Langsung ke konten utama

Netanyahu "sedang tidak baik-baik saja"

Fenomena demonstrasi mahasiswa pro-palestina dari berbagai Universitas di Amerika Serikat menandai bahwa penjajahan Israel atas Palestina adalah isu kemanusiaan yang perlu menjadi masalah kolektif umat manusia hari ini.

Ini juga memperlihatkan kepada kita, bahwa Amerika Serikat yang selama ini menjadi tumpuan Israel untuk melakukan kejahatannya tengah mengalami goncangan krisis sosial yang terjadi bersamaan dengan krisis ekonomi. Dan tak pelak, akan terus bertambah dengan krisis politik sebab pemilu di negara tersebut akan berlangsung November mendatang.

Trump dan segala kontroversinya, menjadi tantangan berat bagi Biden dalam upayanya mempertahankan kursi Presiden US. Meski secara kebijakan keduanya sama-sama memiliki jejak berdarah terhadap warga Palestina, Trump dinilai lebih humanis lewat tawaran solusi dua negara yang belum terwujud hari ini. 

Sementara Biden, meskipun menolak pencaplokan Israel atas Tepi Barat, ia disatu sisi menyetujui genosida yang hari ini dilakukan Israel secara membabi buta.

Beban krisis sosial, ekonomi dan politik ini tentu akan merubahan jalan hidup negeri Paman Sam tersebut, terlebih tatanan dunia internasional yang juga sedang perlahan bergeser kedalam sistem multipolar.

Di sisi yang lain, Netanyahu, Perdana Menteri Israel, juga sedang menghadapi banyak kenyataan pahit pasca keputusan menyerang Palestina. 

Meski awalnya ia berharap dengan menaikkan eskalasi penyerangan dan pendudukan atas wilayah Palestina akan memberi dampak secara politis dan pragmatis, hal itu ternyata tak berjalan demikian.

Secara beramai-ramai warga sipil Israel melakukan demonstrasi agar Netanyahu mundur dari jabatannya. Selain itu ia juga menghadapi tekanan dari rival politik, salah satunya Anggota Kabinet Perang Israel Benny Gantz yang mengusulkan agar Pemilu Israel 2026 dipercepat hari-hari ini.

Tekanan non-domestik terhadap Netanyahu juga datang dari Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) yang disebut-sebut akan mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan atas dugaan kejahatan perang yang dilakukannya terhadap warga Tepi Barat dan Jalur Gaza. 

Meski mati-matian membela diri dan dibantu lobi Amerika Serikat dan sekutunya terhadap ICC, tuduhan kejahatan perang ini akan berdampak pada perlunya Netanyahu mempertimbangkan perluasan eskalasi dengan menyerang Kota Rafah, sebab hal itu akan semakin membuktikan dugaan bahwa dirinya melakukan kejahatan perang. Selain itu, Eropa dan negara-negara Barat akan mengambil jarak terhadap orang-orang yang didakwa tanpa resiko ditangkap.

Kabar terbaru memberitakan bahwa banyak dari Pasukan Pendudukan Israel (IFO) yang dikirim untuk melakukan invasi di Rafah memilih untuk membelot dan menolak perintah, selain itu ada juga media yang memberitakan bahwa 100 lebih wanita yang dikenakan wajib militer menolak untuk menjadi tentara pengintai di perbatasan Gaza. Kibaran bendera putih ini mereka lakukan karena merasa lelah dengan peperangan yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan.

Keputusan Iran untuk melakukan serangan langsung kepada Israel juga tekanan yang tentu membuat Netanyahu pusing tujuh keliling. Jika saja, eskalasi keduanya terus meningkat sebagaimana konflik antara Rusia dan Ukraina, bukan tidak mungkin jalan menuju world war 3 menemukan wujudnya. 

Serangan Iran ini juga menandai buntunya upaya diplomasi yang selama ini menjadi cara utama dalam mengupayakan perdamaian dunia.

Kenyataan pahit yang harus diterima Netanyahu dan Amerika Serikat sekaligus ini, tentu datang dengan penyebab. Kiranya ada tiga alasan pasti yang mendasarinya ;

Pertama, keterbukaan informasi dan perubahan cara berpikir generasi baru.

Doktrin bahwa apa yang terjadi di Palestina adalah persoalan agama an sich, awalnya diterima oleh masyarakat luas terutama publik Barat a.k.a non muslim. Hal ini disebabkan terbatasnya akses informasi yang memperlihatkan dari sisi manapun, pendudukan Israel atas Palestina adalah penjajahan. Selain itu, fakta bahwa Israel melakukan genosida atas banyak nyawa tidak terekspos secara nyata akibat terbatasnya saluran yang secara independen memberitakan hal tersebut.

Berbeda dengan hari ini, ketika media sosial menjadi tempat pertukaran informasi yang semakin tak dapat dibendung. Dunia semakin mengecil istilah Rudy Agusyanto, antropolog UI ketika menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi dalam berbagai segmen kehidupan akibat kemajuan teknologi. 

Perilaku user medsos yang sebagian besar didominasi generasi baru progresif juga menambah poin plus atas keterbukaan informasi isu Palestina-Israel. Mereka tak mudah digilas tsunami propaganda media pro-israel dan Barat yang cenderung berat sebelah dalam menyebarkan informasi.

Kedua, lumpuhnya institusi internasional tradisional dan menguatnya peran masyarakat sipil.

PBB yang selama ini dianggap sebagai institusi yang mengawal perimbangan kekuasaan antar negara-negara di dunia sepertinya mulai menemui titik buntunya sejauh ini, terutama dalam urusan Palestina-Israel. 

Tumpuan pada hukum internasional yang lembam, menambah alasan bahwa institusi produk dari usainya Perang Dunia 2 ini tidak lagi relevan dalam menampung persoalan dunia.

Sementara itu, atas fakta tersebut menguatkan peran civil society dan LSM yang secara masif bersuara atas penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh negara.

Kembali menguatnya peran aktor non-negara dalam menggulingkan tatanan naif yang selama ini ada, tentu menjadi kabar baik untuk masa depan umat manusia.

Ketiga, sistem internasional yang bergeser ke multipolar.

Jika sebelumnya, Amerika Serikat semacam satu-satunya super power pasca Perang Dingin, kini harus berhadapan bahwa ia telah mencapai titik nadirnya, dengan hadirnya China sebagai rival yang semakin menguatkan posisinya baik militer, ekonomi dan lain-lain.

Distribusi kekuatan yang selama ini terpusat pada satu negara, dimentahkan oleh prinsip lama, yakni saling mengimbangi yang berujung pada bergesernya bipolar system ke multipolar system.

Semua alasan ini setidaknya membawa kabar gembira pada kita yang terus mengharap-harapkan kemerdekaan Palestina. Meski kapan waktunya persisnya tidak diketahu, tapi semua tanda-tanda untuk memenuhi syarat kebebasan Palestina itu mulai menemui terangnya.

Bila demikian, saya percaya, bahwa kemedekaan Palestina akan berlangsung bersamaan dengan shifting sistem tatanan global yang selama ini lumpuh dan lembam. Faktor-faktor yang membawa kita ke arah itu, satu persatu terjadi dan perlu ketelitian melihat fenomenanya.


Semoga, titik terang jalan gelap itu, semakin dekat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...