Langsung ke konten utama

Penting Tidak Penting

Suatu waktu saya menonton sebuah video dimana seorang pakar tengah menjelaskan bahwa Rusia mendulang begitu banyak keuntungan dalam perang yang dilakukannya dengan Ukraine. Dia juga mengutip pernyataan seorang Menteri yang menyebutkan bahwa setiap hari meskipun ongkos perang yang dikeluarkan Rusia sebesar $1 milyar perhari, tetapi dari penjualan fossil fuel mendapat untung berkali lipat dari itu, angka $6 milyar dolar keluar perhari sebagai keuntungan. Diakhir dia lalu menjelaskan bahwa situasi yang berbeda tengah terjadi di Eropa. 


The Dark Age of Europe tengah terjadi disebabkan oleh krisis energi, buntut tidak teraliri pasokan energi dari Rusia dimana dulunya dari negara dengan kepemilikan cadangan gas terbesar didunia itulah Eropa bergantung. Dan ditengah semua krisis yang berlangsung ini, soliditas diantara negara-negara anti Rusia ini juga goyah karena stabilitas politik masing-masing dari mereka juga tengah rentan akan kejatuhan, ini cocok dengan pernyataan seorang Ketua Partai Baru yang menyebut bahwa “krisis berlarut” ini akan menggoyang pemimpin dibanyak negara.


Kita tidak akan menegasikan semua pernyataan diatas, tapi ada beberapa hal yang lupa dicatat kalangan positivism yang memandang realita dunia itu hanya hitam-putih, termasuk dalam case Rusia Ukraine ini.


Bahwa benar Rusia untung dalam beberapa hal, tapi apakah selalu untung dan Eropa selalu rugi ? lantas dalam untung rugi itu apa yang bisa kita baca ? jawabannya adalah cerita “untung rugi” ini hanya soal reflektifitas masing-masing pihak, dan ini akan berketerusan tidak ada akhirnya, sebab selama manusia terganggu “purpose” nya selama itu pula fitur bernama reflektifitas itu akan selalu diaktivasi.


Katakanlah benar bahwa Eropa mengalami krisis energi karena terputusnya aliran fossil fuel dari Rusia, tapi apakah mereka berdiam diri saja ? 


Ternyata hari ini Norwegia dan Denmark yang menggantikan posisi Rusia mengaliri negara-negara di Eropa energi, bahkan kali ini energi tersebut sesuai hajat mereka yang menginginkan agar penggunaan “renewable energy” diberlakukan demi menghindari climate change yang dianggap bakal mengganggu eksistensi manusia di daratan Eropa, Pipa gas Norwegia telah mengalir kebeberapa negara seperti Polandia dan Inggris, terbaru North Sea Link (jaringan kabel listrik bersumber dari tenaga hidro) sudah berjalan ke Inggris dan Jerman.


Lalu apakah hanya Russia yang untung dalam perang ini ? ternyata tidak juga, terbaru dalam perhelatan International Expert Conference on the Recovery, Reconstruction, and Moderation of Ukraine, Jerman mengusulkan adanya New Marshal Plan yang nantinya digunakan untuk menutupi biaya perang dan merecovery Ukraina nantinya. Darimana perolehan dana tersebut ? ternyata ada sekitar $330 juta asset Rusia yang dibekukan dan inilah nantinya yang akan digunakan jaringan anti Russia untuk memuluskan agenda ini.


Belum lagi kalau kita bicara soal stabilitas politik negara-negara anti Rusia yang katanya tengah diambang kejatuhan dimana-mana karena melawan Rusia, misalnya gonjang ganjing keluarnya Prancis dari Nato jika Le Pen menang dalam kontestasi Pemilu lalu, tapi ternyata tetap Macron juga yang menang bahkan dia terkenal sangat keras dengan Rusia.


Di Inggris Liz Truss digantikan Sunak yang ternyata juga keras terhadap Rusia, di Itali Draghi digantikan Meloni yang sama kerasnya ke Rusia.


Lalu apa negara-negara yang pro Russia tidak mengalami goyahnya stabilitas politik ? ya ternyata nggak juga, bahkan Putin sendiri juga digoyang oleh jaringan-jaringan yang menilai Putin terlalu lemah dan takut mengambil keputusan. Iran hari ini sedang digoyang dengan demonstrasi dan kerusuhan dimana-mana, Imran Khan di Pakistan yang Pro Rusia mengalami kejatuhan, Trump yang dikenal dekat dengan Putin juga begitu, Armenia yang rezimnya dekat dengan Rusia melawan Kazakhstan, dan Kirgistan melawan Tajikistan. 

* * * * *

Dari uraian diatas, catatan terbesar untuk pemikir dan pengamat fenomena adalah untuk tidak terjebak pada hitam putih realitas, bahwa si A akan menang karena dia punya fitur ini dan itu, lho apa iya si B tidak punya hal yang sama atau paling tidak untuk menutupi itu ?


Forecasting bukan sebagai langkah untuk memastikan sesuatu sebab dengan berpikir begitu justru akan menegasikan banyak hal, luput akan banyak realitas lain yang juga berkembang, mengkategorisasikan penting tidak penting, benar tidak benar, padahal tidak selamanya pola yang terjadi bisa biner seperti itu.


Mempertimbangkan reflektifitas manusia akan memudahkan forecast kita berujung pada analisa yang presisi dan tidak menegasikan apapun, menganggap semuanya penting, lalu membaca pada variable apa saja reflektifitas itu dilakukan.


Misalnya dalam case perang Rusia Ukraine, kita tidak bisa melihat bahwa Rusia yang menang dan unggul, Putin yang dahsyat dan lainnya tidak, itu justru menjebak kita pada analisis yang tidak presisi dan “ngawur”, bahkan saya menyebutnya “jahil murokkab”.


Penting tidak penting, semuanya penting

truth or not truth, everything is truth

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...