Kemajuan teknologi komunikasi berbasis internet oleh Castels dianggap mempengaruhi struktur sosial masyarakat, denga kata lain, manusia-lah yang berubah dan berhasil diubah di era perubahan ini.
Lantas, benarkah demikian ?
Kita bisa mulai dengan mengambil contoh Pemilu 2019 yang lalu, ketika ramai informasi yang beredar di media sosial bahwa PDI Perjuangan adalah partai antek-antek PKI.
PKI tentu saja telah dilarang di Indonesia, konstruksi cerita tentang jejak berdarah PKI di Indonesia memungkinkan bagi semua orang enggan dan jijik terhadap realitas keberadaan PKI.
Lantas, apakah kemudian PDI Perjuangan terlempar dari gelanggang kemenangan Pileg ?
Data rekapitulasi suara pada 2019 lalu sebagaimana yang diumukan KPU menyatakan bahwa PDI Perjuangan memperoleh 19,33% suara atau sekitar 27 juta lebih rakyat Indonesia memilihnya.
Lantas bagaimana kita menjawab fenomena seperti ini ? bukankah PKI dibenci oleh seluruh rakyat Indonesia, dan bila PDI Perjuangan dianggap representasi PKI reborn, kenapa pula banyak yang masih memilihnya ? Apakah kemudian 27 juta orang itu dapat disebut antek-antek PKI ?
***
Disinilah kita dapat melihat bolongnya kesimpulan Castels dalam melihat perkembangan dan perubahan ini.
Kita telah memahami bahwa realita adalah kata-kata. Tapi apakah keberADAnnya itu dianggap kebenaran bagi semua orang ?
Dengan kata lain, konstruksi yang dibangun lewat media sosial itu tidak seluruhnya diamini oleh semua orang. Manusia sebagai pelaku tunggal dalam cerita kosmos ini, terpengaruh oleh kebenaran jaringan yang dimana dia hidup didalamnya. Teknologi, secanggih apapun, hanyalah sarana, manusia yag memutuskan tindakan-sikap-perilakunya dan tata nilai dalam proses hidupnya.
Thomas Kuhn, mengungkapan bahwa realitas adalah sesuatu yang dikonstruksi oleh sosial, tapi bukan berarti semua yang dikonstruksi itu akan berlaku pada semua jaringan sosial.
Masyarakat yang dipandang dalam bentuk jaringan-jaringan, oleh Rudy Agusyanto (2020) disebutkan tiap-tiap rangkaian itu terhubung dan terkoneksia oleh konten.
Konten yang ada pada jaringan sosial A, belum tentu ada dan diamini oleh jaringan sosial B,C, dan D.
Pesona kecepatan yang dihasilkan oleh teknologi mikroelektronika, lagi-lagi membuat gagap banya orang dalam memahami ini. Ramai pihak yang tiba-tiba menyerukan going digital ata digitalisasi kehidupan, membuat seakan-akan yang disebut digital itu mempengaruhi manusia, bukan sebaliknya.
Tabik
_________
Sultan Alam Gilang Kusuma
Komentar
Posting Komentar