Langsung ke konten utama

Menjawab Huntington

Huntington pertama kali memperkenalkan istilah “konflik peradaban” melalui sebuah artikelnya dalam jurnal Foreign Affairs edisi musim panas tahun 1993, lantas kemudiandiperjelas dengan merilis buku bertajuk “The Clash of Civilization and the Remaking of World Order. Ia menyebutkan bahwa seusai berakhir Perang Dingin, dunia tidak lagi diisi dengan konflik berbasis ekonomi, sistem politik ataupun ideologi melainkan benturan perbedaan budaya antara satu peradaban dengan peradaban yang lainnya, terutama yang paling keras terjadi pada peradaban Barat dengan peradaban Islam.


ENAM ALASAN


Bagi Huntington, konflik peradaban akan menjadi fase terakhir dalam evolusi konflik di era modern (Huntington, 1993 :11). Konflik antara raja mendominasi era awal dunia, kala monarki menjadi sebentuk sistem paling dominan yang dipakai umat manusia hingga kemudian Wesphalia 1948 dan Revolusi Prancis menjadi momentum berakhirnya konflik itu dan menandai awal konflik antara negara bangsa (nation state conflict).


Berakhirnya Perang Dunia 1 dan 2 meninggalkan banyak sekali residu berujung konflik, salah satunya pertentangan antar ideologi yang menjadi dasar terjadi Perang Dingin antar negara super power yang masing-masing menganut ideologi terkemuka.


Kekalahan Soviet dan runtuhnya Komunisme lah yang mengakhiri Perang Dingin, dan Huntington beranggapan bahwa konflik itu tidaklah berakhir melainkan berubah bentuk 

menjadi persaingan antar peradaban besar dimana perbedaan identitas budaya masing-masing menjadi penyebab utama.


Ada enam faktor yang menurutnya menjadi dasar bagi tesis konflik peradaban ini. Pertama,perbedaan itu mencakup hal-hal yang paling mendasar mulai dari bahasa, adat tradisi, sejarah, budaya, hingga kepada agama. Kedua, fenomena dunia mengecil memungkinkan peluang terjadinya pergesekan antar budaya semakin besar. Ketiga, Perdagangan bebas dan perubahan sosial menjadi awal tercerabutnya individu dari identitas mereka, dan ini juga membahayakan negara bangsa sebab hilangnya nasionalisme rakyat.


Keempat, munculnya kesadaran anti westernisasi, anti imperialisme dan anti kolonialisme, pada masyarakat non-barat sehingga membuka peluang perlawanan pada hegemoni peradaban barat. Kelima, dualisme atau penyatuan budaya lebih sulit terjadi ketimbang para politik dan ekonomi. Terakhir, munculnya kesadaran regionalisme, dimana masyarakat yang memiliki akar budaya yang sama akan cenderung ingin menyatukan dirinya menjadi satu tamadun.


MEMAHAMI PERBEDAAN DAN PERSAMAAN SOSIAL


Banyak orang, termasuk Huntington sekalipun beranggapan bahwa konflik muncul sebab perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu/kelompok dalam suatu interaksi sosial (Agusyanto, 2014). Padahal, konsekuensi dari asumsi pikiran semacam itu akan membawa kita pada celah kebekuan berpikir, terutama sekali dalam melihat fenomena sosial di sekitar.


Perlu diketahui, bahwa pada dasarnya semua makhluk hidup menghadapi satu masalah paling pokok dalam hidupnya, yaitu bagaimana cara menjaga kebutuhan dan kelangsungan hidup. Yang artinya, seluruh yang bernama makhluk hidup itu, punya kebutuhan dasar yang sama, yang bersifat tidak bisa ditawar sebab berkaitan dengan kelangsungan hidupnya agar tetap berjalan. 


Dalam upaya menjaga kelangsungan hidupnya itulah, sebagai makhluk budaya manusia kemudian menciptakan segenap keteraturan berupa budaya dan peradaban dengan segenap kemampuan yang dimilikinya, mulai dari memanfaatkan alam sekitar (sumber makanan, cara makan, memasak dan seterusnya), memikirkan bagaimana sumber kehidupan itu tetap terjaga (konservasi, pertahanan, keamanan, dst.), serta banyak hal lain yang kemudian berhasil diciptakan manusia tersebut.


Manusia sebagai makhluk sosial juga punya sifat alamiah bahwa mereka membutuhkan keberadaan manusia yang lain. Semisal secara biologis, untuk memperbanyak keturunan ia mencari manusia lain sebagai pasangannya. Sehingga mau ataupun tidak, manusia perlu membentuk kerja sama dan inilah awal terbentuknya kesatuan sosial.


Namun demikian, pemenuhan kebutuhan atas dasar kelangsungan hidup itu tidak serta merta berbasis kerja sama. Ada kalanya, kebutuhan yang sama itu terbatas atau langka ketersediaannya, sehingga secara alamiah muncul istilah persaingan. Para pemikir banyak bersepakat, bahwa persaingan dipahami sebagai upaya reflektif manusia dalam memenuhi kebutuhan yang persediaannya terbatas atau langka.


Maka, sampai disini setidaknya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa konflik-persaingan adalah semacam kodrat alamiah manusia. Dan lebih jauh lagi, bahwa konflik adalah bentuk “ kerja sama dan persaingan” yang terganggu, dan itu tidaklah terjadi secara mendadak melainkan sebuah proses.


MEMAHAMI BUDAYA TAMBAL SULAM


Ada masalah fatal ketika manusia (individu/kelompok) mendeklarasikan keaslian sebuah budaya sebagai hak milik. Dengan mengesampingkan realitas semacam pengakuan hak atas budaya, kita perlu setidaknya cara pandang baru dalam melihat proses “budaya” itu terbentuk.nKita menemukan bukti bagaimana history of human terutama Homo Sapiens melakukan banyak sekali reflektifitas dalam meneguhkan kedudukannya di perjalanan masa. 


Termasuklah hal yang berkaitan dengan konstruksi atas budaya, norma, nilai, dan etika dalam hidup. Kita tak bisa membantah, bahwa pada dasarnya, hampir semua kebudayaan, norma, dan nilai dalam peradaban umat manusia saling terpengaruh. 


Hal ini didasari atas fakta bahwa manusia membutuhkan manusia yang lain, sehingga mereka melakukan kerja sama yang diikuti dengan serangkaian peristiwa, semisal mobilisasi, pertukaran benda, perpindahan atau migrasi dan seterusnya.


Linton (1940) mengatakan bahwa 90% setiap kebudayaan itu adalah berasal dari peniruan. Malinowski (1922) menyebut bahwa peniruan kebudayaan adalah hal yang biasa, justru sesuatu yang inovatif. Lowie (1956) memberikan definisi unik bahwa kebudayaan adalah barang sobekan-sobekan dan tambalan-tambalan.


MENJAWAB HUNTINGTON


Enam alasan yang dikemukakan Huntington sebagai hal yang melatar belakangi konflik antar peradaban setidaknya bisa kita jawab dengan uraian-uraian sebelum ini. Soal hal mendasar, sejak dulu juga demikianlah yang terjadi, tapi tidak selamanya perbedaan itu menjadi sumber konflik malahan sebentuk penyempurna sebuah khazanah kebudayaan.


Ada beberapa contoh yang kiranya perlu Huntington sadari, semisal case Ibnu Khaldun, seorang tokoh pemikir Muslim yang terkenal akan kitab Mukaddimahnya. Karya ini juga banyak disyarah oleh para “orientalis” bahkan tidak sedikit yang kemudian menjadi inspirasi para pemimpin dari dunia Barat.


Said Ahmad dalam jurnal bertajuk “Ibnu Khaldun and The Greek Philosophy : some notes from the muqaddima”, menyebutkan bahwa Khaldun sendiri dalam penulisan Mukaddimah banyak terpengaruh filsafat-filsafat Yunani, bahkan ianya menganggap Aristoteles sebagai “the first teacher” dan “Al Muallim Al Awwal”.


Pada case lain, ketika era Renaisans atau masa pencerahan Eropa muncul kritik terhadap otoritas gereja yang datang dari tokoh semisal Galileo Galile, Nicholas Copernicus, Leonardo Da Vinci, Michelangelo Michel de Montaigne, dan banyak lainnya itu ternyata terpengaruh pemikiran Ibnu Rusyd. Hal ini terjadi, sebab ialah orang yang berhasil mengumpulkan dan mensyarah pemikiran Aristoteles dan banyak yang datang berguru padanya sehingga kelompok itu disebut sebagai Avveroisme.


Itu baru sekelumit fakta pinjam meminjam pada variable pemikiran, dan tentu akan kita temui pula pada model-model variable yang lainnya seperti sejarah, agama, dan apalagi budaya terutama.


Lalu, soal fenomena dunia mengecil yang didorong oleh kemajuan teknologi, perdagangan bebas, konektivitas antar manusia seharusnya dilihat dengan cara berpikir yang benar.


Pesona kecepatan yang dihasilkan berbagai dari berbagai kemajuan harus disadari bahwa semuanya bermuara pada fakta bahwa manusialah yang menjadi pelaku, penonton, sekaligus sutradara dalam ceritanya.


Adanya kodrat untuk menjaga kelangsungan hidup melalui pemenuhan kebutuhan hidup memungkinkan semua ini terjadi. Bahkan bila pun aturan-aturan soal konektivitas baik sarana teknologi ataupun perdagangan dan lainnya itu tidak dibuat aturannya secara resmi, maka kodrat itu yang akan men-drive manusia untuk melakukannya. 


Pada argumen yang lain, Huntington juga menyampaikan bahwa dari kesemua peradaban itu, antara Barat dan Islam lah yang akan paling keras benturannya, sebab bangunan stereotipe yang dibangun masing-masing pihak untuk menyerang lawannya. 


Kita dapat melihat disini, bahwa basis pikiran Huntington sangat struktural-kategorikal sekali. Seakan, manusia begitu mudah untuk dilihat melalui kacamata sebeku itu. Bila ditinjau secara bahasa, struktur dapat bermakna suatu susunan dan organisasi dari elemen-elemen yang saling terkait dalam suatu sistem.


Di antara asumsi paling masyhur dalam berpikir strukturalis adalah anggapan bahwa masyarakat bekerja dengan sangat statis, bahwa keteraturan Tindakan-Sikap-Perilaku (TSP) individu akan bersesuaian dengan atribut sosial yang dimilikinya.


Lantas apakah realitas kehidupan berjalan sedemikian itu ? Yang dalam bayangan Huntington bahwa “orang Islam akan membenci barat” atau “orang Barat akan membenci Islam” dan 

seterusnya ?


Ternyata tidak juga, misalnya kita melihat banyak tokoh-tokoh pemikir ternama Islam semisal Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan lainnya yang justru menyeru pentingnya ijtihad agama dalam kemajuan zaman yang didorong kebanyakan oleh Barat. Hal yang sama juga berlaku pada kalangan masyarakat barat, yang semakin hari semakin begitu menerima nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalam ajaran Islam.


Berfikir strukturalis akan membawa kita pada konsekuensi mereduksi kehidupan sosial yang senyatanya rumit dan penuh dinamika sosial. Tindakan-Sikap-Perilaku manusia akan selalu dijelaskan linier melalui perangkat atribut sosial mereka. Pranata atau organisasi sosial dipandang sebagai penjaga struktur sosial agar tidak berubah.


__________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...