Langsung ke konten utama

Membaca Jokowi (3) ; Keberlanjutan, Privilege, dan Metafora

Mungkin ini adalah opini ketiga yang saya tulis dengan tajuk awal "Membaca Jokowi" dan menyoroti momen yang kurang lebih sama, pidato Jokowi tepatnya.


Beberapa waktu lalu, gelaran Nusantara Bersatu yang disebut merupakan hajatan para relawan Jokowi digelar di Gelora Bung Karno dan menyisakan berbagai reaksi dari publik, mulai dari jadi pembicaraan rakyat di warung kopi hingga tanggapan dari beberapa elite partai, termasuk partai tempat Jokowi bernaung, PDI Perjuangan.


Tapi menarik sebenarnya membedah beberapa penggalan kalimat Jokowi dalam pidatonya di Nusantara Bersatu kemarin, meskipun kemudian yang paling ramai dibicarakan publik adalah soal diksi "rambut putih dan muka berkerut" yang dianggap sebagai metafora Calon Presiden pilihan Jokowi nanti.


Paradigma Jaringan Sosial, membantu kita untuk mencoba membaca berbagai kemungkinan berdasarkan content signifikan yang muncul dari berbagai jaringan. Lalu pertanyaan nya, apa saja makna pidato Jokowi dari berbagai jaringan yang ada ?.


Saya mencoba menelusuri berbagai "makna" tersebut dalam beberapa jaringan, dan setidaknya ada banyak sekali content yang muncul, di antaranya ; 


pertama, gelaran pemilu 2024 jika merunut dari jadwal yang telah di rilis oleh KPU adalah sekitar 13 bulan kurang lebih. Artinya Jokowi masih punya waktu 13 bulan untuk terus melakukan berbagai kerja dan menuntaskan program-program yang telah dibesutnya. Namun sayang, iklim politik negeri ini memberikan ruang yang besar untuk orang-orang berekspresi terutama mendekati tahun pemilu, termasuk partai-partai politik yang sudah ribut mencari koalisi ataupun mendeklarasikan calon Presiden yang akan di usungnya pada gelaran Pilpres 2024 mendatang.


Oleh sebab itulah, bagi Jokowi ini justru "kelancangan" yang patut diperingatkan. Karena apa ? wong dia masih 13 bulan jadi Presiden, kok orang-orang dan notabene para parpol yang masuk dalam komposisi kabinetnya sudah sibuk bicara penggantinya, dan perilaku ini bagi beberapa jaringan "mengusik" Jokowi serta mendorongnya untuk reflektif melakukan manuver sebagai "allert" lah istilahnya agar para elite politik ini jangan dulu bicara pengganti sampai waktu untuk itu telah sampai. Dalam artian, gong untuk berlaga di Pilpres yang dimulai sekitaran bulan September tahun depan telah tiba waktunya.


Kedua, ada juga beberapa jaringan yang mencoba memaknai bahwa ini adalah "manuver" Jokowi untuk menunjukkan powernya sebagai seorang incumbent dan pemenang kontestasi. Maksudnya apa ? hampir dalam semua kontestasi yang diikuti oleh Jokowi dia keluar sebagai pemenangnya, dari tingkat terendah pada Pilwako Solo dia berhasil menjabat selama dua periode, dilanjutkan ikut dalam laga Pilgub Jakarta dia juga keluar sebagai pemenang, dan dua kali berlaga melawan Prabowo dalam Pilpres dia juga keluar sebagai seorang "the winner". Maka bagi Jokowi, ini adalah "privilege" dan hanya dia satu-satunya yang memilikinya. 


Tentu atas dasar itu, elite-elite parpol seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu kepada dirinya, sebelum kemudian sibuk meributkan "pengganti" nya nanti, terlebih apabila itu dilakukan oleh partai-partai yang masuk dalam koalisi pengusung dan kabinetnya sekarang.


Ketiga, ada juga asumsi yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Jokowi ini untuk menegasikan sekaligus bermanuver atas fakta bahwa dia adalah "petugas partai". Selama ini, orang-orang meyakini Jokowi ada di bawah ketiak Megawati Soekarnoputri, bahwa apa yang dilakukan Jokowi juga harus melalui izin MSP sebagai Ketua Umum Partai yang mengusung dan tempat dia berasal.


Kongres PDIP terakhir memberikan Megawati hak preogratif untuk menentukan siapa calon Presiden yang akan di usung oleh parpol mayoritas tersebut. Sampai saat ini, setidaknya ada dua nama yang mencuat dan digadang-gadang bakal di usung PDIP ; Puan Maharani dan Ganjar Pranowo. Namun begitu, karena merasa punya "previlege" tadi, Jokowi menunjukkan bahwa dirinya juga punya ruang yang besar untuk menjadi "king maker" atas kepemimpinan yang akan melanjutkan kerja-kerja eksekutif yang telah dibangunnya selama 10 tahunan ini.


Makanya jika kita lihat, elite-elite PDIP justru berakhir keras atas gelaran Nusantara Bersatu ini, bahkan itu datang dari Sekretaris Jendral PDIP Perjuangan, Hasto Kristiyanto dan beberapa orang lainnya.


Keempat, Nasdem sebagai partai yang telah mengusung Jokowi selama dua periode ini, memutuskan untuk mengusung seorang Anies Baswedan yang mungkin bukan "sosok" yang direstui oleh Jokowi. Kita semua tahu, Anies adalah mantan menteri yang di reshuffle dari kabinetnya. Sebenarnya, definisi "reshuffle" itu ya sama aja dengan dipecat, cuman diksi itu terlalu kasar dalam kacamata opini publik. Itu artinya, sosok Anies Baswedan bukanlah orang-orang yang masuk dalam draftlist Jokowi untuk direstui. 


Namun yang ingin kita baca justru begini, karena keputusan Nasdem tersebut, banyak relawan grassroot yang justru galau karena itu, disatu sisi PDI Perjuangan belum mendeklarasikan calon dan di satu sisi Nasdem justru mendeklarasikan orang yang dianggap "gagal" merepresentasikan nilai "Nasionalis Pancasila".


Maka, satu-satunya pilihan relawan adalah ketiak Jokowi, dan dia memahami hal tersebut. Dia paham bahwa kegalauan relawan ini harus segera di redakan dengan mengkonsolidasi bahwa "silahkan relawan tenang saja, tunggu komando saya, jangan lengah dan mudah terbujuk, sebab saya juga punya legitimasi untuk menjadi king maker", begitu kira-kira.


Kelima, lagi-lagi saya harus bilang bahwa penting bagi Jokowi memastikan Presiden terpilih 2024 mendatang adalah yang direstuinya, sebab ini menjadi penentu terhadap keberlanjutan program-programnya yang telah atau belum terselesaikan. 


Bayangkan jika dia harus bernasib seperti beberapa Presiden sebelumnya yang menjadi korban sistem, dimana setiap pergantian kepemimpinan menjadi momok menakutkan bagi incumbent karena perubahan pada pola kebijakan dan program. Belum lagi berbagai realitas yang memungkinkan itu menjadi jebakan "batman" untuk menyeretnya dalam berbagai masalah, misal contohnya pada kasus SBY soal Hambalang, BLBI, Century, dan sebagiannya.


Keenam, namun ada juga yang menarik perhatian publik dalam pidatonya itu, dan ini yang justru menjadi content signifikan yang muncul pada berbagai jaringan ; soal diksi "rambut putih dan muka berkerut" yang dianggap sebagai tanda pemimpin yang memikirkan nasib rakyat.


Muncul berbagai reaksi dari publik, termasuk yang mencoba menafsirkan diksi metafora yang dipakai oleh Jokowi tersebut. Ada yang mengatakan bahwa itu bentuk dukungan Jokowi kepada Ganjar Pranowo sebab dari semua nama Capres yang muncul, satu-satunya yang punya ciri-ciri tersebut adalah Ganjar.


Namun terlepas dari semua asumsi tersebut, menarik memahami bahwa Jokowi sangat pintar memilih diksi, sebab diksi tersebut menjadi content yang terkoneksi pada banyak sekali jaringan. Dia membuat satu gelombang yang berhasil menyapu banyak pihak untuk membicarakannya, dan Jokowi berhasil melakukan itu.


Tinggal yang bisa dilakukan adalah bagaimana orang-orang yang berhasrat melanjutkan estafet kepemimpinan Jokowi mencoba memakai diksi tersebut untuk terkoneksi pada berbagai pihak. 


Nah, untuk mengelola dan menganalisis diksi tersebut, perlu cara-cara yang pas dan presisi dalam melakukannya, sebab jika calon-calon ini terjebak dan salah langkah, tentu saja akan jadi bumerang bagi dirinya sendiri terutama bila berhadapan pada berbagai jaringan dan berbagai realitas yang ada. 


Lalu bagaimana caranya ? itu bisa kita bicarakan lewat duduk semeja dan ditemani beberapa gelas kopi dan beberapa batang rokok.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...