Satu waktu saya bertemu seorang penulis yang begitu produktif menghasilkan karya buku, dan tak hanya menulis, dia juga mendirikan sebuah usaha penerbitan buku.
Mungkin sebagian besar dari kita hari ini, mengatakan bahwa orang-orang yang mau membaca buku itu sedikit sekali, apalagi yang bentuknya cetak dan tentu saja ini berdampak pada para pelaku usaha dunia perbukuan, satu diantara yang telah terdepak adalah Toko Buku Gunung Agung.
Orang-orang lantas berujar bahwa ini adalah akibat dari perubahan, disrupsi yang mengubah minat orang dalam urusan baca-membaca. Sebagian besar orang sudah tidak lagi memerlukan kerja pelik mencari informasi lewat buku-buku fisik, melainkan kecanggihan teknologi semisal Google dan sebagiannya telah menggantikan itu. Kalaupun ada yang berminat baca buku, paling-paling lewat ebook, lebih praktis mudah dan murah.
Kasus TB Gunung Agung sebelumnya oleh beberapa pakar disebutkan alasannya bahwa mereka gagal bertransformasi ke going digital, sebagaimana kecenderungan pasar membutuhkan itu.
Namun benarkah demikian adanya ?
Kembali ke teman saya yang penulis tadi, dia menceritakan bahwa perlu usaha extra dalam mencari konsumen. Mereka juga mengikuti saran-saran para pakar marketing untuk mulai going digital, salah satunya menggunakan digital marketing atau adsense, fitur yang biasanya ada di tiap-tiap media sosial.
Apakah transformasi itu membuat usaha bukunya semakin maju dan jaya ? dengan tegas dia berkata tidak. Sebaliknya, mereka harus mati-matian menguras ide tentang model seperti apa marketing digital ini dilakukan untuk menarik minat konsumen.
Sampai kemudian dia berujar untuk kembali ke cara-cara konvensional sebelumnya, dengan tetap memahami “apa maunya” konsumen dalam variable minat buku.
***
Cerita teman saya yang penulis tadi memperlihatkan bahwa tidak selamanya yang disebut sebagai “going digital” menjadi jawaban di era dunia yang berlari ini.
Jika dikatakan TB Gunung Agung tutup karena orang sudah tidak membeli buku, justru pada realitas lain ada data yang merekam ternyata minat baca masyarakat justru semakin tinggi.
Artinya, yang perlu dipahami bukanlah teknologinya, tapi keteraturan manusianya.
Jebakan sturkturalis yang menganggap bahwa manusia adalah makhluk statis dan terbelenggu tindakan-sikap-perilakunya berdasarkan atribut, membuat kita mengabaikan kompleksitas manusia yang subyektif itu.
Lalu bagaimana misalnya menghadapi ini, tentu saja dengan cara berpikir yang benar terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.
Going digital bukan berarti tidak benar atau salah, tapi menempatkan mereka sebagai sarana adalah sesuatu yang tepat. Berikutnya yang perlu dipahami adalah bagaimana keteraturan manusia hari ini.
Eipstein (1961) dan Mitchel (1969) dalam Rudy Agusyanto (2020) mengusulkan tentang kerangka berpikir keteraturan personal, dimana perilaku orang-orang, di dalam situasi yang terstruktur maupun yang tidak bisa di interpretasikan ke dalam pengertian ikatan-ikatan personal yang dimiliki seorang individu dengan orang lain.
Dalam hal ini, saya ingin bercerita lagi seorang teman yang juga penulis, tapi begitu cerdik menghadapi dan memahami perubahan pada pasar buku.
Dia hanya menulis by request, maksudnya, dia terkoneksi pada satu individu yang menjadi simpul jaringan sosial yang luas dan besar lalu menawarkan untuk menulis buku sesuai request. Kecerdikan ini akhirnya melariskan buku-bukunya hanya pada market yang dia inginkan, dan yang dia tulis adalah apa yang market inginkan, tanpa perlu misalnya bersusah payah melakukan marketing digital dengan asumsi struktural-kategorikal.
Tabik.
__________
Sultan Alam Gilang Kusuma
Komentar
Posting Komentar