Langsung ke konten utama

Tabiat Pemilih di Negara Demokrasi ke 3 Terbesar di Dunia

Polarisasi masyarakat dan menguatnya politik identitas adalah salah satu ingatan kolektif kita tentang buruknya penyelenggaraan Pemilu tahun 2019 lalu. Betapa rakyat Indonesia yang saat itu tengah menikmati pesta demokrasi justru disuguhkan dengan berbagai isu-isu yang boleh jadi sangat mudah memecah persaudaraan sesama anak bangsa. Diksi-diksi seperti surga neraka, partai Allah dan partai Setan, kafir dan sesat, serta banyak lainnya melahirkan peristiwa yang bahkan memakan korban jiwa.

Elite politik yang mempergunakan politik identitas sebagai strategi kampanye dan lantas membuat masyarakat terbelah itu malahan berdiri paling depan tanpa rasa malu menyatakan berbagai statemen yang terkesan rasis dan rentan menyulut lahirnya chaos ditengah publik yang memang sedang mudah disulut api kemarahan. Ini jejak memalukan yang bahkan sampai hari ini masih bisa kita telusuri siapa saja oknumnya, teknologi digital merekam hal itu hingga hari akhir.

Tapi apa benar tabiat mempergunakan istilah-istilah rasis dan esktrem itu hanya ada di Pemilu era Reformasi? Ternyata tidak. Sejak pertama kali Pemilihan Umum dilaksanakan di negara demokrasi terbesar nomor 3 didunia ini, tabiat mempergunakan strategi memecah belah dan intimidasi adalah lazim dilakukan. Bahkan lebih terbuka, sebab di masa lalu, berbagai partai politik yang mengikuti kontestasi itu jelas ideologinya. Masyarakat pun telah terpolarisasi secara alami mengikuti aliran politik yang diyakininya.

Saat itu, masyarakat Indonesia tidak sebagaimana hari ini. Teknologi digital yang dengan mudahnya menyebarkan berbagai informasi, tentu menjadi peranti paling utama dalam membuat polarisasi, disisi yang lain ideologi masyarakat juga tidak jelas. Di tahun 1955 itu, masyarakat masih banyak yang buta huruf, kemampuan membaca dan menulis juga hanya dikuasai oleh kalangan menengah keatas, tapi uniknya mereka memilih dengan kesadaran ideologi yang jelas, bukan atas iming-iming uang kartal atau money politics seperti yang lazim terjadi sekarang.

Kondisi masyarakat saat itu yang rendah literasinya justru menarik antusiasme mereka, sebab ini pertama kalinya pemilu dilaksanakan. Hal ini menarik partai-partai politik yang berkontestasi untuk memperebutkan dukungan mereka. Langkah-langkah intimidasi, propaganda isu yang membelah masyarakat, dan politik identitas adalah kegiatan yang paling sering mereka lakukan.

Misalnya Masyumi yang mengalirkan isu bahwa jika PKI menang, Indonesia akan seperti Uni Soviet dan RRC, negara totaliter dan tidak demokratis terhadap rakyatnya. Sebaliknya, PKI juga membalas dengan mengatakan bahwa jika Masyumi menang, maka Indonesia akan menjadi negara Islam yang tidak menghargai keberagaman.

Disisi yang lain, tumbuhnya persaingan juga ada dalam partai-partai yang beraliran sama. NU dan Masyumi misalnya. Meski awalnya NU adalah bagian dari Masyumi itu sendiri, setelah menyatakan keluar maka mereka harus saling bersaing satu sama lain sebagai partai politik peserta Pemilu 1955. Saling serang dengan menggunakan narasi-narasi yang jahat pun terjadi antar keduanya.

Misalnya, dalam Siaran Lajnah Pemilihan Umum Nahdlatul Ulama (Lapunu) Pusat ke 40 pada 1 April 1955, KH. Idham Chalid menyebut bahwa Hasan Aidid, Juru Kampanye Masyumi pernah melancarkan serangan kepada NU dengan mengatakan bahwa NU bukanlah ahlusunnah wal jama’ah dan ulama-ulama disana adalah su’u. Di sisi yang lain Pengurus Anak Cabang Masyumi Omben dalam suratnya yang ditujukan kepada Pengurus NU dan Pengurus Cabang Masyumi setempat menerangkan bahwa terdapat sejumlah warga NU yang menakut-nakuti warga Masyumi di Desa Rapalaok, bahwa apabila ada orang yang bergabung dengan Masyumi maka ketika meninggal tidak akan disholatkan.

Bahkan lebih menarik, bahwa ada seorang mertua yang berselisih dengan menantunya akibat perbedaan pandangan politik. Menantu yang telah bergabung bersama Partai Masyumi tersebut diperintahkan keluar oleh mertuanya yang NU sebab sang mertua berkata bahwa apabila menjadi warga Masyumi ia tidak akan masuk syurga.

Apa artinya semua ini? Secara khusus, penulis berkesimpulan bahwa fenomena polarisasi dan saling klaim atas kebenaran politik masing-masing didasari atas informasi dan kebenaran yang diterima dari sekitar. Orang-orang yang cenderung memiliki keterikatan “rasa” yang sama dengan sebuah partai politik atau pasangan calon atau calon legislatif, akan mencari pembenaran paling shahih terhadap apa yang didukungnya.

Hal ini terjadi lantaran, peristiwa politik seperti momentum Pemilu hanya datang 5 tahun sekali, banyak orang yang memang suka terhadap pembahasan politik mempergunakan waktu tersebut untuk “onani” politik nya. Sehingga tak sukar kita temui orang yang secara membabi buta membela, menyerang bahkan tak dinyana memutus silaturahmi hanya karena perbedaan politik. 

Alasan berikutnya tentu soal edukasi politik. Masyarakat kita cenderung suka menjadi pemerhati yang belajarnya secara otodidak soal politik. Obrolan di warung kopi yang setiap hari dijalani, menjadi seakan-akan sekolah teori politik, sehingga etika dan teori politik yang santun tidak muncul disana. Dan terakhir, penyebaran informasi yang timpang dengan gagapnya masyarakat terhadap penerimaan informasi tersebut, tentu menjadi alasan yang jelas begitu banyak orang-orang yang mudah termakan informasi palsu, menyesatkan, membuat chaos atau hoax. Tidak ada penyaring dalam diri masyarakat yang rendah literasi politik dan digitalnya, sehingga narasi jahat yang disebar sebagai strategi kampanye ditelan mentah-mentah oleh mereka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...