Langsung ke konten utama

Lebah dan Transisi Peradaban Mataram

Orang beriman itu tak lebih seperti layaknya seekor lebah, sebut khatib Jumat di Masjid Gede Mataram siang tadi.


Disebut begitu sebab ada tiga perumpamaan yang menggambarkan kemuliaan seekor lebah ;


Pertama, lebah hanya memilih makanan dari yang baik-baik. Berbeda dengan lalat yang memilih untuk mengutip makanan dari tumpukan sampah, lebah justru menghisap sari-sari bunga yang indah dan elok.


Kedua, asbab memakan yang baik, lebah juga mengeluarkan sesuatu yang baik ; Madu. Jika lalat meninggalkan sesuatu yang kita sebut “tahi lalat”, lebah justru menghasilkan madu yang kaya manfaat dan manis rasanya.


Ketiga, sifat lebah itu setia dan dan menghargai norma. Dia tidak akan mengganggu selama dia tidak di ganggu, begitupun kesetiaannya dalam menjaga sarangnya dari berbagai gangguan.


***


Allah SWT adalah Tuhan yang begitu Indah tiap lukisan-lukisan takdirNya pada manusia, termasuk bagaimana kisah Ki Ageng Pemanahan dan anak cucunya yang berhasil melakukan transisi peradaban besar yang abadi hingga sekarang.


Kala Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir memberikan hadiah penguasaan tanah pada Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Panjawi atas keberhasilan mereka mengalahkan Arya Penangsang, takdir Gusti Allah mengarahkan hati Ki Ageng Pemanahan untuk memilih sebidang tanah yang masih berupa hutan belantara yang dikenal sebagai Alas Mentaok.


Babak pertama tarbiyah Allah pada beliau telah selesai, pembelajaran tentang keikhlasan dan falsafah tentang kekeluargaan di pegang dan di utamakan.


Tidak berhenti di situ, Gusti Allah lantas mengatur babak kedua tarbiyah terhadap Ki Ageng Pemanahan ; kala Sultan Hadiwijaya tidak kunjung memberikan hak atas Alas Mentaok selama bertahun-tahun.


Konon pasalnya, kala pelantikannya Sunan Prapen cucu Sunan Giri meramalkan kelak di daerah Mataram akan berdiri sebuah kerajaan yang lebih besar dari Pajang. 


Hal inilah yang kemudian membuatnya resah, hingga bertaktik untuk terus menunda penyerahan hak penguasaan tanah yang sebelumnya di janjikan akan di babat terlebih dahulu.


Layaknya manusia biasa, untuk mengusir nafsu yang di dorong oleh kekecewaan, Ki Ageng Pemanahan lantas memilih untuk menyepi dan percaya pada segala takdir Allah, bahwa ini adalah bagian dari tarbiyah Gusti Ilahi padanya.


Sunan Kalijaga yang paham kondisi tersebut lantas ”immers” dengan realita itu. Hebatnya lagi dalam waktu sebentar beliau kemudian berhasil menemukan konten signifikan yang mampu mengkonsolidasi kedua belah pihak ; pertama, Ki Ageng Pemanahan harus berjanji untuk tidak mendirikan kerajaan dan kedua Sultan Hadiwijaya mesti segera mem babat dan menyerahkan hak penguasaan Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan.


Masalah selesai, semua pihak berhasil terkonsolidasi, dan kita belajar bagaimana kemudian tarbiyah Allah yang begitu dahsyat kepada Ki Ageng Pemanahan dan begitu suwungnya Sunan Kalijaga dalam menemukan konten penyelesaian masalah keduanya.


Hingga akhir hayatnya, Ki Ageng Pemanahan menepati janjinya ; bahwa tidak akan mendirikan kerajaan sampai akhir kekuasaan Sultan Hadiwijaya.


Namun begitu, sebagaimana di atas, bahwa lukisan takdir Gusti Allah itu begitu indah. Ki Ageng Pemanahan memang benar tidak mendirikan kerajaan, tapi anaknya Danang Sutawijaya atau yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Senopati justru menjadi perintis Kerajaan Mataram Islam. 


Realitas takdir itu tidak menyalahi sumpah seorang Ki Ageng Pemanahan, bahwa dialah yang terikat janji untuk tidak mendirikan kerajaan, bukan anak keturunannya.


***


Sebagaimana kisah tentang lebah yang di sampaikan khatib, faktanya kisah tentang Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati membuktikan hal itu.


Siapa yang membantah pribadi mumtaz seorang Ki Ageng Pemanahan ? maka wajarlah jika anak keturunannya kemudian juga menjadi penyempurna realita itu, sebagaimana lebah yang memakan hal baik maka yang dihasilkan juga sesuatu yang baik.


Hari ini, carikan satu saja wilayah bekas kerajaan di Nusantara ini yang selayaknya keistimewaan Yogyakarta ; jawabannya tidak ada.


Betapa perlunya kita mempelajari dan membangun konektivitas pada amal-amal kehidupan Ki Ageng Pemanahan yang berhasil menghasilkan satu peradaban besar dan abadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...