Keruntuhan yang terjadi pada sekat-sekat jarak geografis dan atribut sosial bikin melongo banyak orang. Kebingungan itu lantas disederhanakan dengan menyebutnya sebagai disrupsi.
Tapi, ternyata kerangka berpikir banyak orang tidak bertaubat dari jebakan sebelumnya. Justru bertambah akut, dengan membuat asumsi-asumsi yang menyatakan bahwa struktur sosial telah berubah seiring pengaruh kemajuan media komunikasi pada tindakan-sikap-perilaku manusia.
Mari melihat contoh kembali, masih seputar dunia politik tentunya.
***
Pasca Badan Pusat Statistik merilis sebuah data yang memuat laporan tingkat pendidikan masyarakat Indonesia, muncul pula sebuah riset yang coba melihat data tersebut dengan mengkonversinya ke dalam teori perilaku pemilih.
BPS menyebutkan bahwa penduduk Indonesia di dominasi oleh mereka yang berpendidkan rendah. 61% tidak tamat atau sebatas lulus SD, 30% yang tamat pendidikan menengah, dan hanya 9% yang lulus perguruan tinggi.
Lantas, riset tersebut menyimpulkan bahwa, dengan demikian pada pemilu 2024 para pemilih akan didominasi oleh emotional voters.
Perlu diketahui, bahwa tipe pemilih oleh sebuah teori dibagi atas tiga golongan ; emosional, emosional-rasional, rasional.
Tipe pemilih emosional ini yang dianggap sebagai potential voters yang mudah dikonstruksi dengan isu-isu populis, semacam politik identitas, isu musuh bersama, dan seterusnya.
Berkembangnya media sosial dianggap sebagai alat ampuh untuk menyasar golongan ini, terutama mereka-mereka yang cenderung gaptek atau baru tersentuh euforia keterhubungan.
Tapi apakah benar bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi tindakan-sikap-perilaku ? Bahwa yang berpendidikan tinggi akan lebih rasional terhadap informasi di media sosial dan sebaliknya hoax dan konstruksi emosional lebih mudah terjangkit pada yang berpendidikan rendah ?
***
Kemarin, Anies Baswedan, salah seorang calon Presiden menemui mantan Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti.
Profile Susi ini cukup cemerlang sebagai seorang professional, mulai dari pemilik Susi Air dan berbagai bentuk usaha lainnya. Itulah kenapa Jokowi percaya mengangkatnya sebagai Menteri.
Trend Susi sebagai Capres/Cawapres ini bukan baru hari ini muncul. Sejak lama, kabar tersebut berembus, bermunculan orang-orang yang mendambakan Susi maju sebagai pemimpin Indonesia berkat popularitasnya di masyarakat. Tak hanya itu, survey-survey juga merilih bahwa nama Susi terekam jelas melalui ukuran elektabilitasnya yang cukup prestisius.
Lalu ada apa dengan Susi ini ?
Melacak profile dirinya, kita tahu bahwa Susi hanya mengenyam pendidikan sampai ditingkat menengah pertama.
Pada case yang lain misalnya, sebuah berita di detikNews dengan tajuk “Aksi Lulusan SD yang Ahli IT Nipu Ratusan Juta Rupiah” memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan tidak punya pengaruh terhadap tindakan-sikap-perilaku.
***
Berikutnya, saya ingin reminder nama Marwah Daud. Seorang Politisi Gerindra yang juga anggota Dewan Pakar ICMI yang sempat viral tatkala membela Kanjeng Dimas, dukun palsu yang mendaku bisa melipatgandakan uang.
Sekelas Profesor seperti Marwah Daud, bahkan juga terjebak dalam pusaran ini.
Atau misalnya nama Reynhard Sinaga, mahasiswa Universita ternama di Inggris yang ternyata adalah pelaku pemerkosaan terbesar dalam sejarah United Kingdom.
***
Lantas demikianlah, bahwa secara ontologis pernyataan dalam riset ini mudah sekali di bantah.
Termasuk bagaimana misalnya soal kemampuan akses terhadap kemajuan teknologi tidak serta merta membentuk dan mengubah struktur sosial, semua justru kembali pada manusia sebagai subjek, satu-satunya inti cerita.
Sejak awal, kemajuan teknologi juga tentang manusia, yang membuatnya.
Perjalanan sampai kehancuran teknologi pun demikian, bahwa manusia pula subjek ceritanya.
Ini semua ternyata, hanya cerita soal manusia.
Tabik.
_________
Sultan Alam Gilang Kusuma
Komentar
Posting Komentar