Langsung ke konten utama

TAHU MERASA

Sebagai seorang yang fokus pada studi Hubungan Internasional saya termasuk yang percaya bahwa kompleksitas hubungan antar aktor non-state belakangan ini telah menggerus relevansi dari nation-state itu sendiri. 


Ada banyak tulisan yang saya buat, khusus untuk mengkritik negara, sekaligus menekankan bahwa kehadirannya hari ini tidaklah penting-penting amat.


Oleh sebab itu, banyak teman yang menyindir, ketika dengan terang-terangan saya rajin mengkritik Jokowi sepasca putusan Mahkamah Konstitusi tentang batasan umur Capres-Cawapres. Kok masih ngurusin negara ? kan katanya ndak perlu negara, demikian ujar beberapa dari mereka.


Ya, negara memang tidak lagi relevan, tapi sayangnya realitas hidup di bawah kuasa negara itu masih harus saya jalani sampai sekarang, entah sampai kapan tidak ada yang tahu pasti. Bisa jadi anak cucu pun masih merasai.


***


Dan sialnya, hari ini generasi saya harus menjalani masa dimana penguasa yang bertahta atas nama negara itu, menggunakan pinjaman privilege kekuasan untuk mencapai hasrat-hasrat pribadi dan keluarganya.


Tak hanya itu sebenarnya, drama-drama politik yang diproduksi oleh sang penguasa pun benar-benar bikin muak lahir batin. Kita digiring kesana kemari hanya untuk melihat bahwa ‘sang anaklah’ penerus hasrat kuasanya yang gagal diperpanjang.


Belum lagi kelakuan para elite pendukungnya, dus! tiada tanding lucunya ketika mereka menjadi bebek-bebek yang saling mengekor pada induk kuasa. Mangut-mangut seperti lele, apapun kata si penguasa, mereka yang sepintar apapun hanya bilang ; siap pak! laksanakan.


***


Saya tidak bicara tentang pribadi orangnya, mau tua atau muda, semua sama dan berhak. Yang amat kita muakkan lagi-lagi adalah cara, proses, dan niat disebaliknya.


Kalau sebelum berkuasa sudah serampangan, segampangan, seenakkan melakukan hal yang kiranya tak beretika semacam itu, apatah lagi bila sudah berkuasa ? belum dapat saya bayangkan.


***


Sebuah tulisan Prof Yudi Latif bertajuk ‘Tahu Merasa Bukan Merasa Tahu’ amat menyentuh pikiran saya.


Seharusnya pemimpin dengan karakter demikianlah yang kita punya, yang tahu merasa. Merasa bahwa cara yang dia pakai untuk berkuasa adalah salah, bukannya merasa tahu bahwa rakyat bisa dengan mudah dibodohi sehingga menggunakan kekuasaan untuk mengintervensi konstitusi lantas memuluskan jalan nafsu. Tidak, tidak seperti itu.


Kita, terutama si penguasa dan teman-temannya, perlu mengingat-ingat kembali 5 falsafah Jawa yang amat terkenal ;


Lamun sira sekti, ojo mateni. Artinya "meskipun kamu sakti, jangan sekali-kali menjatuhkan".


Kedua adalah lamun siro banter, ojo ndhisiki. Artinya "meskipun kamu cepat, jangan selalu mendahului". 


Ketiga yaitu lamun sira pinter, ojo minteri yang maknanya "meskipun kamu pintar, jangan sok pintar".

     

Lamun sira landep, ojo natoni yang artinya “meskipun kamu tajam, jangan sampai melukai”


Lamun sira kuasa, ojo adigang adigung adiguno, maksudnya “meskipun berkuasa, jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti”.


***


Semoga, Tuhan menjaga ibu pertiwi, yang kasihnya tiada henti. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.


Sultan Alam Gilang Kusuma 

(Satu dari 60% pemilih pemula)


__________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...