Langsung ke konten utama

Selamat Datang Mas Anas! (2)

Anas memulai safarinya. Pelan-pelan tapi pasti merayapi tiap sudut Pulau Jawa. Menyapa banyak teman lama, yang sekian waktu menunggu kehadiran pria asal Blitar ini. Perjalanan Anas ini sesuai dengan hajatnya saat di wawancara eksklusif sebuah media beberapa waktu setelah bebas, bahwa setelah keluar dari bilik besi yang akan ditempuh pertama kali ialah menyapa keluarga dan kawan-kawan. 


Anas menegaskan, bahwa tidak akan dulu bicara politik. “Fokus ke keluarga dan teman-teman dulu” ucapnya. Tapi siapa yang tahu bahwa sekali dayung AU bisa melampaui banyak pulau. Silaturahmi ini juga bisa bermakna konsolidasi kekuatan yang telah lama berehat, bed rest istilah asingnya. Kalau meminjam diksi Prabowo ; membangunkan harimau yang tengah tidur. Mungkin itu salah satu makna yang bisa ditangkap dari safari Anas akhir-akhir ini.


***


Yang ketar-ketir tentu bukan hanya Demokrat, tapi secara luas jaringan-jaringan yang bekerja dibalik Koalisi Perubahan. Konon, jaringan HMI tengah bekerja mengkonsolidasi kekuatan untuk mengusung dan memenangkan Anies Baswedan. Maklum, ada banyak pentolan HMI yang merupakan pendukung AB, termasuk diri AB sendiri. Dia trah langsung murid-murid Nurcholish Madjid, pernah juga Rektor Paramadina.


Kehadiran Anas Urbaningrum sebagai salah satu simpul aktor pada jaringan yang berbeda di tubuh HMI, tentu akan menjadi ganjalan yang kuat nan digdaya bagi AB dan kawan-kawannya. Anas bukan sembarang orang di HMI dan segala jaringannya, dia elit dan pentolan ternama yang punya pengaruh besar hingga ke akar-akar kader HMI di banyak daerah. 


Bukan sekedar itu, AU juga menjadi ganjalan bagi Demokrat, salah satu parpol pengusung AB yang berharap mendapat jatah Wapres. 


Dia mantan Ketua Umum Demokrat yang kemudian katanya dikudeta dan dikriminalisasi oleh SBY. Kita tak boleh lupa, bahwa kejayaan Demokrat itu saat AU menahkodainya. Terbukti selama dua kali pemilu, Demokrat menang telak bahkan mengantarkan SBY ke tampuk pimpinan tertinggi negara. Menewaskan lawannya JK dan Megawati kala itu. 


Apa bukti bahwa AU signifikan ? lihat pasca 2019, kala Demokrat berada dalam kepemimpinan langsung SBY. Suara partai pemenang dua kali ini jatuh merosot di angka yang benar-benar kritis untuk sebuah partai besar sekelasnya. Tinggal kita lihat, AHY akan seperti apa efeknya, itupun kalau tidak diambil alih Moeldoko.


***


Pekerjaan Rumah bagi Koalisi Perubahan benar-benar tidak mudah. Boleh saja jumawa sudah menyelesaikan tahapan krusial dalam koalisi berupa adanya calon yang diusung. Tapi, itulah efeknya. Mudah dibaca dan didekonstruksi banyak jaringan dan kepentingan. Belum lagi salah langkah, mengambil posisi menjadi antitesa kekuatan besar yang sedang digdayanya dihadapan rakyat banyak, itu cari celaka, setidaknya menurut saya.


Apakah pekerjaan itu akan selesai dengan mudah ? saya rasa tidak akan mudah, melihat banyak sekali variable yang perlu dituntaskan rata. Malah mungkin, ada banyak variable lain yang menambahkan pekerjaan rumah. Dari sisi Nasdem dan PKS misalnya, atau pihak-pihak eksternal lainnya.


***


Kita tunggu saja, Anas akan melangkah dan bermain sejauh apa. Dan apa manuver-manuver yang mungkin menjegal Koalisi yang menyatakan telah siap memenangkan kontestasi melalui jualan figur mantan Gubernur Jakarta itu. So, Let See!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...