Langsung ke konten utama

Membaca Jokowi (2) ala Semiotika Barthes

Lagi-lagi orang ini selalu tahu waktu dan tempat yang pas untuk mengkonstruksi narasinya. Kemarin malam, Partai Perindo menghelat acara ulang tahunnya, dimana hadir pula Presiden Jokowi untuk memberikan sambutan.


Seperti yang saya bilang, Pak Jokowi ini cerdas sekali, dia tahu ”time” yang tepat untuk bicara sesuatu, sehingga apa “notice” yang ingin disampaikan selalu mengalir tepat pada jaringan yang dituju, termasuk salah satunya malam tadi.


Ada beberapa hal yang saya baca dari isi pidatonya kemarin malam, diantaranya ;


Pertama, ini kedua kalinya Presiden Jokowi memberikan notice pada dua hal dengan menggunakan dua diksi singkat, “hati-hati” dan “jangan terlambat”. Kedua diksi ini sama-sama mengarah pada makna ; peringatan. 


Apa itu ? sudah ada satu partai besar dari koalisinya pemerintahannya yang dianggap sembrono mendeklarasikan capres tanpa “restu”, terlebih diakhir jabatannya yang salah satu interest-nya adalah tetap mempertahankan “status quo” sebagai Presiden dan agenda untuk memastikan next presiden bisa “dikendalikan”, maka jangan sampai Perindo dan parpol lain yang hadir melakukan “langkah yang sama”.


Lalu juga “peringatan” agar tidak terlambat mendeklarasikan, dapat bermakna “suwun” dan “kompromi” dulu sebelum melakukan itu, juga sekaligus lagi-lagi menyentil “partai-nya sendiri” agar tidak terlalu berkutat pada diksi “kesabaran revolusioner”.


Kedua, ada yang menarik kali ini, bahwa dalam pidato tersebut ada diksi “rekam jejak” dan “pemenang” yang di sampaikan ketika beliau menyebut “walikota 2 periode menang, ditarik jadi Gubernur menang, lalu 2 periode juga sebagai Presiden.. menang”. 


Apa yang dapat dibaca ? satu, kemungkinan besar ini adalah simbol nyindir “capres Nasdem” yang hari-hari ini sibuk mengkonstruksi dirinya sebagai orang hebat karena punya ”rekam jejak”. 


Maka bisa jadi maksud Jokowi adalah menyampaikan, “ya bukan hanya kamu sendiri lho yang punya rekam jejak bagus”, juga bisa ditambahi “saya ini semua kontestasi menang, lha situkan baru aja sekali jadi gubernur, jadi menteri aja saya pecat karena nggak becus dalam bekerja”.


Dua, ini sekaligus lagi-lagi peringatan kepada parpol yang hadir bahwa sampai hari ini dia punya “status quo” sebagai Pemenang dalam banyak kontestasi, teruji dan terbukti tanpa banyak ngomong seperti “capres-nya Nasdem”. Maka sudah seharusnya partai-partai itu tidak sembrono mendeklarasikan “seseorang” tanpa suwun dan restu darinya dahulu yang memang menyandang status sebagai pemenang.


* * * * *


Barthes mengembangkan semiotika menjadi dua pertandaan, salah satunya adalah ”konotasi” yang menjelaskan hubungan penanda dan pertanda yang didalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti.


Konotasi menjelaskan adanya interaksi yang muncul ketika tanda bertemu dengan perasaan, emosi, dan ”nilai-nilai budaya” si pengguna tanda. Dengan kata lain, konotasi bersifat subjektif (setidaknya intersubjektif), arbitrer, spesifik dalam suatu lingkungan budaya dan sangat tergantung pada ”pengetahuan budaya”. budaya”. (Adityawan S, 2008: 23-24).


Secara sederhana, Semiotika sebenarnya adalah ajakan untuk memahami bagaimana “humanity” memaknai hal-hal dan dalam tradisinya tidak mengenal istilah “salah baca” sebab setiap “reader” dilihat sebagai “truth” karena punya latar belakang “budaya dan pengalaman” masing-masing. 


Istilah mudahnya “The Death Of Author”, setelah author mengeluarkan “diksi” maka dia “mati”, yang ada adalah para reader.


Maka dalam diksi “Hati-Hati” dan “Jangan Terlambat”, melalui Semiotika Barthes kita bisa lihat secara konotasi dia bermakna sebagaimana poin pertama dan kedua diatas. 


Selain itu, dalam kajian mitos Jokowi setidaknya hendak membawa beberapa pesan. Satu, mengenai regenerasi dalam “tradisi Monarki”, setelah raja adalah “Putra Mahkota”. Tidak ada Putra Mahkota yang ditetapkan tanpa “izin dan restu” seorang Raja sebelumnya, sebab jika itu terjadi akan meruntuhkan “trah” yang penguasa tersebut.


Dua, Raja-raja yang terpilih tanpa “suwun” pada yang punya “status quo”, rentan untuk dikudeta dan dikhianati. Catatan sejarah Nusantara mencatat beberapa “penguasa” yang merasa berkuasa,hebat dan pintar, akhirnya dijegal juga ujungnya sebab menyisakan “musuh” yang lebih punya ”power” ketimbang dirinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...