Langsung ke konten utama

Nuclear Proliferation : Anugerah atau Bencana ?

Ada isu menarik yang muncul beberapa waktu lalu dalam konstalasi konflik antara Rusia dan Ukraina yaitu dengan munculnya supremasi nuklir sebagai alat perang. Kita tahu, bahwa negara-negara yang terlibat dalam pusaran konflik tersebut merupakan daftar negara pengembang nuklir, dan ini dianggap sebagai salah satu ancaman besar terhadap peluang terjadinya perang nuklir dan berakibat pada kemungkinan digunakannya nuklir sebagai instrumen perang dunia ketiga.


Saya bersama beberapa teman yang juga mengambil studi International Relations di UIN Jakarta beberapa waktu yang lalu juga mencoba mengkaji topik mengenai proliferasi nuklir, termasuk menimbang-nimbang kemungkinan penggunaannya sebagai instrumen perang di abad modern ini serta alternatif apa yang bisa ditawarkan untuk mendekonstruksi ancaman ini.


Sheena Chestnut dalam John Baylis, Steve Smith, Patricia Owens (6th ed) (2011) juga pernah menuliskan sebuah essai panjang mengenai perjalanan proliferasi nuklir di banyak negara-negara super power dunia. Namun sebelum jauh membahas inti masalah tersebut, mari saya ajak terlebih dahulu runutan panjang bagaimana nuklir hadir sebagai "enemy" bagi banyak kalangan.


Teknologi nuklir adalah dual-use yang artinya digunakan untuk menghasilkan energi pada reaktor nuklir, atau untuk pembuatan senjata nuklir, perbedaan dari dua kegunaan tersebut adalah reaktor nuklir memiliki proses berkelanjutan dan terkendali yang dimana menghasilkan tenaga dalam bentuk panas, sedangkan senjata nuklir berupaya untuk menciptakan ledakan besar yang menggunakan metode fisi atau fusi.  


Senjata nuklir disebut sebagai senjata penghancur massal yang disebabkan oleh kapasitas ledakannya. Penghitungan ledakan senjata nuklir menggunakan kiloton TNT yang setara, atau megaton jutaan ton. Senjata nuklir melepaskan energi mereka, untuk menyebabkan kerusakan, dalam tiga cara: ledakan, radiasi termal, dan radiasi nuklir. Senjata nuklir Senjata nuklir juga menciptakan gelombang elektromagnetik yang dapat mengganggu perangkat elektronik dan kebakaran yang menyebabkan kerusakan tambahan (Eden 2006). 


Sejak digunakan pertama kalinya oleh Amerika Serikat pada 1945 untuk menghancurkan Nagasaki dan Hirosima dan mengakhiri perang dunia kedua serta merubah tatanan sistem dunia dengan direduksinya kolonialisme dan agresi fasisme, nuklir oleh sebagian kalangan dianggap sebagai anugerah dan berpotensi untuk dikembangkan. Negara-negara lain selain AS juga berhasrat melakukan proliferasi nuklir tersebut dengan berbagai alasan. Pertama, tentunya untuk mengimbangi kekuatan AS yang dianggap tidak boleh berdiri sendiri sebagai pengembang nuklir, yang kedua tentu saja untuk ikut serta berjejer sebagai daftar negara kuat dalam tatanan global.


Namun begitu, meskipun awalnya banyak kalangan menganggap nuklir sebagai anugerah karena berhasil menghentikan perang dunia kedua saat itu, kini fakta tersebut sudah jatuh dan goyah akibat banyak juga negara lain yang ikut melakukan pengembangan terhadap nuklir dan sebagian besar berorientasi sebagai senjata militer, dan perdebatan inilah yang hari ini muncul dibanyak kalangan.


Para sarjana terdahulu berfokus pada potensi kegunaan dalam memenangkan konflik bersenjata internasional yang besar seperti senjata nuklir yang digunakan untuk menyerang Jepang pada 1945. Saat perang dingin, senjata nuklir digunakan sebagai senjata strategis untuk menghalangi musuh untuk provokasi dan penyerangan konvensional. Ini menyebabkan ketergantungan teknologi nuklir. Ini membuat anggapan bahwa semua yang mampu mengembangkan senjata nuklir akan berusaha mengembangkannya dikarenakan keuntungan keamanan yang didapat.  


Ada argumen bahwa politik domestik juga mempengaruhi perilaku penyebaran. Negara akan membuat senjata nuklir karena akan memberi pemimpin mereka keuntungan dalam politik domestik, negara juga mungkin membuat senjata nuklir karena identitas negara mereka, dan juga karena senjata nuklir memberi negara pengaruh dan kursi dalam negara negara kuat.


Walau banyak usaha internasional untuk menghentikan penyebaran senjata nuklir, banyak negara yang masih membantu negara lain untuk mengembangkan senjata nuklir, hal ini agar mereka dapat mencapai kebijakan tertentu. Negara akan secara sadar memberi informasi sensitif senjata nuklir bila mereka percaya akan membantu membatasi musuh yang lebih kuat.


Isu non-proliferation muncul sebagai gerakan yang ingin mereduksi pihak-pihak yang merasa mendapat banyak keuntungan dari pengembangan nuklir, di antaranya pada 1970, lima negara pemilik nuklir bersepakat untuk menandatangani NPT dan Traktat yang intinya mengarah pada pengurangan bahkan penghapusan terhadap penggunaan senjata nuklir. Sampai hari ini sudah 190 negara yang menandatangani NPT ini, namun begitu tetap ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa ini tidak lebih sebagai seremonial saja, terlebih sampai hari ini semua negara super power yang memiliki nuklir masih tetap melakukan pengembangan, bahkan Amerika Serikat terus saja mengucurkan dana untuk mempertahankan cadangan nuklir miliknya.


Beberapa kalangan pemilik kebijakan dan komunitas non-proliferasi memiliki optimisme bahwa pasca perang dingin akan lebih mudah untuk mengatur mengenai pemakaian senjata dan ide proliferasi. Tetapi ada juga beberapa pihak yang merasa bahwa perjanjian tradisional yang mengatur hal tersebut tidak lagi relevan sebab situasinya yang lebih rumit karena harus berhadapan dengan lanskap ancaman nuklir. Direktur CIA James Woolsey mengatakan bahwa situasi yang ada sekarang ibarat berhasil membunuh naga hanya untuk menemukan dirinya tersesat di hutan penuh ular berbisa (Woolsey 1998). 


Sebagai upaya untuk meningkatkan kerja sama internasional untuk mengamankan bahan nuklir dari penyeludupan serta menghindari munculnya terorisme nuklir, maka diadakanlah KTT Keamanan Nuklir di Washington pada 2010 dan Seoul 2012. Langkah membangun kerja sama Internasional ini secara khusus berfokus pada upaya pencegahan dan transfer terhadap material WMD dan sistem pengiriman terkait. 


Gerakan untuk meminimalisir penggunaan nuklir juga datang dari berbagai pihak, misalnya pada 2007 empat orang negarawan perang dingin menyerukan pelucutan senjata nuklir dan penghapusan penggunaannya, Barack Obama pada pidatonya di Praha tahun 2009 juga mendukung gerakan “Global Zero” sebagai seruan untuk dunia agar lepas dari senjata nuklir. Tetapi kemudian muncul pertanyaan besar “bagaimana cara untuk sampai kesana?” ; tidak ada negara yang ingin melepaskan senjata nuklir sebelum orang lain melakukannya. Oleh karena itu para akademisi menilai ide perlucutan senjata nuklir ini masih mustahil terjadi dalam waktu dekat.


* * *


Lalu sebagaimana tajuk di atas, bagaimana kita menyikapi proliferation nuclear hari ini ? setidaknya menurut saya muncul dua pertanyaan besar dan bisa dijawab menggunakan instrumen paradigma jaringan sosial ; 


pertama, What new policies or initiatives are needed to add ress the challenge of nuclear proliferation today?


Kontemporer ini muncul wacana baru terhadap pengembangan nuklir yang tadinya berorientasi sebagai senjata dan kekuatan militer berubah dengan berorientasi pada pengembangan alternatif energi terbarukan. Inilah yang kami lihat sebagai salah satu pola baru atau insitatif baru dalam mengelola nuklir yang hari ini banyak dikembangkan sebagai senjata.


 Kita tidak perlu menegasikan kehadiran inovasi nuklir, tetapi yang bisa kita ubah adalah orientasi pengembangannya yang berpotensi besar menggantikan fossil fuel sebagai komoditas energi utama dunia. Dan tentu saja, ini menguntungkan bagi Barat yang sedang berhadapan dengan ancaman climate change dan untuk itulah ada baiknya nuklir bisa kita dedikasikan sebagai pengganti fossil fuel dan tidak lagi digunakan sebagai pengembangan senjata.


kedua, Why do states decide to build nuclear weapons? Why do they choose not to?


Morghentau menjelaskan sebuah konsep bernama Balance of Power, Negara-negara yang hari ini memilih untuk mengembangkan nuklir adalah “reflektifitas” dalam usaha mengimbangi kekuatan oleh negara lain.


Sederhananya begini, jika Rusia tidak mengembangkan teknologi nuklir sebagaimana Amerika Serikat melakukan itu, maka "national interest" nya terancam, apalagi efek yang dihasilkan nuklir begitu dahsyat dan luar biasa. 


Untuk itulah, Rusia perlu melakukan pengembangan nuklir dalam rangka mengimbangi kekuatan Amerika yang juga mengembangkan hal tersebut. Lalu apakah setiap negara harus mengembangkan hal tersebut ? tidak juga, kembali lagi kepada purpose dan kepentingan nasional negara tersebut, pada variable rivalitas Rusia dan Amerika, keduanya tentu akan saling mengimbangi karena masuk dalam daftar negara adidaya di era ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...