Penyederhanaan yang dilakukan oleh sebagian besar intelektual dengan menyebut perubahan sebagai konsekuensi dari gerak dan dinamika kehidupan yang sangat cepat akhirnya berdampak pada terjebaknya kita dalam memahami konteks sosial masyarakat.
Padahal sejak dulu, dunia memang bergerak, cepat atau lambat. Namun pemaknaan atas cepat lambat inilah yang penting untuk digali, bahwa apa keteraturan yang terjadi disebaliknya, bukan menyederhanakannya seakan-akan unpredictable.
Senyatanya, kecepatan itu konstruksi manusia, bahwa merekalah yang menjadi subjek didalamnya. Waktu-gerak dan kecepatan sesungguhnya tidak pernah berubah, adakah misalnya kita lihat jarum jam bergerak lebih cepat ?
Maka, letak pesona dari kecepatan adalah pada “rasa” manusia. Lihatlah misalnya ketika banyak orang mengeluh tentang “kok semakin hari rasanya waktu berjalan cepat ya?” atau ketika sedang puasa orang menyebut “kok rasanya waktu maghrib ini lama sekali ya ?”
Yang celaka adalah, misalnya ketika orang-orang ini muncul dengan membawa narasi kambing hitam, bahwa generasi “muda” dianggap punya kecenderungan yang super serius terhadap kemajuan teknologi informatika dan kehadiran kecepatan ini merubah manusia.
Ambil contoh misalnya kehadiran Gojek, sebuah aplikasi ojek online yang seakan-akan mereduksi usaha ojek pangkalan yang selama ini ada, dan para analis yang berbasiskan struktural fungsional tradisionalis akan melihat dan memberikan kategori orang-orang yang memilih gojek yaitu para pekerja, anak muda, dan seterusnya.
Namun disisi yang lain, kita juga melihat ada kecenderungan orang-orang juga banyak yang membeli kendaraan pribadi sendiri, atau memilih menggunakan transportasi umum.
Jadi seakan-akan kehadiran “kecepatan” ini membuat ada masyarakat yang semakin susah dalam hal ini para ojek pangkalan, tapi ada semakin mudah seperti para driver gojek.
Lantas bagaimana memahaminya ?
Sebagaimana seri-seri tulisan sebelumnya, bahwa pada dasarnya teknologi yang menghasilkan semacam pesona kecepatan ini tidak lain hanyalah sebatas sarana. Rudy Agusyanto (2020) menyebutkan bahwa kembali pada manusialah yang memutuskan tindakan-sikap-perilaku atas teknologi tersebut dalam kehidupannya.
Pilihan-pilihan semacam ini adalah keniscayaan dan manusia sendirilah yang memutuskan preferensi mana yang dia inginkan dalam menjalani hidup.
Asumsi kategorikal-strukturalis datang dengan menyederhanakan struktur sosial yang begitu kompleks, berimbas pada memandang manusia berdasarkan kategori, dan kategori inilah yang mempengaruhi preferensi hidupnya berdasarkan atribut sosial yang dia miliki.
Teknologi dianggap berulah dalam perubahan manusia, padahal nyatanya cerita tentang manusia ini juga kembali pada asal yang sama, yaitu segala hal nya manusialah yang menentukan.
Ketakutan misalnya dengan kehadiran Gojek seakan-akan menyangsikan manusia yang selalu reflektif dan cenderung tidak patuh pada budaya-normal-nilai yang umum. Juga lebih parah, mengesampingkan realitas-realitas lain yang justru tumbuh beriringan.
Ojek pangkalan bisa saja mendaftar menjadi driver ojek online yang bukan gojek untuk terus mendapatkan konsumen, atau dia memilih mangkal di dekat pasar misalnya.
Para konsumen juga bisa memilih, menggunakan kendaraan pribadi, naik ojek, atau kendaraan umum. Pilihan-pilihan ini kembali pada manusia.
Pesona atas kecepatan tidak selalu bermakna tak menentu, sebab manusia yang menulis semua cerita ini dapat dibaca keteraturannya, pada konten apa misalnya dia memilih ojek online, dan seterusnya.
Tabik.
__________
Sultan Alam Gilang Kusuma
Komentar
Posting Komentar