Dalam tulisan saya yang bertajuk 'BN dan PRN Melaka, Bukti Politik Juga 'Never Ending Meanings' , dimana dalam tulisan tersebut saya menyorot kondisi politik negeri Jiran yang dalam beberapa tahun terakhir harus menghadapi tiga kali pergantian PM karena krisis politik antara pihak penyelenggara kerajaan dan pembangkang.
Sebenarnya jika ditilik lebih jauh, pemaknaan terhadap Never Ending Meanings terhadap pelbagai realitas ini bukan hanya bisa di jelaskan melalui tinjauan kasus saja, bahkan sekaliber Al-Quran pun juga membahas hal yang sama dalam banyak ayat-ayat nya terutama yang menceritakan tentang 'perang dan kekuasaan'.
Sebagaimana ditulis oleh Anis Matta dalam buku terbarunya, Pesan Islam Menghadapi Krisis bahwa Al-Quran menyinggung tentang siklus sejarah dalam ayatnya yang berbunyi ;
"Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 140)
Dalam perang Uhud, makna kemenangan itu senyata-nya selalu subyektif, bilamana mundurnya pasukan muslimin akibat terdesak dimaknai berbeda dalam ayat ini.
Allah mengilhamkan "ketegaran rasional" seperti disebut Anis Matta, dan membuat mereka menyadari bahwa dengan mundur itu justru menjadi langkah 'kemenangan', subyektifitas terhadap realitas.
Lalu sebagaimana kasus krisis politik di Malaysia juga berbagai negara di dunia termasuk Indonesia, makna kemenangan sebenarnya selalu subyektif dan bila dicermati lebih jauh pemaknaannya akan 'Never Ending Meanings'.
Sesuai dengan ayat pergiliran kejayaan dan kejatuhan, kita melihat banyak contoh-contoh konkrit tentang itu, dalan politik, bisnis, ekonomi, dan semua realitas ada 'pergiliran' dan 'pemaknaan' yang tidak terbatas.
Artinya, hidup dengan memahami cara berpikir seperti itu akan membuat kita 'wise' menghadapi berbagai realitas pelik, misalnya bagi pegiat politik tidak akan merasa "heran dan kecewa" jika memang kemenangan yang distandarisasi itu tidak dipegang olehnya.
Pun dalam pertandingan sepak bola, misalnya.
Komentar
Posting Komentar