Langsung ke konten utama

Pesona Kecepatan : Memaknai Ulang Era Disrupsi (4)

Kemajuan teknologi komunikasi berbasis internet oleh Castels dianggap mempengaruhi struktur sosial masyarakat, denga kata lain, manusia-lah yang berubah dan berhasil diubah di era perubahan ini.


Lantas, benarkah demikian ?


Kita bisa mulai dengan mengambil contoh Pemilu 2019 yang lalu, ketika ramai informasi yang beredar di media sosial bahwa PDI Perjuangan adalah partai antek-antek PKI.


PKI tentu saja telah dilarang di Indonesia, konstruksi cerita tentang jejak berdarah PKI di Indonesia memungkinkan bagi semua orang enggan dan jijik terhadap realitas keberadaan PKI.


Lantas, apakah kemudian PDI Perjuangan terlempar dari gelanggang kemenangan Pileg ?


Data rekapitulasi suara pada 2019 lalu sebagaimana yang diumukan KPU menyatakan bahwa PDI Perjuangan memperoleh 19,33% suara atau sekitar 27 juta lebih rakyat Indonesia memilihnya.


Lantas bagaimana kita menjawab fenomena seperti ini ? bukankah PKI dibenci oleh seluruh rakyat Indonesia, dan bila PDI Perjuangan dianggap representasi PKI reborn, kenapa pula banyak yang masih memilihnya ? Apakah kemudian 27 juta orang itu dapat disebut antek-antek PKI ?


***


Disinilah kita dapat melihat bolongnya kesimpulan Castels dalam melihat perkembangan dan perubahan ini.


Kita telah memahami bahwa realita adalah kata-kata. Tapi apakah keberADAnnya itu dianggap kebenaran bagi semua orang ?


Dengan kata lain, konstruksi yang dibangun lewat media sosial itu tidak seluruhnya diamini oleh semua orang. Manusia sebagai pelaku tunggal dalam cerita kosmos ini, terpengaruh oleh kebenaran jaringan yang dimana dia hidup didalamnya. Teknologi, secanggih apapun, hanyalah sarana, manusia yag memutuskan tindakan-sikap-perilakunya dan tata nilai dalam proses hidupnya.


Thomas Kuhn, mengungkapan bahwa realitas adalah sesuatu yang dikonstruksi oleh sosial, tapi bukan berarti semua yang dikonstruksi itu akan berlaku pada semua jaringan sosial.


Masyarakat yang dipandang dalam bentuk jaringan-jaringan, oleh Rudy Agusyanto (2020) disebutkan tiap-tiap rangkaian itu terhubung dan terkoneksia oleh konten. 


Konten yang ada pada jaringan sosial A, belum tentu ada dan diamini oleh jaringan sosial B,C, dan D. 


Pesona kecepatan yang dihasilkan oleh teknologi mikroelektronika, lagi-lagi membuat gagap banya orang dalam memahami ini. Ramai pihak yang tiba-tiba menyerukan going digital ata digitalisasi kehidupan, membuat seakan-akan yang disebut digital itu mempengaruhi manusia, bukan sebaliknya.


Tabik


_________


Sultan Alam Gilang Kusuma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...