Setidaknya, ada beberapa alasan kenapa Jokowi tidak “merestui” Nasdem mengusung AB sebagai Presiden dengan penggunaan diksi “sembrono” pada pidatonya di gawaian Partai Golkar kemarin ;
1. Jokowi harus memastikan bahwa next Presiden bisa “dikendalikan” untuk urusan proyek rezim yang sedang berlangsung. Salah satu mega proyek itu bernama “IKN”, dan memastikan poin diatas adalah bagian dari agenda besar Jokowi dkk. Para investor tentu mempertimbangkan aspek politis untuk mengucurkan dana dalam pekerjaan ini, tapi mereka perlu memastikan ”who next Presiden?” dan apakah ”ruling party” akan berpindah atau yang sekarang bisa hatrick.
2. Beranjak dari poin pertama, apakah AB bisa dikendalikan ? sepertinya teman-teman tahu rahasia publik about it, ya! AB salah satu yang tidak bisa dikendalikan sebab “patron-nya” juga rival Jokowi dan ruling party saat ini, itu terlihat jelas pasca reshuffle kabinet yg AB menjadi salah satu yg gugur. Itu juga terlihat pasca AB berkuasa di Ibukota, koordinasi ke Pusat semacam “terputus” itu bisa dilihat sekarang ketika HBH diperintahkan untuk membangun kembali konektivitas antara Pusat dengan Ibukota.
3. Kenapa saya sebut “patron” AB itu rival Jokowi dan ruling party sekarang ? itu lagi-lagi rahasia publik. Selama masa kebersamaannya dengan Jokowi, JK tidak diberikan akses untuk urusan “proyek Infrastructure” dan kebagian porsi yang cukup kecil. Apatah lagi ditengah-tengah masa itu, Jokowi banyak mencampakkan pion-pion JK, sebutlah AB atau SS diantaranya.
4. Beranjak lagi dari poin tiga, cukup hebat bahwa Jokowi paham dia berada dalam situasi yang tepat untuk menyampaikan itu, sekaligus peringatan atas beberapa pihak. Dia menyampaikan itu di gawaian Golkar yang tepat didepan matanya duduk seorang JK, dia juga sekaligus memberikan ”allerta” kepada jaringan Golkar non JK untuk “ojo kesusu dan semborono lho ya!”.
5. Bagaimana dengan Nasdem ? ah saya rasanya punya julukan yang cocok. Kalau dalam kajian International Relation mazhab Realism ada istilah “Security Dillema”, sepertinya saya harus pakai istilah “Nasdem Dillema” untuk situasi ini. Kenapa begitu ? karena ada banyak hal juga yang membuatnya demikian, serta ada banyak kemungkinan yang terjadi, yang pasti operasi lintas jaringan terjadi disini. Kita tuliskan dalam tema yang berbeda saja untuk itu.
6. Apakah AB,JK,SP,dkk tidak reflektif atas itu ? ya jelas akan reflektif. Semua punya purpose kok, berarti pola forecastnya bukan lagi tentang siapa menang atau tidak, tapi pada “apa” yang mereka lakukan setelahnya.
7. Tapi harus kita akui, Jokowi dan pembisiknya adalah elite yang “cerdas” mengelola content dan jaringan yang ada. Tahu kapan dan dimana itu semua harus di konstruksi. Apa buktinya ? stabilitas pada kekuasaannya selama ini.
8. Tapi lagi-lagi, ini hanya soal purpose manusia yang membuat mereka saling reflektif terhadap capaian purpose-nya. Yang pasti, sebagai penikmat kita harus pintar-pintar membaca realitas yang terjadi, bila analisis tidak tepat, forecast nya bisa tidak presis, dan yang lebih penting memahami bahwa ini semua tidak lagi tentang hitam putih atau benar salah, semua dianggap penting bahkan yang orang anggap tidak penting dan tidak menegasikan apapun.
Komentar
Posting Komentar