Langsung ke konten utama

Menggugat Agama

Beberapa teman sempat kaget dengan ucapan yang saya sampaikan pada mereka, bahwa Agama dan konsep yang ada di dalamnya harus terus di gugat agar relevan dengan kehidupan manusia kini dan nanti.


Mereka yang kebanyakan lahir dari rahim organisasi dakwah Masjid dan Kampus yang punya keteraturan baku ini kaget karena merasa penggunaan diksi ‘gugat’ itu merujuk pada menistakan agama. Padahal, jika mereka sedikit bernalar, diksi itu tidak berbeda dengan istilah tajdid dan ijtihad yang lebih masyhur di telinga mereka.


***

Lantas, apa alasannya agama itu perlu di gugat ? 


Pertama, ia perlu di gugat sebab sejak awal kita ini bukan penganut agama, melainkan penganut tafsir-tafsir agama. Kalimat ini saya coba permudah saja supaya tidak keliru dalam memahaminya.


Sejauh ini, darimana kita belajar agama ? dari para guru kan. Ada istilah ‘sanad ilmu’ dalam tradisi belajar di pesantren-pesantren. Runutan pembelajaran itu diperjelas asal kehadirannya darimana, mulai dari Rasulullah hingga guru-guru paling kontemporer.


Sebenarnya dengan memahami ini mudah saja kemudian memaknai kalimat saya diatas, bahwa kita ini belajar dari orang lain yaitu guru-guru atau ulama, melalui langsung atau literatur kitab yang di karang oleh mereka. 


Inilah kemudian titik kritis pertama kenapa agama perlu di gugat. Bahwa bisa jadi tafsir konsep A oleh Imam atau Tuan Guru A itu di buat pada konteks zaman dan peradaban di mana ia tumbuh dan besar. Konsep ini tidak selalu berkenaan merubah dengan hal-hal yang fundamental, melainkan mengukur sejauh mana tafsir konsep A oleh Imam A bisa dipakai di zaman kini.


Kedua, agama perlu di gugat sebagai reflektifitas menghadapi kehidupan manusia yang begitu kompleks. 


Kita berhadapan dengan tantangan-tantangan baru yang boleh jadi menyulut api reflektif kita terhadapnya. 


Agama adalah keperluan yang sakral dan kita yakini akan membantu kita di hari-hari kedepan. Oleh sebab itu, dengan mudahnya menjalankan konsep agama, kehidupan yang kita lalui akan juga begitu mudah dan tidak dikotomis antara perjalanan dunia dengan perintah Tuhan terhadap ciptaannya.


***


Masalahnya hari ini, kita berhadapan pula dengan mayoritas masyarakat yang terlanjur menganggap bahwa agama adalah bentuk pakem dan baku. Tidak boleh di ganggu gugat dalam bentuk apapun dan atas dasar apa saja.


Sehingga kemunculan mufassir-mufassir yang membawa logika baru dalam memahami konsep-konsep agama di anggap sebagai ‘sesat dan menyesatkan’. 


Padahal, jika dirunut kebelakangan, awalnya kemunculan logika konsep agama yang dipahami masyarakat luas sekarang juga ditentang oleh mereka.


Adapun tentang kehadiran mufassir ini harus kita pahami bahwa ia sendiri adalah janji Allah bahwa Dialah yang akan menjaga keberlangsungan agama melalui kehadiran para faqih-faqih agama.


Artinya, kita perlu evaluasi jika kehadiran para mufassir dan faqih ini kita tentang. Bukankah itu sama dengan kita menentang Tuhan yang menjanjikan hal tersebut ?.


Asbab itulah, kita perlu paradigma baru untuk di sosialisasi pada publik. Paradigma yang akan membantu kita memahami sesuatu yang baru, serta membantu kita meniti jalan-jalan perubahan yang semakin banyak nampak dan terlihat di mata.


Paradigma yang bukan hanya sekedar point of view, tapi risalah baru yang akan membawa kita pada kedamaian umat manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifatul fil ardh.


***


Harapan besar kedepan, semoga semakin banyak jaringan masyarakat yang terilhami dengan paradigma-paradigma baru dan mencerahkan. Sehingga peradaban manusia entah apapun ras dan gen-nya akan terus mempertahankan agama sebagai sesuatu yang senantiasa relevan terhadap kehidupan. Dan bentuk peng-Agungan kita terhadap Dia Yang Haq bahkan sebelum Haq itu ada dan kita pahami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...