Langsung ke konten utama

Pesona Kecepatan : Memaknai Ulang Era Disrupsi (6)

Penyederhanaan yang dilakukan oleh sebagian besar intelektual dengan menyebut perubahan sebagai konsekuensi dari gerak dan dinamika kehidupan yang sangat cepat akhirnya berdampak pada terjebaknya kita dalam memahami konteks sosial masyarakat.


Padahal sejak dulu, dunia memang bergerak, cepat atau lambat. Namun pemaknaan atas cepat lambat inilah yang penting untuk digali, bahwa apa keteraturan yang terjadi disebaliknya, bukan menyederhanakannya seakan-akan unpredictable. 


Senyatanya, kecepatan itu konstruksi manusia, bahwa merekalah yang menjadi subjek didalamnya. Waktu-gerak dan kecepatan sesungguhnya tidak pernah berubah, adakah misalnya kita lihat jarum jam bergerak lebih cepat ?


Maka, letak pesona dari kecepatan adalah pada “rasa” manusia. Lihatlah misalnya ketika banyak orang mengeluh tentang “kok semakin hari rasanya waktu berjalan cepat ya?” atau ketika sedang puasa orang menyebut “kok rasanya waktu maghrib ini lama sekali ya ?”


Yang celaka adalah, misalnya ketika orang-orang ini muncul dengan membawa narasi kambing hitam, bahwa generasi “muda” dianggap punya kecenderungan yang super serius terhadap kemajuan teknologi informatika dan kehadiran kecepatan ini merubah manusia.


Ambil contoh misalnya kehadiran Gojek, sebuah aplikasi ojek online yang seakan-akan mereduksi usaha ojek pangkalan yang selama ini ada, dan para analis yang berbasiskan struktural fungsional tradisionalis akan melihat dan memberikan kategori orang-orang yang memilih gojek yaitu para pekerja, anak muda, dan seterusnya.


Namun disisi yang lain, kita juga melihat ada kecenderungan orang-orang juga banyak yang membeli kendaraan pribadi sendiri, atau memilih menggunakan transportasi umum.


Jadi seakan-akan kehadiran “kecepatan” ini membuat ada masyarakat yang semakin susah dalam hal ini para ojek pangkalan, tapi ada semakin mudah seperti para driver gojek.


Lantas bagaimana memahaminya ? 


Sebagaimana seri-seri tulisan sebelumnya, bahwa pada dasarnya teknologi yang menghasilkan semacam pesona kecepatan ini tidak lain hanyalah sebatas sarana. Rudy Agusyanto (2020) menyebutkan bahwa kembali pada manusialah yang memutuskan tindakan-sikap-perilaku atas teknologi tersebut dalam kehidupannya.


Pilihan-pilihan semacam ini adalah keniscayaan dan manusia sendirilah yang memutuskan preferensi mana yang dia inginkan dalam menjalani hidup.


Asumsi kategorikal-strukturalis datang dengan menyederhanakan struktur sosial yang begitu kompleks, berimbas pada memandang manusia berdasarkan kategori, dan kategori inilah yang mempengaruhi preferensi hidupnya berdasarkan atribut sosial yang dia miliki. 


Teknologi dianggap berulah dalam perubahan manusia, padahal nyatanya cerita tentang manusia ini juga kembali pada asal yang sama, yaitu segala hal nya manusialah yang menentukan.


Ketakutan misalnya dengan kehadiran Gojek seakan-akan menyangsikan manusia yang selalu reflektif dan cenderung tidak patuh pada budaya-normal-nilai yang umum. Juga lebih parah, mengesampingkan realitas-realitas lain yang justru tumbuh beriringan.


Ojek pangkalan bisa saja mendaftar menjadi driver ojek online yang bukan gojek untuk terus mendapatkan konsumen, atau dia memilih mangkal di dekat pasar misalnya. 


Para konsumen juga bisa memilih, menggunakan kendaraan pribadi, naik ojek, atau kendaraan umum. Pilihan-pilihan ini kembali pada manusia.


Pesona atas kecepatan tidak selalu bermakna tak menentu, sebab manusia yang menulis semua cerita ini dapat dibaca keteraturannya, pada konten apa misalnya dia memilih ojek online, dan seterusnya.


Tabik.


__________


Sultan Alam Gilang Kusuma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...