Baru beberapa langkah ia keluar dari pintu Lapas Sukamiskin, sudah bergelegar sekali pidato mukaddimahnya kepada serombongan khalayak yang hadir dengan tagline #PutihkanBandung itu. Laki-laki dengan gaya bicara khas Jawa Timur yang pernah moncer namanya beberapa waktu silam ini, ternyata tak kehilangan koneksi batin dengan teman-teman seperjuangannya. Mulai dari aktivis beragam latar hingga politisi pejabat datang menyambutnya.
“Kalau ada yang menyusun skenario besar, bahwa saya dimasukkan dalam waktu yang lama ditempat ini, menganggap bahwa Anas sudah selesai. Skenario boleh besar, boleh kuat, boleh hebat, tetapi sehebat apapun, sekuat apapun, serinci apapun, skenario manusia tidak akan mampu mengalahkan skenario Tuhan. Wamakarallahu wallahu khairul makirin.”
“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf. Pertama, kalau ada yang berpikir bahwa saya ditempat ini mati membusuk. Kalau ada yang berfikir bahwa saya ditempat ini menjadi ‘bangkai fisik dan bangkai sosial’. Minta maaf bahwa itu Alhamdulillah tidak terjadi, Alhamdulillah atas dukungan keluarga dan teman-teman saya tetap hidup. Bukan hanya hidup, tetapi tegak dengan sadar, dengan sehat dan waras.”
***
Kita semua, termasuk generasi saya tidak akan pernah lupa dengan sosok Anas Urbaningrum. Sempat ramai menghiasi berita-berita ditelevisi dengan serangkaian kasus korupsi yang menjeratnya, kini ia telah menyelesaikan masa tahanan yang lama waktunya sama dengan nomor urut Partai Politik yang disebut-sebut ikut dibidangi olehnya meski terhalang tembok Sukamiskin, PKN alias Partai Kebangkitan Nusantara.
Ada banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari pria yang sempat masuk dalam bursa Capres dengan perolehan angka survey rata-rata 30% tersebut. Dan saya kira, teman-teman yang sekarang berkarir dalam industri politik dan ke-aktivis-an wajib menelaah perjalanan hidup Anas.
Saya sendiri merasa, bahwa perjalanan Anas adalah perwujudan nyata dari visi Yakusa ala HMI, organisasi yang dia juga pernah duduk sebagai pejabat terasnya. Bahwa meskipun terseret dalam konspirasi kekuasaan kala itu, Anas tak pantang arang menunjukkan taji.
Sembilan tahun lamanya ia berkhalwat dalam jeruji besi, tak pelak membuat sedikitpun urat nyali-nya kendor. Kemampuan merawat persahabatan kekal terlihat hari kemarin. Partai Kebangkitan Nusantara yang hari ini telah masuk dalam nominasi peserta kontestasi Pemilu 2024 menjadi sedikit bukti bahwa Anas bukan sekedar insan yang menyihir teman-temannya lewat kata-kata ‘thok’ tetapi juga menunjukkan keyakinan bahwa usaha menjemput takdir itu dijalani dengan konsistensi dan kejujuran jiwa.
Dan yang paling penting, Anas juga bukan politisi kalengan yang rela mengorbankan banyak jiwa hanya untuk sekedar masuk dalam jajaran elit nasional. Lagi-lagi itu terbukti dengan begitu luas jiwanya rela mengalah ketika konspirasi kekuasaan dahulu merenggut kemerdekaan dirinya, memenjarakannya dengan harapan memupuskan dan membusukkan dirinya dari publik.
***
Namun yang lebih menarik berikutnya adalah, apa langkah Anas selanjutnya ?
Meskipun hak politiknya dicabut hingga lima tahun kedepan, dan dalam berbagai wawancara terbaru menyebut untuk tidak dulu bicara panjang lebar tentang politik, dari pidato yang sarat sebagai ‘psywar’ didepan lapas Sukamiskin tersirat maksud menuntut keadilan dengan cara-cara yang elegan.
Tapi tentu, ada banyak pihak yang panas dingin dengan itu. Waktu sembilan tahun tentu saja tidak dipakai Anas untuk duduk manis menikmati sepetak jeruji, Anwar Ibrahim yang kini PM X Malaysia contohnya.
So, let see! akan sejauh mana Anas bermanuver dalam gerak-geraknya kedepan. Siapa, apa dan bagaimana nya terlalu asyik untuk kita lewatkan.
Sekali lagi, Selamat Datang Mas Anas. Allah sertakan niat baik melalui hasil yang baik pula.
Komentar
Posting Komentar