Langsung ke konten utama

RIWAYAT USANG LIBERALISME DAN KAPITALISME (Sebuah Critical Review atas Buku The End Of History and The Last Man karya Francis Fukuyama)

TESIS FUKUYAMA


Tesis “The End of History” ini pertama kali diperkenalkan oleh Fukuyama dalam sebuah jurnal bertajuk The International Interest, di Musim Panas 1989, tahun yang sama dengan runtuhnya Tembok Berlin. 


Dengan sebab peristiwa itu pula, ia mengemukakan pendapatnya tentang fenomena “Demokrasi Liberal” yang mendapat legitimasi untuk menjadi semacam consesus seluruh dunia sebab telah berhasil mengalahkan ideologi-ideologi tandingannya seperti monarki, fasisme, sosialisme, dan komunisme.


Ideologi tandingan itu dianggap mengalami kegagalan sebab terdapat kerusakan dan irrasionalitas internal, sedangkan demokrasi liberal terbebas dari berbagai kontradiksi dan anomaly internal yang fundamental seperti itu (Fukuyama, dalam Abdul Jabbar. 2015 : 123).


Banyak orang meyakini bahwa tesis Fukuyama ini tidak terlepas dari pengaruh pandangan-pandangan sejarah dan filsafat ala Hegel dan Marx, dimana keduanya percaya bahwa evolusi masyarakat tidaklah “open ended” tetapi ia akan berakhir bila manusia telah mencapai suatu bentuk masyarakat yang sempurna (Fukuyama, dalam Abdul Jabbar. 2015 : 123).


Justifikasi Fukuyama terhadap akhir cerita dari Perang Dunia II dan Perang Dingin untuk kemudian menjadi legitimasi bahwa Demokrasi Liberal menjadi akhir dari sejarah pertarungan untuk mencapai “struggle for recognition” perlu benar untuk dikritisi. 


Bias politis dapat kita temukan misalnya dengan pendapat beberapa orang yang menyebutkan bahwa argumentasi Fukuyama semata-mata hanya merepresentasikan kepentingan Amerika Serikat yang ingin model demokrasi ala negaranya dianggap the one and only sistem politik yang benar.


Bila bias argumentasi ini dapat dijelaskan secara rinci, penulis merasa Fukuyama akan meralat tesisnya tersebut sebab kondisi Amerika Serikat yang paruh abad ini mengalami goncangan-goncangan besar baik secara ekonomi, politik, ataupun sosial budaya, dan ini menjadi semacam pertanda akhir dari “Demokrasi Liberal” yang konon oleh Fukuyama justru dianggap sebagai “The End Of History”.


MEMAHAMI PERISTIWA “KERUNTUHAN” ALA AUGUSTINUS


Penulis beranggapan bahwa menjadi penting untuk kemudian memahami terlebih dahulu bagaimana peristiwa keruntuhan sebuah peradaban dalam hal ini termasuk ideologi dan sistem pemerintahan dapat terjadi. 


Dalam upaya itu, pendapat dari Santo Augustinus, seorang Filsuf Kristen yang terkemuka sebagai Fathers of the Chruch menarik untuk ditinjau ulang. Meskipun, dalam argumennya itu secara khusus membicarakan alasan keruntuhan Romawi, tapi kiranya dapat pula diinterpolasikan ke dalam kasus runtuhnya ideologi Fasisme dan Komunisme yang ditandai lewat bubarnya Uni Soviet dan Fasisme Nazi.


Peristiwa jatuhnya Roma ke tangan bangsa Barbar Visigoth dan Alarik pada tahun 410 M menjadi sebuah catatan historis yang begitu dramatis. Ebenstein berkomentar bahwa peristiwa kehancuran Roma tidak pernah ada bandingnya dalam sejarah Barat dimana suatu pandangan hidup bisa sirna begitu saja sehingga orang melupakan warisan nenek moyang yang telah diyakini berabad-abad dan harus memulai suatu fase baru dalam keberadaan sejarahnya (Ebenstein, dalam Suhelmi. 2001 : 74).


Tuduhan yang menyatakan bahwa keruntuhan Roma itu didasari atas pengaruh Kristen dibantah oleh Augustinus. Dalam De Civitate Dei, Augustinus menulis jawaban untuk menyanggah berbagai tuduhan-tuduhan itu dengan mempertanyakan ulang tentang bagaimana peranan Kristen dan Tuhan dalam kehancuran sebuah kota, atau sebaliknya keruntuhan itu disebabkan semata-mata sudah waktunya Roma mengalami kehancuran.


Augustinus mengemukakan gagasan organismik, dimana ia menganalogikan negara, imperium, masyarakat seperti layaknya manusia. 


Dalam logika organismik, seorang manusia mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, kematangan, dan ketuaan, kematian atau kehancuran. Dengan kata lain, manusia selalu mengalami pasang naik dan pasang surut dalam kehidupannya (Suhelmi. 2001:75).


Maka, lewat logika yang sama, kita bisa mencoba meraba bahwa mungkin saja peristiwa keruntuhan ideologi-ideologi tandingan Demokrasi Liberal adalah selayaknya manusia mengalami kematian. Sebab, pelaku-pelaku sejarah itu juga manusia, yang secara khusus menjadi pemeran utama dalam cerita sejarah. 


Namun menjadi pertanyaan penting berikutnya adalah, benarkah Demokrasi Liberal tetap kokoh sejauh ini ? bagaimana misalnya kondisi Amerika Serikat yang dinyatakan sebagai etalase dari Demokrasi Liberal itu hari ini?.


MUNDUR DARI AFGHANISTAN : KOREKSI ATAS KESALAHAN


Pemerintahan Presiden Joe Biden mengambil keputusan besar dengan melakukan penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan dan menandai berakhirnya Operation Freedom's Sentinel bersama NATO, dan Resolute Support Mission. Atau dengan kata lain narasi Perang Melawan Terorisme yang digulirkan pasca serangan September 2001 mulai dikoreksi ulang sebagai kesalahan strategik pemerintahan periode sebelumnya.


Kesalahan strategik itu terjadi karena adanya euforia, persis seperti euforia pasca Perang Dunia ke II, yang membuat Amerika Serikat masuk secara sembrono ke dalam Perang Vietnam dan Perang Korea, padahal keduanya adalah agenda perang yang sia-sia dilakukan Amerika Serikat saat itu. Hal yang sama pula terjadi pasca runtuhnya Uni Soviet, sehingga inilah yang membuat Fukuyama berkeyakinan bahwa pertarungan umat manusia telah selesai dan beginilah akhirnya.


Kekalahan Bush senior dalam Pemilu AS ketika melawan Clinton, menjadi semacam puncak keresahan rakyat Amerika Serikat tatkala pemerintahnya sibuk berperang dan mengabaikan persoalan ekonomi. 


Pemerintahan Clinton berjalan cukup siginfikan meski ada dua masalah fundamental yang tak terselesaikan olehnya ; Pertama, ide tentang finansialisasi ekonomi, dimana kapital tidak lagi menciptakan pekerjaan, sehingga sektor keuangan mendominasi ekonomi dan perlahan-lahan membuat sektor riil itu mati. 


Kedua, peralihan investasi dari Amerika ke Asia sepasca China di era Deng Xiaoping memutuskan masuk kedalam sistem kapitalisme secara ekonomi.


KEHADIRAN CHINA DAN PERSOALAN SOSIOLOGIS AMERIKA


Tahun 90-an muncul ide yang luar biasa berkembangnya, yaitu Globalisasi. Dalam proses globalisasi, ada dua hal yang terjadi secara global yaitu Revolusi Demokrasi dimana- mana dan berikutnya adalah Pasar Bebas. 


Hal yang tidak diduga oleh Amerika Serikat sebelumnya adalah China sebagai pendatang baru dalam sistem Kapitalisme berkembang begitu cepat, dan ini secara tidak langsung berimplikasi pada kebenaran tesis Giddens tentang era Demokrasi Sosial yang mulai menemui momentumnya.


Dengan demikian, terjadi persoalan pada Amerika Serikat, dimana peralihan manufaktur dari AS ke China ini menyebabkan matinya industri didalam negerinya, sehingga berimplikasi bukan hanya secara ekonomi tetapi juga struktur sosial. 


Kemenangan Bush junior dalam melawan Clinton memperlihatkan panasnya situasi struktur sosial tersebut sebab antara elite-elite AS mengalami perpecahan antara yang memilih untuk melakukan pendekatan perang pasca 9/11 dengan yang memilih untuk fokus pada penguatan ekonomi dan ketahanan dalam negeri, dimana mereka menghadapi ketimpangan yang ditandai dengan menciutnya jumlah kelas menengah pada populasi masyarakat Amerika Serikat.


Pemerintahan Obama yang berusaha memperbaiki kondisi tersebut juga gagal, malah muncul masalah baru dimana jumlah kulit putih miskin meningkat. 


Sehingga ada semacam distrust terhadap goverment dan menjadi awal bagi Donald Trump memenangkan kontestasi Pilpres AS dengan membawa ide “Trumpisme”, yang sebenarnya ide ini tampak sebagai ultranasionalis tetapi juga ditumpangi kemarahan dari kulit putih yang terlempar dari kelas menengah AS, menjadi kelompok miskin. 


Tetapi pada waktu yang sama, ada sebagian kecil dari kelompok kelas menengah ini yang melompat menjadi kelas atas, sehingga terjadi pembelahan yang cukup dalam ; dimana jumlah orang miskin semakin besar pun sama dengan jumlah orang kaya.


PERANG RUSIA UKRAINA : TITIK LEDAK TATANAN DUNIA BARU


Dulu kita menyaksikan, aliran migrasi pengungsi dari Timur Tengah atau Afrika menuju Eropa, dan sekarang sebaliknya arus pengungsi justru datang dari Eropa sendiri. Dulu kita menyaksikan perang-perang terjadi di Timur Tengah, Afrika, Asia dan seterunya, sekarang sebaliknya kita melihat perang itu justru terjadi pada zona paling aman diseluruh dunia yaitu Eropa.


Fenomena abad ini sebenarnya bukan hal yang baru, sejak dulu perang-pun sering terjadi, tetapi yang menarik setidaknya dua hal ; pertama, dunia baru saja dihadapkan dengan krisis karena Pandemi Covid19, dan berikutnya kita dihadapkan dengan perang antara kekuatan-kekuatan super power di dunia.


Jadi, kombinasi antara krisis akibat COVID19, krisis ekonomi, sosial dan diperparah dengan perang ini akan membuat dunia mendekat pada titik ledak lebih besar dari apa yang sekarang terjadi.


Putin yang berkali-kali disanksi oleh lawannya juga tidak beranjak dari posisinya dalam mempertahankan argumentasinya, malahan sejauh ini, para pemberi sanksi itu juga menanggung beban baik secara ekonomi maupun politik dari berbagai sanksi yang diberikannya kepada Rusia. 


Misalnya ketika Uni Eropa menganggarkan biaya untuk membantu Ukraina, pada dasarnya itu juga anggaran yang diubah fungsi dari sebelumnya untuk recovery COVID19, dan ini menandai bahwa merekapun menanggung upaya yang sama sebagaimana Rusia menanggung beban itu.


Di sisi lain, mulai terlihat satu persatu negara colaps karena tidak siap dengan berbagai krisis yang perubahan-perubahan terjadi. Ini tidaklah dapat kita simpulkan sebagai negara dan masyarakatnya lemah, tetapi menurut hemat penulis karena sistem tatanan dunia yang hari ini mulai usang dengan berbagai janji-janji manisnya, dalam hal ini liberalisme dan kapitalisme.


Amerika Serikat dan Eropa yang pada dasarnya adalah etalase dari sistem tatanan dunia itu, juga mengalami masalah-masalah yang sama baik domestik, regional maupun internasional. Krisis-krisis yang terjadi menjadi semacam kode bahwa ujung titik ledak dari usangnya sistem ini telah tiba waktunya.


FUKUYAMA DAN STRUGGLE FOR RECOGNITION


Bila Fukuyama menggunakan justifikasi Hegel soal Struggle for Recognition sebagai alasan dari demokrasi liberal menjadi akhir dari sejarah pertarungan umat manusia, maka semestinya dia harus meralat tesisnya tersebut ketika melihat kondisi negara-negara yang menjadi etalase Demokrasi Liberal dan Kapitalisme itu hari ini.


“Struggle for Recognition” merupakan penjelasan sejarah nonmaterialis ala Hegel. Menurutnya, manusia layaknya binatang, yang memiliki kebutuhan alami dan hasrat terhadap benda-benda diluar dirinya, seperti makanan,minuman, tempat berlindung, dan egala sesuatu pemeliharaan fisiknya. 


Tetapi, secara fundamental manusia berbeda dengan binatang, karena disamping manusia memiliki hasrat terhadap sesuatu yang di luar dirinya, ia juga ingin diakui oleh orang lain. Terutama, dia ingin diakusi sebagai seorang manusia dengan martabat dan penghargaan. 


Gairah untuk memperoleh pengakuan pada awalnya mengendalikan dua pejuang primordial sebagai upaya untuk membuat manusia lain mengakui martabat kemanusiaan dengan menjalani kehidupan dalam sebuah perang yang mematikan (Fukuyama, dalam Abdul Jabbar. 2015 : 132).


Itu artinya, sebagaimana analogi Hegel terhadap sejarah yang seperti sungai, bahwa ia selalu berubah, maka kita tidak dapat menyebut titik tertentu dari sungai yang merupakan “sungai paling benar”. 


Demokrasi Liberal yang menyulut perubahan dimana-mana pada masa lalu, bukan berarti tidak dapat mengalami perubahan pada dirinya atau pengaruh dari luar dirinya, itu niscaya sebab pelakunya lagi-lagi adalah manusia.


Karena selain selalu struggle for recognition, manusia juga selalu berupaya untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan dalam memenuhi hasrat kehidupannya. 


Bukan tidak mungkin dimasa depan, dengan segala fenomena yang terjadi hari ini, ada semacam koreksi terhadap demokrasi liberal yang justru memberikan janji usang dan memperbesar ruang- ruang ketimpangan dalam kehidupan umat manusuia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...