Langsung ke konten utama

Nyanyian Mahfud MD (1)

Lagu yang dimainkan pria kelahiran Sampang Madura ini lagi-lagi terdengar merdu dan menyihir khalayak ramai. Betapa tidak, irama yang di dendangkan begitu pas a.k.a menyentuh hal-hal subtantif yang selama ini terpendam dalam benak publik. Bak gayung bersambut, tiap irama yang di mainkan makin riuh dengan tepukan bergemuruh dari masyarakat, apalagi alat musik yang di gunakan untuk mengaransemen tiap nada nya adalah media sosial, mesin pembunuh paling dahsyat abad ini.


Namun ada yang lebih penting dari sekedar nyanyian “penghibur”. Saya dan mungkin kita semua berharap Mantan Ketua lembaga penegak konstitusi ini mengingat dengan jelas sebuah pepatah bijak lama yang menyebut ; “orang berakal itu, adalah orang yang paling jauh pandangannya tentang akhir dari apa yang dia lakukan”.


Artinya besar harapan bahwa nyanyian lagu demi lagu dari Mahfud MD ini tidak sekadar pepesan kosong, atau hanya melempar isu demi mendapatkan panggung menuju kontestasi pemilu 2024 mendatang. Meskipun jika diamati ada sebahagian rakyat yang sudah berteriak ramai mendukung Mahfud untuk melanjutkan perjuangannya lewat posisi lebih strategis, Capres atau Cawapres. Yang semoga teriakan itu tidak mempengaruhi subyektifitas Mahfud MD dalam perjuangannya menegakkan moralitas hukum hari ini.


Tapi saya pribadi punya keyakinan besar atas apa yang dilakukan Mahfud MD ini sebagai bagian dari komitmen dirinya saat diminta Presiden Jokowi untuk mengawal penegakan hukum dan perbaikan sistem di negeri yang kita cintai. Sebagai salah satu dari sosok yang dipercaya atau bahkan disayang oleh Presiden Gusdur, Mahfud MD tidak perlu diragukan kapasitas nya dalam banyak urusan. Namun lagi-lagi yang paling penting jangan sampai beliau jadi montir malpraktik, bisa bongkar tapi ’urung’ bisa masang kembali. Atau justru berlapis niat lain menjelang Reshuffle Kabinet dan Pemilu 2024 mendatang, semoga tidak.


Karena itu, salah satu langkah pasti selain mengkondisikan penghuni Senayan untuk mendukung perjuangannya, Mahfud juga perlu penyusun roadmap yang benar-benar matang serta dibarengi koordinasi bersama pihak-pihak terkait agar tindakan hukum yang dilakukan berjalan dengan jelas,tegas dan terukur.


Tidak berhenti pada penindakan atas dasar by case saja, tetapi juga dilanjutkan dengan peta jalan perbaikan sistem demokrasi dan hukum yang telah simpang siur sejauh ini. Sehingga pihak-pihak bawah tanah bernama oligarki yang selama ini bermain mata dan tangan dalam kepentingannya bisa dihabisi atau bahkan dipangkas habis sampai ke akar-akarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...