tanpa PKS, sudah barang tentu akan tetap berlayar, pertama, karena yang pertama kali mengusungnya adalah Nasdem, kedua, kehadiran PKB telah dapat menggantikan posisi Demokrat dan PKS sekaligus.


Ceruk Islam yang awalnya diharapkan datang dari PKS, kini tidak lagi bertumpu melalui alasan itu. PKS dianggap mewakili Islam Kanan dan persentasi jaringan itu tidak banyak, berbeda dengan PKB yang dianggap mewakili persentasi Islam Tradisional atau kalangan Nahdliyyin, sebuah jaringan mayoritas pada kalangan masyarakat Islam Indonesia. 


Kalaupun tetap ingin meraup suara Islam Kanan, kehadiran Partai Ummat yang juga mendukung AB rasa-rasanya sudah mewakili urusan kerja itu.


Berikutnya, Ahmad Ali, Waketum Partai Nasdem beberapa waktu lalu juga memberikan statement untuk mempersilahkan PKS meninggalkan koalisi bila benar menginginkan hal itu.


Artinya, PKS tidak lagi punya daya tawar tinggi di dalam koalisi sebagaimana sebelumnya. 


Bagi Nasdem, kehadiran PKB sudah cukup, bagi dari segi pemenuhan 20% Parliamentary Treshold ataupun alasan-alasan strategis lain.


Dan bagi PKB, kehadiran PKS juga jadi ganjalan sebenarnya. Baik secara ideologis, dimana masing-masing dari mereka telah punya gelar tersendiri, PKS Wahabi dan PKB Ahlul Bid’ah. 


Atau dari segi bagi-bagi kue kedepannya nanti, akan semakin kompleks urusan bagi kue bila pesertanya terlalu banyak, semakin sedikit, semakin baik.


Lantas, jika demikian, bagaimana nasib PKS bila bersikukuh masuk dalam koalisi Nasdem-PKB ?


Ada beberapa kemungkinan tentunya,


Pertama, PKS kehilangan banyak probability yang sebelum ini menjadi titik tawar dalam koalisi. Dan kedepan hanya akan dianggap cadangan-cadangan yang memang dalam tanda kutip tidak dibutuhkan.


Kedua, dalam urusan bagi kue, mungkin hanya akan menerima remahan-remahan diujung piring, atau bahkan yang jatuh saja, ini kasihan sekali.


Lalu, bila tanpa Anies, bisakah PKS berlayar ?


Jawabannya bisa jadi. 


Pertama, bergabung dengan koalisi lain yang telah ada. PKS punya sejarah panjang dengan Prabowo di dua pemilu sebelumnya, bahkan mungkin PS akan sangat berbahagia bila kawan lamanya itu kembali pulang, CLBK.


Ganjalannya mungkin satu hal, Gelora. Partai anyar yang konon adalah residu dari konflik internal di PKS itu sendiri. Tapi ini persoalan kecil saja, mungkin usaha meng-islahkan dua faksi dalam tubuh tarbiyah bisa dijembatani oleh Prabowo.


Kalau berkoalisi dengan PDIP, agaknya ini yang sulit, baik secara ideologis atau historis. Masih mending PKS memaksakan diri koalisi dengan PKB ketimbang PDIP, mungkin lho ya. 


Sebab dengar-dengar dulu, pernah ada seletingan bahwa 2014 lalu, PKS pernah sowan Istana untuk “Kulo Nyuwun” masuk dalam Kabinet Presiden Jokowi, namun ditolak mentah-mentah oleh PDIP.


Langkah keduanya dan mungkin ini alternatif yang paling radikal, dengan membangun poros baru bersama sisa-sisa partai lain yang masih sama-sama jomblo seperti Demokrat, dan juga beberapa partai lain yang masih dalam gonjang-ganjing “perebutan cawapres”.


Cuma masalahnya, mereka harus gerak cepat, waktu tersisa satu bulan lagi, karena wacana Pendaftaran Capres Cawapres yang kononnya akan di percepat. Adagium “Belanda masih jauh” agaknya tidak lagi berlaku sekarang.


Dan bila mengambil langkah ini, tentu ada konsekuensi moral bagi PKS sendiri, terutama grass root yang selama ini adalah “AB garis keras” tentu akan kecewa dan mungkin bisa saja berdampak pada elektabilitas PKS yang kononnya terdongkrak naik karena coctail efect Anies Baswedan.


Tapi, segalanya perlu pengorbanan, dan itu diawali dari langkah-langkah yang memang berat. 


Selamat Mencoba!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...