Langsung ke konten utama

Pesona Kecepatan : Memaknai Ulang Era Disrupsi (5)

Keruntuhan yang terjadi pada sekat-sekat jarak geografis dan atribut sosial bikin melongo banyak orang. Kebingungan itu lantas disederhanakan dengan menyebutnya sebagai disrupsi.


Tapi, ternyata kerangka berpikir banyak orang tidak bertaubat dari jebakan sebelumnya. Justru bertambah akut, dengan membuat asumsi-asumsi yang menyatakan bahwa struktur sosial telah berubah seiring pengaruh kemajuan media komunikasi pada tindakan-sikap-perilaku manusia.


Mari melihat contoh kembali, masih seputar dunia politik tentunya.


***


Pasca Badan Pusat Statistik merilis sebuah data yang memuat laporan tingkat pendidikan masyarakat Indonesia, muncul pula sebuah riset yang coba melihat data tersebut dengan mengkonversinya ke dalam teori perilaku pemilih.


BPS menyebutkan bahwa penduduk Indonesia di dominasi oleh mereka yang berpendidkan rendah. 61% tidak tamat atau sebatas lulus SD, 30% yang tamat pendidikan menengah, dan hanya 9% yang lulus perguruan tinggi.


Lantas, riset tersebut menyimpulkan bahwa, dengan demikian pada pemilu 2024 para pemilih akan didominasi oleh emotional voters.


Perlu diketahui, bahwa tipe pemilih oleh sebuah teori dibagi atas tiga golongan ; emosional, emosional-rasional, rasional.


Tipe pemilih emosional ini yang dianggap sebagai potential voters yang mudah dikonstruksi dengan isu-isu populis, semacam politik identitas, isu musuh bersama, dan seterusnya.


Berkembangnya media sosial dianggap sebagai alat ampuh untuk menyasar golongan ini, terutama mereka-mereka yang cenderung gaptek atau baru tersentuh euforia keterhubungan.


Tapi apakah benar bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi tindakan-sikap-perilaku ? Bahwa yang berpendidikan tinggi akan lebih rasional terhadap informasi di media sosial dan sebaliknya hoax dan konstruksi emosional lebih mudah terjangkit pada yang berpendidikan rendah ?


***


Kemarin, Anies Baswedan, salah seorang calon Presiden menemui mantan Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti.


Profile Susi ini cukup cemerlang sebagai seorang professional, mulai dari pemilik Susi Air dan berbagai bentuk usaha lainnya. Itulah kenapa Jokowi percaya mengangkatnya sebagai Menteri.


Trend Susi sebagai Capres/Cawapres ini bukan baru hari ini muncul. Sejak lama, kabar tersebut berembus, bermunculan orang-orang yang mendambakan Susi maju sebagai pemimpin Indonesia berkat popularitasnya di masyarakat. Tak hanya itu, survey-survey juga merilih bahwa nama Susi terekam jelas melalui ukuran elektabilitasnya yang cukup prestisius.


Lalu ada apa dengan Susi ini ? 


Melacak profile dirinya, kita tahu bahwa Susi hanya mengenyam pendidikan sampai ditingkat menengah pertama. 


Pada case yang lain misalnya, sebuah berita di detikNews dengan tajuk “Aksi Lulusan SD yang Ahli IT Nipu Ratusan Juta Rupiah” memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan tidak punya pengaruh terhadap tindakan-sikap-perilaku.


***


Berikutnya, saya ingin reminder nama Marwah Daud. Seorang Politisi Gerindra yang juga anggota Dewan Pakar ICMI yang sempat viral tatkala membela Kanjeng Dimas, dukun palsu yang mendaku bisa melipatgandakan uang.


Sekelas Profesor seperti Marwah Daud, bahkan juga terjebak dalam pusaran ini.


Atau misalnya nama Reynhard Sinaga, mahasiswa Universita ternama di Inggris yang ternyata adalah pelaku pemerkosaan terbesar dalam sejarah United Kingdom.


***


Lantas demikianlah, bahwa secara ontologis pernyataan dalam riset ini mudah sekali di bantah. 


Termasuk bagaimana misalnya soal kemampuan akses terhadap kemajuan teknologi tidak serta merta membentuk dan mengubah struktur sosial, semua justru kembali pada manusia sebagai subjek, satu-satunya inti cerita.


Sejak awal, kemajuan teknologi juga tentang manusia, yang membuatnya.


Perjalanan sampai kehancuran teknologi pun demikian, bahwa manusia pula subjek ceritanya. 


Ini semua ternyata, hanya cerita soal manusia.


Tabik.


_________


Sultan Alam Gilang Kusuma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...