Netizen tampak kaget ketika perolehan suara komedian Komeng di Pemilihan Anggota DPD melejit. Angkanya fantastis, mengalahkan Capres Ganjar Pranowo di Dapil Jawa Barat.
Fenemona ini dibedah banyak orang. Ada yang bilang bahwa sejak lama Komeng memang dikenal sebagai komedian kawakan, sehingga dia tak perlu berkampanye lagi lewat APK, media sosial, atau jumpa-jumpa masyarakat.
Tapi nampaknya penjelasan itu tidak relevan dengan beberapa orang komedian kawakan, artis terkenal dan publik figur yang gagal melenggang ke Senayan pada Pemilu 2024 ini.
Ada juga yang berpendapat bahwa Komeng menjadi simbol segar atas kejumudan proses politik di negeri ini. Orang-orang yang mengaku serius akan mengurus negara dengan menjadi wakil rakyat, justru tampil penuh kelucuan layaknya para komedian di Senayan sana. Sehingga, voters berpikir, mending sekalian milih pelawak untuk ke Senayan, siapa tahu dia jadi antitesa wakil rakyat hari ini.
Pendapat ini bisa jadi benar bisa jadi juga tidak. Sebab, rasionalisasi pemilih pada dasarnya mencari sosok yang benar dapat bekerja dan memberikan dampak bagi kehidupan mereka sebagai rakyat. Kalau sekadar simbolisasi kejenuhan dan masyarakat tak peduli dengan sosok wakilnya, artinya kita menegasikan bahwa pemilih juga punya akal pertimbangan.
Lantas, dengan cara apa Komeng menyihir para voters untuk memilihnya, sedangkan disatu sisi kerja pemenangannya tidak masif ?
Iklan Shoope COD dan Psikologis Masyarakat
Menurut laporan terbaru We Are Social, jumlah pengguna YouTube di Indonesia mencapai 139 juta per Oktober 2023. Ini membuat Indonesia menjadi negara keempat dengan pengguna YouTube terbanyak di dunia.
Pada aturan terbarunya, iklan ditampilkan sebagai jeda pada tontonan. Di Indonesia, salah satu iklan yang paling banyak muncul adalah Shoope.
Coba perhatikan, dalam laman Instagram Komeng sendiri, orang banyak heran sebab dia tak sedikitpun mengirim postingan kampanye, melainkan iklan Shoope COD yang sering kita lihat di Youtube berkali-kali dan mungkin platform lain.
Ini rahasia Komeng. Dia tak perlu keluar uang, sebab secara tidak langsung masyarakat mengingat wajah seorang komedian itu lewat iklan Shoope yang tampil di tontonan kita berkali-kali itu.
Dia kertas suarapun, foto yang ditampilkan agak nyeleneh, itu sebanding dengan gerak-geriknya di iklan itu, muka miring nyeleneh, wajah gembira serta riang. Dan perlu di ingat, kertas suara DPD memuat foto calonnya, berbeda dengan DPR/DPRD yang hanya memuat nama dan nomor.
Komeng mengerti, bahwa voters kita ini bermain dengan perasaan. Lebih banyak yang perlu tersihir lewat psikologis ketimbang harus berkutat dengan cara-cara lama yang mahal dan merepotkan. Berkali-kali melihat wajah Komeng di iklan Shoope, bisa jadi mengeduk alam bawah sadar para pemilih di Jawa Barat.
Diksi yang tertera pada iklan itupun menarik, tertera "buka paketnya, cek dulu". Ini bahasa ajakan secara tidak langsung. Ibaratnya, buka kertas suara, cek dulu yang wajahnya paling kamu familiar, dan itu Komeng.
Pelajaran pada Caleg
Fenomena Komeng semestinya menjadi pelajaran bagi para caleg. Kemampuan memahami masyarakat dan memikatnya, tidak harus lewat cara-cara seperti money politics atau lewat broker yang kian menjamur dimasa pemilu.
Lihat misalnya, Komeng secara sadar dapat membedakan bahwa surat suara DPR/DPRD dengan DPD itu berbeda. Di DPD, foto si calon ditampang disana dengan berbagai modelnya. Maka, perlu penyesuaian cara agar voters memahami ini.
Berbeda dengan DPR/DPRD, yang tertera hanya nama dan nomor, itu kecil dan susah dilihat. Tapi kebanyakan caleg malah sibuk masangin fotonya di APK dengan ukuran besar tak terkira, malah ada yang naruh curicullum vitae nya disana. Entah, mungkin dianggapnya jadi caleg itu adalah melamar pekerjaan.
Komentar
Posting Komentar