Langsung ke konten utama

Review Articel Jurnal Linklater, A. (1999). Review: Transforming Political Community: A Response to the Critics Reviewed Work(s): The Transformation of Political Community: Ethical Foundations of the Post-Westphalian Era

 Artikel Linklater bertajuk “Transforming political community : a response to the critics” ini pada dasarnya diterbitkan sebagai respon kritik para intelektual terhadap buku miliknya “The Transformation of Political Community: Ethical Foundations of the Post Westphalian Era”. Ia mulai dengan mengkritik Schweller yang menyatakan bahwa banyak ahli teori normatif yang melarikan diri ke dunia fantasi ketika mengabaikan realitas persaingan dan konflik atas sumber daya yang langka. Bagi Linklater, tidak mungkin para akhir teori kritis yang terpengaruh Marx akan menyangkal bahwa teori normatif harus dilihat dalam struktur dan konflik sosial yang nyata.



Kesalahan interpretasi yang serius dilakukan Schweller dengan menyebut Linklater berpendapat bahwa hubungan antar manusia dapat dan suatu hari akan segera diatur oleh dialog dan persetujuan global, bukan oleh kekuasaan dan kekuatan. Dan kesalahan ini pada dasarnya terjadi karena ia oleh Linklater dianggap mencampuradukkan teori kritis dengan teori politik liberal, dan mengasumsikan bahwa perdebatan paling penting dalam teori hubungan internasional adalah antara kaum neorealis dengan lawan-lawan liberal mereka.



Untuk mendapatkan penalaran yang sesuai, Linklater menjelaskan bahwa sistem internasional yang kacau dapat ditenangkan ketika negara-negara berani untuk melampaui tindakan yang berkaitan dengan dirinya sendiri, meskipun disisi lain harus mengorbankan kedaulatan. Tapi, untuk mengurangi perilaku predator, aktor politik dapat menekan negara untuk mengirim kekuatan pusat ke wilayah otoritas baru dan tanggung jawab nya tetap oleh pemerintah nasional. Atau aktor politik harus berperan aktif menciptakan ruang partisipasi publik yang lebih luas untuk mendemokratisasi politik internasional.

Schweller juga pernah berargumen bahwa untuk menenangkan hubungan antar negara-negara tidak dapat mungkin terjadi tanpa perubahan sifat dasar manusia. Linklater menanggapinya dengan menyinggung Waltz yang dinilai gagal menjelaskan mengenai kendala struktural.


Bila Schweller sadar, ia justru telah beranjak lebih jauh dari posisi Waltz sebelumnya. Pada akhirnya, jawaban terhadap sudut pandang kritis, yang dipahami secara luas, tidak bertumpu pada teori non-realis tetapi pada metafisika gelap dan putus asa dari pemikiran realis yang diklaim ditinggalkan oleh oleh Waltz. Pada akhirnya, daya tarik Schweller terhadap sifat manusia dalam sudut pandang neo-realisme hal bisa bersifat regresif.



Linklater menyebutkan bahwa Schweller dapat menggunakan beberapa komentar Walker untuk mendukung posisinya. Walker berpendapat bahwa untuk mengembangkan kritik terhadap sistem tidak boleh menyerang partikularisme dengan universalisme, tetapi untuk mengartikulasikan kembali hubungan antara klaim universalitas dan klaim partikularitas atau keragaman. Menurutnya, ada satu hal yang membuat Walker benar, karena seperti masyarakat mungkin tidak akan berkembang sama sekali, atau dengan cara yang sama, tanpa adanya warisan teori hukum alam dan gagasan konstitusionalisme abad pertengahan. Akibatnya, universalisme telah lama menjadi kosakata politik negara-negara modern dan telah membentuk ketegangan antara kemanusiaan dan kewarganegaraan yang menjadi pusat kehidupan politik modern. Meski pada akhirnya, ketegangan tersebut mengingatkan kita bahwa negara modern lebih sering mengutamakan hak warga negara ketimbang hak kemanusiaan.



Meski membenarkan pendapat Walker, ia menyebutkan perbedaan solusi yang dikedepankan, yaitu pentingnya menciptakan bentuk-bentuk tanggung jawab politik baru diatas dan dibawah pemerintah nasional dan perlunya mengonfigurasi ulang kewarganegaraan dalam prosesnya. Intinya, bukanlah untuk memusatkan kekuasaan monopoli ditangan otoritas supranasional yang baru, tetapi untuk mengirimkan responsivitas negara ke berbagai tempat kekuasaan dan untuk mendorong diversifikasi lebih lanjut dari kesetiaan manusia.


Perbedaan keduanya jelas terlihat dalam posisi melihat negara. Linklater berpendapat bahwa kebangkitan negara semakin kuat selama dua abad terakhir dan oleh banyak perjuangan yang saling berlawanan untuk mengembangkan hak kewarganegaraan. Komunitas politik modern telah diperebutkan oleh konsepsi tentang kemanusiaan yang menguji kecenderungan untuk menciptakan komunitas tertutup, dan oleh berbagai gerakan etnis atau kebangsaan yang menentang asimilasi negara. Sedangkan Walker berfokus pada sejauh mana negara modern telah berhasil menyelesaikan ketegangan antara yang universal dan yang partikular. Ia menambahkan bahwa refleksi Walker mengenai kemungkinan dimasa depan tampaknya tidak memiliki hubungan yang sama dengan kekuatan historis. Klaim ini menurutnya patut dicurigai mengingat kebimbangan Walker antara realisme atau statisme dari Hobbes, Weber dan Schmitt.



Kritik Elshtain juga tak lepas dari perhatian Linklater, dimana argumen yang berpendapat bahwa pendekatannya terhadap komunitas politik terlalu abstrak; tidak ada perhatian yang cukup terkait struktur dan institusi kekuasaan politik yang konkret dan sedikit keterlibatan dengan sisi gelap politik dan dengan realitas kasar politik global. Menurutnya, hubungan antara perjuangan politik kelompok dengan kosmopolitanisme adalah salah satu yang dibuat Elshtain sendiri dalam komentarnya tentang nasionalisme baru tahun 1989, yang mendasari ledakan luar biasa atau energi sipil dari masyarakat yang telah lama tertindas.



Linklater percaya bahwa poin mengenai perlindungan internasional terhadap hak minoritas ini mulai menjawab pertanyaannya mengenai apa artinya hidup dalam masyarakat tanpa perbedaan hierarki. Intinya adalah bahwa identitas tertentu harus dihargai, tetapi dengan syarat bahwa mereka tidak membeli otonomi mereka dengan memaksakan heteronomi pada orang lain.



Terakhir, Linklater menjawab Geras yang berpendapat bahwa penekanannya pada hak dasar untuk berpartisipasi dalam dialog terbuka tampaknya mengabaikan pertimbangan yang lebih mendasar. Namun saya lebih memilih untuk mengamankan prinsip tersebut secara tidak langsung melalui etika diskursus daripada secara langsung melalui seruan terhadap hak asasi manusia yang mendasar dan kebutuhan manusia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...