Debat malam ini disorot banyak orang. Pasalnya, mereka menunggu Gibran disasak habis oleh dua kontestan lainnya, Mahfud yang seorang Profesor Hukum, dan Cak Imin Politisi kawakan Indonesia.
Tapi, yang perlu kita tahu, sejak awal masuk dalam pesta ini, Gibran tidak memasang nilai yang tinggi bagi dirinya. Strategi kononnya. Sehingga, kata Mas Ipang Wahid, misalnya nilai bagi Gibran adalah 5, dan di debat dia hanya cukup menaikkan porsi ke angka 5,5 saja, tentu itu prestasi yang akan disorot banyak orang, dan menenggelamkan dua lainnya.
Berbeda dengan Prof Mahfud dan Cak Imin, sejak awal sebutlah nilainya 8-9. Bila nanti ketika debat malah turun menjadi 6-5, bisa kacau betul elektabilitas keduanya. Di-bully habis-habisan karena dianggap senjata makan tuan. Sebelumnya bilang Gibran anak ingusan, ternyata mereka berdua malah tua-tua idung belang.
Dalam bahasa ekonomi, meminjam istilah HPP. Jika nilai HPP yang ditawarkan ke publik sejak awal tinggi, maka dia akan menemukan market dengan permintaan yang sama pula. Cilaka dua belas bila dia tidak bisa memenuhi ekspektasi market dengan HPP nya yang ternyata rendah.
Maka, pada sudut pandang yang berbeda, cara komunikasi politik Gibran mungkin patut dipuji. Sebab, saat ayahnya dulu nyapres di 2014 dan 2019, dia juga berlakukan gaya komunikasi dengan HPP yang rendah.
Dianggap plonga-plongo dan kurus, ya rakyat kita juga banyak yang sama. Dianggap tidak bisa bahasa Inggris, toh rakyat kita juga sama. Maka, Jokowi adalah Kita menjadi kenyataan, nyata, asli, dan tidak KW.
Tapi, marilah kita terus jalani momentum politik ini dengan gembira. Memilih dengan tahu, bahwa yang kita pilih adalah yang mau tahu. Sayang sekali, bila peristiwa yang mempengaruhi kehidupan kita 5 tahun kedepan, kita acuhkan atau malah taklid pada pilihan yang nyatanya punya banyak bolongnya pula.
Komentar
Posting Komentar