Tepat hari ini, Muhammadiyah memulai rangkaian pelaksanaan Muktamar ke-48 yang diselenggarakan di Surakarta, Jawa Tengah. Sebagai salah satu Gerakan Islam terbesar di Indonesia yang digagas oleh Kiyai Ahmad Dahlan di tahun 1912 ini, Muhammadiyah telah membuktikan ikut serta membangun Indonesia melalui amal-amal usahanya yang begitu besar dan mencakup berbagai bidang.
Berdasarkan data terakhir, Gerakan Islam yang berumur satu abad lebih ini, telah membangun aset fisik pendidikan, sosial dan kesehatan berupa 171 perguruan tinggi, 355 rumah sakit dan klinik, 562 panti asuhan, 440 pondok pesantren, 1.364 SMA/sederajat, 1.826 SMP/sederajat, 2.817 SD/sederajat, serta angka fantastis berupa 20.233 TK, Paud dan KB. Aset diatas belum termasuk jumlah tanah, Masjid/Langgar, Bank dan Badan Wakaf, serta aset yang dikelola lembaga otonom Muhammadiyah lainnya serta jumlah aset non fisik yang juga bernilai begitu fantastis.
Kita tentu tidak perlu heran bagaimana semua amal usaha tersebut berhasil dibangun dan dikembangkan sehingga hari ini berkontribusi besar di Indonesia, sebab Gerakan Islam ini pada akhirnya begitu teguh memegang dawuh sang pendirinya ketika mengatakan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”.
* * *
Ada yang menarik untuk dicermati bagaimana kontribusi gerakan-gerakan Islam non partisan yang hari ini banyak berkembang di Indonesia. Bahwa pada akhirnya, kita harus mengakui gerakan non partisan ini lebih produktif, efektif esifien dan berkiprah lebih banyak ketimbang gerakan-gerakan partisan seperti partai politik dan lainnya.
Kenapa begitu ?
Pertama, partisan atau non partisan bukan pada benar atau salahnya, tapi saya fokus pada menelaah variable efektifitas kontribusi di alam demokrasi. Sehingga pada kesempatan ini, saya mengajak untuk kita semua yang berkecimpung aktif dalam dunia partisan kembali berkaca apakah hanya lewat “gerakan partisan” kontribusi terhadap negara dan bangsa dapat kita lakukan.
Kedua, dalam konteks gerakan Islam, kita bisa menelaah jauh kebelakang bagaimana prestasi gerakan partisan Islam yang senyata-nya sampai hari ini belum membuahkan banyak hasil terutama di Indonesia. Lagi-lagi, saya tidak sedang berusaha menegasikan bahwa gerakan partisan ikut berkontribusi dalam sejarah panjang pembangunan negeri, tetapi kita fokus pada variable efektifitas-nya.
Kita jumpai pergelutan gerakan partisan satu sama lainnya terutama dalam kontestasi “election” atau pemilu telah membuat masyarakat begitu mudahnya terpecah belah, belum lagi narasi masing-masing dari mereka yang meng-klaim mencita-citakan kemakmuran dan kesejahteraan, tapi sampai hari ini justru yang kita jumpai adalah “mereka” sendirilah yang mencapai hasil tersebut sedangkan rakyat masih saja bergelut dalam gelimangan kemiskinan dan keterpurukan.
Ketiga, narasi bahwa gerakan partisan sebagai satu-satunya cara efektif untuk menikmati dan berkontribusi di alam demokrasi ini sungguh berbahaya. Purpose untuk menikmati alam demokrasi ternyata bukan hanya disajikan dalam bentuk satu pilihan tunggal, tetapi ada alternatif yang pada variable efektifitas telah membuktikan kiprahnya, yaitu gerakan non partisan.
Keempat, tentu kita tidak menegasikan bahwa purpose utama gerakan partisan adalah kekuasaan, dimana konstruksi yang dibangun adalah “dengan kekuasaan, kita dapat membangun dan mensejahterakan ummat dengan lebih baik”,
lalu jika begitu seharusnya muncul lagi pertanyaan “apakah benar begitu?”.
Gerakan partisan harus berlaga terlebih dahulu dalam kontestasi “election”, barulah purpose kekuasaan dapat tercapai, itupun jika mereka keluar sebagai “the winner”,
lalu bagaimana jika kalah ?
Maka, pada variable efektifitas dan kontribusi kita tidak hanya dihadapkan pada ”satu pilihan” melainkan ada banyak cara untuk melakukan itu.
Kelima, Muhammadiyah-NU- dan Gerakan Islam non partisan lainnya telah membuktikan bahwa variable efektifitas lebih baik jika dilakukan lewat gerakan non partisan ini. Pembangunan yang tepat sasaran dan jauh dari politik kepentingan membuat gerakan-gerakan ini lebih mudah berkiprah dan mendapat kepercayaan masyarakat.
Keenam, data survei yang menunjukkan turunnya kepercayaan publik terhadap partai politik semakin menunjukkan bahwa gerakan partisan seperti itu telah mencapai “kiamatnya” dan pada kesempatan ini pula saya mengajak kita semua untuk kembali menelusuri lebih jauh cara alternatif untuk berkiprah pada masyarakat di alam demokrasi.
Ketujuh, kegagalan gerakan partisan ini telah dicatat oleh sejarah Indonesia, data menyebut di tahun 1999 sebanyak 14,5 persen (PBB, PK, PPP dan partai-partai lain), tahun 2004 18,11 persen (PPP, PKS, PBB) dan di tahun 2009 menjadi 14,99 persen (PKS, PPP, PBB) dan hingga hari ini kita dihadapkan pada rivalitas antara parpol-parpol Islam ini dalam perebutan kekuasaan.
Kedelapan, bukan berarti gerakan partisan tidak boleh ditubuhkan atau kita ikut berkiprah didalamnya, tetapi yang harus kita lihat adalah tadi, “variable efektifitas” dan “variable efisien” dalam berkiprah terhadap pembangunan dan kesejahteraan ummat.
Bahwa narasi yang menyatakan hanya dengan berpolitik praktis kita dapat membangun ummat tentu ini kesalahan besar dan harus diperbaiki dengan memberikan pilihan melalui “alternatif” salah satunya gerakan non partisan.
* * *
Terakhir, dalam kesempatan ini, saya ingin mengucapkan selamat atas pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-48.
Tentu selalu berharap besar bahwa gerakan-gerakan Islam non partisan ini terus tumbuh dan berkiprah banyak terhadap masyarakat di alam demokrasi Indonesia yang membuka ruang bebas ekspresi ke-islaman hari ini.
Saya selalu ingat potongan Mars Sang Surya yang memberikan spirit untuk kita terus bergerak dan berkontribusi, yang bunyinya ;
“Ditimut fajar cerah gemerlapan, mengusir kabut hitam…
Mengunggah kaum muslimin, tinggalkan peraduan…
Lihatlah matahari telah tinggi, di ufuk timur sana…
Seruan ilahi Rabbi, Sami’na Wa Atho’na”
Komentar
Posting Komentar