Perbincangan publik kembali ramai setelah Presiden Jokowi menyatakan bahwa tahun 2023 ekonomi dunia akan memasuki masa gelap dan penuh ketidakpastian karena ancaman resesi yang akan menghantui pertumbuhan ekonomi negara-negara didunia.
Pernyataan ini mengundang reaksi dari berbagai pihak, salah satu diantaranya seorang influencer yang mengkonstruksi bahwa dunia sedang strugling menuju kehancuran yang dipicu oleh gelombang PHK massal, cashflow susah, penjualan menurun dan pendapatan retail yang juga ikut menurun.
Namun benarkah ancaman resesi ditahun 2023 nanti adalah “kiamat” bagi dunia ?
1. Terminologi Makro Ekonomi
Pertama yang harus dipahami bahwa diksi resesi adalah terminologi dalam ruang makroekonomi, dimana pertumbuhan ekonomi suatu negara terdistraksi minus lebih dari satu kuartal. Sedangkan makro ekonomi sendiri adalah studi yang membahas ruang lingkup ekonomi secara keseluruhan seperti instrumen analisa dan rancangan kebijakan negara terhadap inflasi, tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan neraca bayar berkelanjutan.
Saya perlu menjelaskan ini sebab orang-orang kadang lupa untuk memisahkan terminologi dalam ruang makroekonomi dengan diksi pada kamus bisnis. Bukan sebuah kesalahan, tapi analisanya akan tidak presisi sebab menginterpolasi mentah-mentah terminologi pada ruang yang berbeda.
2. Masalah Pokok Umat Manusia
Harari dalam Homo Deus mencatat setidaknya ada tiga masalah besar yang sejak berabad lalu masuk dalam daftar teratas masalah pokok umat manusia ; Kelaparan, Wabah dan Perang.
Jika kita membuka catatan-catatan sejarah ada berapa banyak populasi mengalami tragedi kelaparan yang begitu mengerikan. Sekitar 2,8 juta orang di Prancis mati karena kelaparan, orang-orang miskin harus mengkonsumsi makanan kotor layaknya kucing di jalanan bahkan sisa daging dari kuda yang dikuliti dan dilempar ketumpukan kotoran. 1695 sekitar seperlima dari populasi Estonia juga mati karena kelaparan, 1969 seperempat hingga sepertiga mati kelaparan di Finlandia, dan 20% penduduk Skotlandia mati karena hal yang sama.
1330 ada The Great Pleague of Marseille atau wabah hitam yang membunuh 75 sampai 200 juta populasi manusia dan ini bukanlah satu-satunya wabah yang menerpa peradaban kita, epidemi-epidemi yang lebih dahsyat tercatat hampir disepanjang kurun serta tidak ada daratan yang tidak disinggahi olehnya, bahkan termasuk generasi hari ini juga tidak mungkin luput akan ingatan kolektif bagaimana Covid Disease membunuh jutaan orang pula.
Bicara soal perang, tentu catatan sejarah tidak akan pernah lupa pada tiap-tiap peristiwa yang membunuh ratusan hingga milyaran orang sepanjang berdirinya peradaban manusia ini. Tentu kiranya tidak pernah ada peradaban yang berdiri tanpa melalui cerita-cerita perang didalamnya.
Lalu apakah semua peristiwa baik itu kelaparan, wabah dan perang memusnahkan peradaban umat manusia secara menyeluruh ? ternyata tidak sama sekali. Populasi manusia hari ini bahkan tembus diangka milyaran jumlahnya, konektivitas dan mobilisasi juga semakin cepat dan canggih.
Lantas pertanyaan yang muncul kenapa semua itu bisa terjadi ?
3. Reflektifitas Manusia dan Kebenaran dalam Jaringan
Dalam case resesi, banyak orang lupa bahwa diksi itu bukan hal baru dalam catatan pertumbuhan ekonomi negara-negara didunia. Hampir semua negara pernah mengalami itu termasuk Indonesia. Tapi apakah negara kita collaps ? masyarakat terpuruk ? ternyata tidak juga, sebab penciptaan manusia disertakan dengan satu fitur bernama “reflektifitas”.
Reflektivisme adalah salah satu pendekatan dalam filsafat ilmu yang mengkritik kalangan positivisme karena melihat dunia seakan-akan hitam dan putih. Fitur bernama reflektifitas inilah yang mendorong manusia untuk terus bergerak, berinisiatif, survive termasuk ketika hajat hidupnya terganggu.
Manusia menciptakan vaksin untuk menghadapi wabah sehingga menstimulus perkembangan industri dunia kesehatan, perubahan sistem dalam tataran internasional dilakukan agar terjadi balance of power serta menerapkan kultur lockean untuk menjaga perdamaian dan menghindari perang, kemajuan sistem pertanian dan konsep jaring pangan dikaji untuk menjaga agar umat manusia tidak lagi mati karena kelaparan dan kini berapa banyak yang justru mati karena obesitas ?.
Dalam case resesi misalnya apakah manusia dalam hal ini Pemerintah karena dia adalah ruanglingkup makroekonomi akan berdiam diri ? tentu saja tidak, akan ada banyak policy yang dibuat untuk menghadapi itu. Membacanya juga bukan lagi soal efektivitas, karena jika tidak efektif dia akan terus reflektif sampai hajat hidupnya tidak terganggu.
Resesi juga bukan tentang hitam dan putih, influencer itu bahkan tidak sadar bahwa dengan mengiklankan platform nya sebagai solusi justru bukti bahwa resesi bisa dimaknai sebagai keuntungan. Lagi-lagi permasalahan ontologis, bahwa tidak selamanya yang disebut masalah adalah masalah, dia akan benar pada jaringannya.
Indonesia misalnya, di tahun 2020 BPS merilis bahwa ekonomi tumbuh negatif 3,49% dikuartal III dibandingkan periode sebelumnya (YoY). Namun beberapa pengamat justru menyebut meski terdistraksi negatif tapi ekonomi Indonesia justru tumbuh lebih baik ketimbang kuartal II 2020.
Harga minyak mentah Indonesi ditahun itu naik US$ 27,67/barel menjadi US$ 39,9/barel. Realisasi belanja pemerintah meningkat 28,16% dari pagu sementara dari periode 2019 yang angkanya 22,75%. Angka investasi ditahun itu juga membaik sebagaimana catatan BKPM bahwa realisasi investasi naik di angka Rp.209 triliyun.
* * * * *
Rugi tidak rugi semuanya adalah penting, justru yang salah adalah cara forecast kita yang terjebak pada penting tidak penting, maksudnya kita hanya dihadapkan pada dua pilihan dalam analisa. Kita bisa melakukan forecasting dengan baik bila yang dilihat adalah variabel-varibel tertentu, misalnya resesi akan menjadi buruk bagi sutu negara jika dia A,B, dan C. Namun kita juga harus menyadari bahwa ada fitur bernama refliktifitas yang terus membuat manusia bergerak tanpa henti.
Komentar
Posting Komentar