Lagi-lagi orang ini selalu tahu waktu dan tempat yang pas untuk mengkonstruksi narasinya. Kemarin malam, Partai Perindo menghelat acara ulang tahunnya, dimana hadir pula Presiden Jokowi untuk memberikan sambutan.
Seperti yang saya bilang, Pak Jokowi ini cerdas sekali, dia tahu ”time” yang tepat untuk bicara sesuatu, sehingga apa “notice” yang ingin disampaikan selalu mengalir tepat pada jaringan yang dituju, termasuk salah satunya malam tadi.
Ada beberapa hal yang saya baca dari isi pidatonya kemarin malam, diantaranya ;
Pertama, ini kedua kalinya Presiden Jokowi memberikan notice pada dua hal dengan menggunakan dua diksi singkat, “hati-hati” dan “jangan terlambat”. Kedua diksi ini sama-sama mengarah pada makna ; peringatan.
Apa itu ? sudah ada satu partai besar dari koalisinya pemerintahannya yang dianggap sembrono mendeklarasikan capres tanpa “restu”, terlebih diakhir jabatannya yang salah satu interest-nya adalah tetap mempertahankan “status quo” sebagai Presiden dan agenda untuk memastikan next presiden bisa “dikendalikan”, maka jangan sampai Perindo dan parpol lain yang hadir melakukan “langkah yang sama”.
Lalu juga “peringatan” agar tidak terlambat mendeklarasikan, dapat bermakna “suwun” dan “kompromi” dulu sebelum melakukan itu, juga sekaligus lagi-lagi menyentil “partai-nya sendiri” agar tidak terlalu berkutat pada diksi “kesabaran revolusioner”.
Kedua, ada yang menarik kali ini, bahwa dalam pidato tersebut ada diksi “rekam jejak” dan “pemenang” yang di sampaikan ketika beliau menyebut “walikota 2 periode menang, ditarik jadi Gubernur menang, lalu 2 periode juga sebagai Presiden.. menang”.
Apa yang dapat dibaca ? satu, kemungkinan besar ini adalah simbol nyindir “capres Nasdem” yang hari-hari ini sibuk mengkonstruksi dirinya sebagai orang hebat karena punya ”rekam jejak”.
Maka bisa jadi maksud Jokowi adalah menyampaikan, “ya bukan hanya kamu sendiri lho yang punya rekam jejak bagus”, juga bisa ditambahi “saya ini semua kontestasi menang, lha situkan baru aja sekali jadi gubernur, jadi menteri aja saya pecat karena nggak becus dalam bekerja”.
Dua, ini sekaligus lagi-lagi peringatan kepada parpol yang hadir bahwa sampai hari ini dia punya “status quo” sebagai Pemenang dalam banyak kontestasi, teruji dan terbukti tanpa banyak ngomong seperti “capres-nya Nasdem”. Maka sudah seharusnya partai-partai itu tidak sembrono mendeklarasikan “seseorang” tanpa suwun dan restu darinya dahulu yang memang menyandang status sebagai pemenang.
* * * * *
Barthes mengembangkan semiotika menjadi dua pertandaan, salah satunya adalah ”konotasi” yang menjelaskan hubungan penanda dan pertanda yang didalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti.
Konotasi menjelaskan adanya interaksi yang muncul ketika tanda bertemu dengan perasaan, emosi, dan ”nilai-nilai budaya” si pengguna tanda. Dengan kata lain, konotasi bersifat subjektif (setidaknya intersubjektif), arbitrer, spesifik dalam suatu lingkungan budaya dan sangat tergantung pada ”pengetahuan budaya”. budaya”. (Adityawan S, 2008: 23-24).
Secara sederhana, Semiotika sebenarnya adalah ajakan untuk memahami bagaimana “humanity” memaknai hal-hal dan dalam tradisinya tidak mengenal istilah “salah baca” sebab setiap “reader” dilihat sebagai “truth” karena punya latar belakang “budaya dan pengalaman” masing-masing.
Istilah mudahnya “The Death Of Author”, setelah author mengeluarkan “diksi” maka dia “mati”, yang ada adalah para reader.
Maka dalam diksi “Hati-Hati” dan “Jangan Terlambat”, melalui Semiotika Barthes kita bisa lihat secara konotasi dia bermakna sebagaimana poin pertama dan kedua diatas.
Selain itu, dalam kajian mitos Jokowi setidaknya hendak membawa beberapa pesan. Satu, mengenai regenerasi dalam “tradisi Monarki”, setelah raja adalah “Putra Mahkota”. Tidak ada Putra Mahkota yang ditetapkan tanpa “izin dan restu” seorang Raja sebelumnya, sebab jika itu terjadi akan meruntuhkan “trah” yang penguasa tersebut.
Dua, Raja-raja yang terpilih tanpa “suwun” pada yang punya “status quo”, rentan untuk dikudeta dan dikhianati. Catatan sejarah Nusantara mencatat beberapa “penguasa” yang merasa berkuasa,hebat dan pintar, akhirnya dijegal juga ujungnya sebab menyisakan “musuh” yang lebih punya ”power” ketimbang dirinya.
Komentar
Posting Komentar