Langsung ke konten utama

Membaca Fenomena Swing Voters

Oktober lalu, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis angka survei elektabilitas yang semestanya adalah parpol yang saat ini berada di parlemen. SMRC melakukan survei terhadap 1.220 responden yang tersebar di 34 provinsi lalu dikalkulasi menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat toleransi kesalahan (margin of error) sebesar 3,1% dan tingkat kepercayaan 95%.


Data tersebut memotret adanya “perubahan” pada angka elektabilitas parpol parlemen ditahun 2019 dibandingkan saat terakhir survei ini dilakukan. Salah satu konklusi yang disebutkan oleh peneliti SMRC adalah terdapat fenomena “swing voters” pada pemilih yang mengakibatkan perubahan terhadap tingkat elektabilitas parpol parlemen menjelang pemilu tahun 2024.


Misalnya, dari hasil survei itu disebutkan terdapat dua partai yang mengalami kenaikan pada persentasi elektabilitasnya dibanding 2019. PDIP pada 2019 mendapat angka 19,3% kini berubah menjadi 24% karena mengalami kenaikan sebanyak 4,7%. Hal yang sama juga terjadi pada Gerindra dimana 2019 memperoleh 12,6% berubah menjadi 13,4% karena mendapat kenaikan tipis 0,8%.


Sedangkan terdapat 6 partai lain yang menunjukkan penurunan signifikan terhadap tingkat keterpilihannya, misalnya Golkar sebagai pemenang kedua di 2019 mendapat angka 12,3% kini berubah menjadi 8,5% karena terjadi penurunan sekitar 3,8%. Hal yang sama terjadi pada PKB dari 9,7% menjadi 7,1%, PKS dari 8,2% menjadi 6,9%, Demokrat 7,8% menjadi 5,5%, Nasdem 9,1% menjadi 5,4%, dan terdapat dua partai yang disinyalir gagal memenuhi ambang batas Parlimentary Treshold yaitu PPP dari 4,5% menjadi 3,3% dan dipapan bawah ada PAN dari 6,8% menjadi 1,2%.


Saiful Mujani dalam sebuah podcast dikanal Youtube SMRC menyebutkan fenomena “swing voters” ini terjadi lantaran terdapat perubahan perilaku dan minat pemilih sebab adanya “peristiwa” pada masing-masing parpol itu, termasuk salah satunya adalah dipengaruhi gonjang-ganjing Pilpres yang akan datang. Disebutkan bahwa setiap parpol memiliki pemilih loyal dan tidak loyal sehingga perubahan ini kerap terjadi sebab adanya shifting dari pemilih “tidak loyal” parpol tersebut.


* * * * *


Dari simpulan yang disebutkan oleh Saiful Mujani, adakah cara baca “baru” yang bisa digunakan untuk melihat fenomena ini ? jawabannya tentu saja ada.


Pertama, Paradigma Jarsos melihat masyarakat sebagai hubungan antar aktor yang terkoneksi karena kesamaan pada “content” aktor tersebut, dan hubungan itulah yang kemudian membentuk jaringan-jaringan yang saling terkoneksi antara satu dengan yang lainnya, biasanya digambarkan dengan simbol titik dan garis.


Kedua, berdasarkan poin diatas, maka pemilih pada sebuah parpol terkoneksi karena “content” yang sama diantara satu dengan yang lainnya, tentunya ini tidak dilihat secara bipolar karena misalnya dari satu parpol terdapat beragam content dan jaringan yang saling bekerja dengan purpose masing-masing tanpa terjadi dikotomisasi terhadap purpose.


Untuk itulah, fenomena “swing voters” bila menggunakan paradigma jarsos sebagai point of view bisa dilihat sebagai fenomena perubahan “content” pada aktor-aktor yang terlibat. 


Ketiga, lantas kenapa perubahan “content” ini bisa terjadi ? jawabannya bisa banyak, tapi sederhananya setiap manusia itu punya fitur bernama “reflektif”, dan setiap orang punya “purpose” dalam proses sosialnya, sehingga apabila purpose itu terganggu secara otomatis fitur bernama reflektifitas akan diaktivasi.


Jarsos juga melihat bahwa bahwa perubahan itu diskontinue, mudahnya sebagaimana ungkapan Antropolog Rudy Agusyanto yang sering saya ulang bahwa matahari hari ini akan berbeda dengan matahari esok hari, ini sama dengan bagaimana teori Foucault melihat sejarah masa kini adalah untuk mengetahui apa yang terjadi kini (what is today?), yakni bagaimana kekuasaan beroperasi. Sedangkan penyelidikan sejarah masa lalu dilakukan untuk mencari retakan suatu zaman (discontinuity) sebagai usaha untuk menemukan rezim pengetahuan (episteme) apa yang berkuasa pada masa tertentu (archeology of knowledge), dan bagaimana beroperasinya kekuasaan (geneology of power) itu kini.


Keempat, lalu bagaimana mengetahui, membaca dan memahami perubahan content tersebut ? tentu sebagaimana ini disebut sebagai cara baru dalam melihat “swing voters” maka untuk mengatasi itu perlu dengan cara baru pula, dan tentu bisa kita bicarakan lewat segelas kopi dan beberapa puntung rokok🤣.


Akhirnya, yang penting untuk diketahui adalah setiap hal itu pasti berubah, dia tidak akan stagnan dan abadi dalam bentuk yang sama termasuk kekuasaan. Itulah sebagaimana ketika Foucault melihat sejarah sebagai sesuatu yang diskontinue begitupun kekuasaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...