Anas memulai safarinya. Pelan-pelan tapi pasti merayapi tiap sudut Pulau Jawa. Menyapa banyak teman lama, yang sekian waktu menunggu kehadiran pria asal Blitar ini. Perjalanan Anas ini sesuai dengan hajatnya saat di wawancara eksklusif sebuah media beberapa waktu setelah bebas, bahwa setelah keluar dari bilik besi yang akan ditempuh pertama kali ialah menyapa keluarga dan kawan-kawan.
Anas menegaskan, bahwa tidak akan dulu bicara politik. “Fokus ke keluarga dan teman-teman dulu” ucapnya. Tapi siapa yang tahu bahwa sekali dayung AU bisa melampaui banyak pulau. Silaturahmi ini juga bisa bermakna konsolidasi kekuatan yang telah lama berehat, bed rest istilah asingnya. Kalau meminjam diksi Prabowo ; membangunkan harimau yang tengah tidur. Mungkin itu salah satu makna yang bisa ditangkap dari safari Anas akhir-akhir ini.
***
Yang ketar-ketir tentu bukan hanya Demokrat, tapi secara luas jaringan-jaringan yang bekerja dibalik Koalisi Perubahan. Konon, jaringan HMI tengah bekerja mengkonsolidasi kekuatan untuk mengusung dan memenangkan Anies Baswedan. Maklum, ada banyak pentolan HMI yang merupakan pendukung AB, termasuk diri AB sendiri. Dia trah langsung murid-murid Nurcholish Madjid, pernah juga Rektor Paramadina.
Kehadiran Anas Urbaningrum sebagai salah satu simpul aktor pada jaringan yang berbeda di tubuh HMI, tentu akan menjadi ganjalan yang kuat nan digdaya bagi AB dan kawan-kawannya. Anas bukan sembarang orang di HMI dan segala jaringannya, dia elit dan pentolan ternama yang punya pengaruh besar hingga ke akar-akar kader HMI di banyak daerah.
Bukan sekedar itu, AU juga menjadi ganjalan bagi Demokrat, salah satu parpol pengusung AB yang berharap mendapat jatah Wapres.
Dia mantan Ketua Umum Demokrat yang kemudian katanya dikudeta dan dikriminalisasi oleh SBY. Kita tak boleh lupa, bahwa kejayaan Demokrat itu saat AU menahkodainya. Terbukti selama dua kali pemilu, Demokrat menang telak bahkan mengantarkan SBY ke tampuk pimpinan tertinggi negara. Menewaskan lawannya JK dan Megawati kala itu.
Apa bukti bahwa AU signifikan ? lihat pasca 2019, kala Demokrat berada dalam kepemimpinan langsung SBY. Suara partai pemenang dua kali ini jatuh merosot di angka yang benar-benar kritis untuk sebuah partai besar sekelasnya. Tinggal kita lihat, AHY akan seperti apa efeknya, itupun kalau tidak diambil alih Moeldoko.
***
Pekerjaan Rumah bagi Koalisi Perubahan benar-benar tidak mudah. Boleh saja jumawa sudah menyelesaikan tahapan krusial dalam koalisi berupa adanya calon yang diusung. Tapi, itulah efeknya. Mudah dibaca dan didekonstruksi banyak jaringan dan kepentingan. Belum lagi salah langkah, mengambil posisi menjadi antitesa kekuatan besar yang sedang digdayanya dihadapan rakyat banyak, itu cari celaka, setidaknya menurut saya.
Apakah pekerjaan itu akan selesai dengan mudah ? saya rasa tidak akan mudah, melihat banyak sekali variable yang perlu dituntaskan rata. Malah mungkin, ada banyak variable lain yang menambahkan pekerjaan rumah. Dari sisi Nasdem dan PKS misalnya, atau pihak-pihak eksternal lainnya.
***
Kita tunggu saja, Anas akan melangkah dan bermain sejauh apa. Dan apa manuver-manuver yang mungkin menjegal Koalisi yang menyatakan telah siap memenangkan kontestasi melalui jualan figur mantan Gubernur Jakarta itu. So, Let See!
Komentar
Posting Komentar