Langsung ke konten utama

Jokowi Said: Time Will Tell

https://www.kompasiana.com/sultanalamgilangkusuma9823/6761df2cc925c406845c3112/jokowi-said-time-will-tell

Wartawan menyodorkan mic sambil bertanya pada penghuni Jl. Kutai Utara, Solo itu. Jawabannya masih dengan gaya selama satu dekade lalu, datar dingin dan cenderung multitafsir. 

Tapi yang menarik dari pertanyaan wartawan kali ini adalah soal perseteruannya dengan PDIP. Buat saya, ini kali pertama dia bicara cukup gamblang dan tak bias soal kendaraan yang membawanya ke puncak kekuasaan dan meraih aprovall rating hampir 80% itu. 

Saya tidak dalam posisi untuk melakukan pembelaan dan biarlah waktu yang menguji, ucapnya. Dan sebaris kalimat pendek ini, akan penting untuk ditafsir, terutamanya para elite banteng-banteng di Diponegoro sana.

Saya mencoba menguji kalimat ini untuk ditinjau dalam beberapa perspektif. 

Pertama, dari sudut Hermeneutika. Gadamer menyebut ini sebagai "fusion of horizons" - ada dialog antara konteks historis (track record Jokowi) dan situasi kekinian (pemecatan). Kalimat Jokowi tersebut, mencerminkan "prejudice" positif dalam arti Gadamerian alias pembicara menahan diri dari penilaian negatif. Selain itu, juga mengandungi dimensi temporalitas dimana makna akan terus berkembang seiring waktu (hermeneutika Heidegger).

Kedua, secara linguistik ungkapan ini menyiratkan kompleksitas makna yang jauh melampaui struktur linguistiknya yang sederhana. Kalimat ini mencerminkan strategic ambiguity - sebuah teknik komunikasi politik dimana ketidakjelasan justru menjadi pilihan strategis untuk menjaga ruang manuver dan menghindari konflik langsung. Penggunaan struktur pasif dan penghilangan subjek aktif menunjukkan kehati-hatian dalam menempatkan diri dalam dinamika politik yang sensitif.

Ketiga, psikologis Jokowi menyiratkan bahwa ia paham bahwa dirinya menjadi pusaran kunci dari banyak situasi politik terkini. Ungkapan ini dapat dipandang sebagai mekanisme coping kolektif menghadapi ketidakpastian politik. Ada upaya psychological distancing melalui temporalisasi - menempatkan resolusi konflik dalam dimensi waktu yang lebih panjang. Ini juga mencerminkan belief in just world, keyakinan bahwa pada akhirnya kebenaran akan terungkap melalui proses alamiah waktu.

Sebagai orang yang dikonstruksi sebagai 'Raja Jawa'. Dia ingin pula menyampaikan bahwa ada upaya meresonansi falsafah 'nrimo ing pandum'. Ini adalah manifestasi dari kemampuan komunikasi tingkat tinggi untuk memperkecil konfrontasi secara terbuka.

Dengan demikian, ungkapan yang tampak sederhana ini sebenarnya adalah instrumen komunikasi politik yang sophisticated. Ia mendemonstrasikan bagaimana bahasa politik dapat menjadi alat efektif untuk manajemen konflik dan pemeliharaan stabilitas sosial, khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia yang sangat menghargai harmoni sosial dan menghindari konfrontasi langsung.

Maka, saat ini kita diperlihatkan bagaimana dinamika perpolitikan nasional kini menunjukkan pergeseran halus namun penuh makna. Melalui berbagai kebijakan dan manuver politik, terlihat bagaimana Jokowi menyiratkan akan menggalang kekuatan politik untuk menyeimbangi diri yang bukan lagi Presiden dan tak punya partai, tapi berhadapan dengan Parpol pemenang hatrick 3x Pileg.

Langkahnya sebenarnya bisa dibaca. Penempatan figur-figur strategis di berbagai pos kunci pemerintahan, penguatan basis pendukung di daerah, hingga konsolidasi dengan berbagai elemen politik nasional - semuanya berjalan tanpa hiruk pikuk, namun pasti.

Menariknya, orkestrasi gerakan ini berlangsung dengan presisi tinggi, seolah mengikuti partitur yang telah dikomposisi dengan sangat matang. Tanpa perlu mengumbar retorika atau menciptakan gesekan, setiap langkah politik diambil dengan perhitungan mendalam. Bahkan ketika banteng merah mengambil sikap oposisi, respon yang muncul justru berupa kebijakan-kebijakan yang semakin memperkuat posisi tawar di kancah politik nasional.

Di tengah permainan catur politik yang dimainkan Jokowi secara lebih kompleks ini, apa yang akan dilakukan para banteng?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...