Sejak begitu akrab dengan dunia internet, rasa-rasanya durasi menjelajah saya setiap hari sangat tinggi. Bahkan bisa seharian biasanya berkutat didepan layar smartphone dan laptop hanya untuk mencari tahu berbagai hal diatas muka bumi ini. Sebab inilah disalah satu literatur saya bertemu tokoh bernama Sherlock Holmes ini.
Begitu saya tahu bahwa dia adalah tokoh fiksi gubahan Sir Arthur Conan Doyle seorang novelis sekaligus juga detektif, setumpuk buku dikeranjang belanja tokopedia penuh dengan judul-judul serial novel Sherlock. Tak hanya berhenti pada membaca bukunya, berlangganan netflix juga salah satunya agar bisa menonton serial filmnya, baik yang dibuat berseri atau premiere film.
Ada satu hal yang menarik bagi saya ketika menelisik jauh kisah-kisah detektif yang tinggal di Baker Street ini. Science Deduktif, ya... dia menamakan metode identifikasi kasus-kasusnya dengan itu yang artinya secara garis besar Holmes menganulir jauh metode deduksi.
Deduksi ini biasanya saya temukan dalam pelajaran bahasa, paragraf deduksi yaitu generalisir dari hal-hal spesifik, atau lebih lanjut mengumpulkan teori-teori, asumsi-asumsi untuk kemudian dirangkai dalam satu konfirmasi riset.
Namun semalam, dini hari, saya mencoba berdiskusi bersama salah satu mentor terbaik tentang deduksi ini dan blekk, bukan main, akhirnya saya paham lebih lanjut bagaimana deduktif menjadi salah satu metode reasoning yang dipakai dalam banyak aktivitas riset.
Pada dasarnya, deduktif lebih banyak melibatkan aksioma-aksioma yang kemudian justru menyerangnya sebagai salah satu pijakan orang-orang positivisme.
Nalar deduktif umumnya berangkat dari aksioma-aksioma logis atau premis-premis universal. Contoh dalam bentuk silogisme yang paling sering dipakai: Semua manusia fana; Sokrates adalah manusia; maka Sokrates fana.
Tapi kenapa justru harus ditanyakan ? Sebab semua realitas yg dihasilkan oleh nalar deduktif adalah premis, tidak perlu lagi dipertanyakan.
Lebih-lebih lagi, jika deduktif kemudian menggiring kita untuk hidup terlebih dahulu dalam banyak teori sebelum konfirmasi atas sebuah realitas, maka cocoklah kritik seorang antropolog bahwa nalar ini akan menghidupkan banyak nabi-nabi baru dalam khazanah keilmuan. Orang akan mempertanyakan keabsahan realitas kita dengan berdasar teori siapa ?
Untuk itulah, kemudian muncul orang-orang dengan metode reasoning yang berbeda yaitu induktif research. Yang mendorong untuk menyuguhkan data sesungguhnya lewat riset lapangan.
Sayangnya, banyak hal-hal spesifik dari riset menggunakan nalaf induktif ini kemudian digeneralisasi sehingga kembali merusak realitas dan kaidah yang semestinya.
Demikian kuliah singkat logika pada hari ini. Untuk menambah kosakata dari peristilahan manthiq: deduksi bisa disebut “qiyas” (ini dalam bahasa Arab klasik [bedakan dari qiyas dalam ushulul-fiqh]; bahasa Arab kontemporer kadang menyebutnya “istintaj”). Induksi adalah “istiqra”. Abduksi adalah “ikhtithaf”.
Komentar
Posting Komentar