Langsung ke konten utama

Selamat Datang Mas Anas! (1)

Baru beberapa langkah ia keluar dari pintu Lapas Sukamiskin, sudah bergelegar sekali pidato mukaddimahnya kepada serombongan khalayak yang hadir dengan tagline #PutihkanBandung itu. Laki-laki dengan gaya bicara khas Jawa Timur yang pernah moncer namanya beberapa waktu silam ini, ternyata tak kehilangan koneksi batin dengan teman-teman seperjuangannya. Mulai dari aktivis beragam latar hingga politisi pejabat datang menyambutnya.


“Kalau ada yang menyusun skenario besar, bahwa saya dimasukkan dalam waktu yang lama ditempat ini, menganggap bahwa Anas sudah selesai. Skenario boleh besar, boleh kuat, boleh hebat, tetapi sehebat apapun, sekuat apapun, serinci apapun, skenario manusia tidak akan mampu mengalahkan skenario Tuhan. Wamakarallahu wallahu khairul makirin.”


“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf. Pertama, kalau ada yang berpikir bahwa saya ditempat ini mati membusuk. Kalau ada yang berfikir bahwa saya ditempat ini menjadi ‘bangkai fisik dan bangkai sosial’. Minta maaf bahwa itu Alhamdulillah tidak terjadi, Alhamdulillah atas dukungan keluarga dan teman-teman saya tetap hidup. Bukan hanya hidup, tetapi tegak dengan sadar, dengan sehat dan waras.”


***


Kita semua, termasuk generasi saya tidak akan pernah lupa dengan sosok Anas Urbaningrum. Sempat ramai menghiasi berita-berita ditelevisi dengan serangkaian kasus korupsi yang menjeratnya, kini ia telah menyelesaikan masa tahanan yang lama waktunya sama dengan nomor urut Partai Politik yang disebut-sebut ikut dibidangi olehnya meski terhalang tembok Sukamiskin, PKN alias Partai Kebangkitan Nusantara.


Ada banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik dari pria yang sempat masuk dalam bursa Capres dengan perolehan angka survey rata-rata 30% tersebut. Dan saya kira, teman-teman yang sekarang berkarir dalam industri politik dan ke-aktivis-an wajib menelaah perjalanan hidup Anas.


Saya sendiri merasa, bahwa perjalanan Anas adalah perwujudan nyata dari visi Yakusa ala HMI, organisasi yang dia juga pernah duduk sebagai pejabat terasnya. Bahwa meskipun terseret dalam konspirasi kekuasaan kala itu, Anas tak pantang arang menunjukkan taji. 


Sembilan tahun lamanya ia berkhalwat dalam jeruji besi, tak pelak membuat sedikitpun urat nyali-nya kendor. Kemampuan merawat persahabatan kekal terlihat hari kemarin. Partai Kebangkitan Nusantara yang hari ini telah masuk dalam nominasi peserta kontestasi Pemilu 2024 menjadi sedikit bukti bahwa Anas bukan sekedar insan yang menyihir teman-temannya lewat kata-kata ‘thok’ tetapi juga menunjukkan keyakinan bahwa usaha menjemput takdir itu dijalani dengan konsistensi dan kejujuran jiwa. 


Dan yang paling penting, Anas juga bukan politisi kalengan yang rela mengorbankan banyak jiwa hanya untuk sekedar masuk dalam jajaran elit nasional. Lagi-lagi itu terbukti dengan begitu luas jiwanya rela mengalah ketika konspirasi kekuasaan dahulu merenggut kemerdekaan dirinya, memenjarakannya dengan harapan memupuskan dan membusukkan dirinya dari publik.


***


Namun yang lebih menarik berikutnya adalah, apa langkah Anas selanjutnya ? 


Meskipun hak politiknya dicabut hingga lima tahun kedepan, dan dalam berbagai wawancara terbaru menyebut untuk tidak dulu bicara panjang lebar tentang politik, dari pidato yang sarat sebagai ‘psywar’ didepan lapas Sukamiskin tersirat maksud menuntut keadilan dengan cara-cara yang elegan. 


Tapi tentu, ada banyak pihak yang panas dingin dengan itu. Waktu sembilan tahun tentu saja tidak dipakai Anas untuk duduk manis menikmati sepetak jeruji, Anwar Ibrahim yang kini PM X Malaysia contohnya.


So, let see! akan sejauh mana Anas bermanuver dalam gerak-geraknya kedepan. Siapa, apa dan bagaimana nya terlalu asyik untuk kita lewatkan.


Sekali lagi, Selamat Datang Mas Anas. Allah sertakan niat baik melalui hasil yang baik pula.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...