Langsung ke konten utama

Pesona Kecepatan : Memaknai Ulang Era Disrupsi (1)

Tiba-tiba, banyak orang merasa gagap meraba dunia, tak mampu menjawab kejadian yang dialami mereka di area kosmos. Lantas kemudian disebutlah ini sebagai perubahan, ya, era perubahan, dimana seakan-akan dunia hari ini bukanlah yang mereka kenal sebelumnya.


Provokasi itu semakin mantap, tatkala korban-korban era perubahan itu berjatuhan dimana-mana. Tidak hanya satu atau dua, tapi tak terhitung jumlahnya dan datang dari berbagai bidang kehidupan.


Lantas, apa yang sebenarnya terjadi hari ini ? monster atau wabah semacam apa yang mengubah lanskap peradaban manusia dengan sebegitu cepat dan menenggelamkan banyak orang dengan sekali sapuan ?


Melacak revolusi peradaban ini, bisa kita mulai sejak temuan Stanley Milgram (1967) yang dikenal dengan ”frasa six deegres separation”—bahwa siapapun didunia akan terhubung satu sama lain dalam 6 rangkaian hubungan pertemanan. Rudy Agusyanto (2020) menyebutkan bahwa temuan Milgram inilah yang mengawali revolusi sosial dalam kehidupan, meski banyak orang yang tidak menyadarinya. 


Ilham teori Milgram yang ditransisi sebagai ruh baru dalam teknologi terutama yang berhubungan dengan komunikasi berbasis internet semakin mewujudkan termampatkannya sekat-sekat yang selama ini ada dalam kehidupan manusia. Perbedaan pada jarak geografis ataupun atribut-atribus sosial lainnya, tidak lagi menjadi semacam ’dinding’ dalam pola hubungan antar manusia.


Semakin mengecilnya bentuk “dunia” ini, atau yang oleh Rudy Agusyanto (2020) disebut sebagai Fenomena Dunia Mengecil ini, pada akhirnya juga berimbas pada semua sendi kehidupan. Kebiasaan konvensional telah digeser digitalisasi, mulai dari bisnis hingga rumah tangga, semua serba berubah, serba cepat dan membuat banyak orang tergagap, yang gagal mengikuti kecepatan ini akhirnya terkerdilkan di pojokan.


Manuel Castels (2000) pula mendorong agar manusia mulai berpindah dari gagasan information society kepada network society. Meski Rudy Agusyanto juga memberikan catatan bahwa perubahan-perubahan ini tidaklah dapat dianggap sebagai sesuatu yang terkesan mempengaruhi secara signifikan sebuah tindakan-sikap-dan perilaku manusia. 


Pada dasarnya, semua adalah cerita tentang manusia. Gagasan antroposentris yang mengilhami ilmu pengetahuan, dapat memperlihatkan bahwa sejak awal semua perubahan ini adalah sekadar “story of human”, yang mana dalam perkembangan teknologi mikroelektronika tidaklah serta merta mempengaruhi manusia, justru sebaliknya semaju dan secanggih apapun perkembangan tersebut, ia hanya sebatas sarana, dan manusia, sebagai subjek tentunya, yang punya kebebasan memutuskan norma,tindakan,sikap, dan perilaku seperti apa yang ingin mereka lakukan.


Cuman disinilah kemudian timbul permasalahan baru, bahwa kegagapan atas dunia yang berlari ini, pesona kecepatan ini, juga menghantui para akademisi, intelektual, dan cendekiawan. Sebagian besar dari mereka, menamakan era ini sebagai era disruptif.


Rhenald Kasali misalnya memperkenalkan istilah “Double Disruption” dimana pada intinya muncul semacam bahaya pada perubahan yang cepat ini. Disrupsi yang menciptakan semacam budaya baru ini, semakin menggila pasca pandemi menyusul kemudian ancaman seperti climate change dan berkurangnya utilitas ditengah banyaknya mortalitas.


Pertanyaan besarnya adalah, apakah hanya sekarang saja perubahan itu terjadi dan mengubah budaya peradaban manusia ?


Dan bila, yang disebut sebagai disrupsi itu mengubah dan mengagapkan banyak orang, lantas dimanakah peran “ilmu pengetahuan manusia” yang disebut sebagai jawaban atas segala hal itu?


Maka, bila ingin menyimpulkan per-sekarang terkait kegagapan banyak orang yang muncul untuk menjawab perubahan ini, artinya ini adalah soal cara kita berpikir dan melihat realitas hari ini a.k.a masalah “paradigmatik”.


Kegagapan seakan kemudian mengecilkan akal manusia yang dikenal sempurna dan paripurna, serta seakan memutus literatur-literatur tentang bagaimana manusia menciptakan bumi dan segala keteraturannya hari ini.


Saya secara khusus sebenarnya berhasrat untuk membahas ini lebih lanjut, namun ada baiknya kita lanjutkan pada bagian ke (II) yang akan secara khusus meneroka akar kejadian peradaban, mulai dari origin of world hingga ke humas sapiens history. 


Anggaplah, ini semacam pengantar, dan tentu turut mengundang semua orang, hadir memberikan perspektifnya, bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...