Langsung ke konten utama

Dear PDIP

 Approval rating Jokowi sampai hari ini masih tinggi. Ketua Bapilu PDIP, Bambang Patjul mengakuinya. Secara data, LSI bersama Indikator kompak merilis angka 76% per-November 2023, IndEX bahkan diangka 82%, dan ini membuat Jokowi duduk diposisi sebagai Presiden dengan tingkat kepuasan publik tertinggi didunia.


Dilapangan nyata pun demikian pula. Seorang ibu di Kulonprogo menyatakan bahwa kondisi ekonomi hari ini amat sangat menyulitkan, semua harga pada naik. Tapi saat ditanya apakah ini salah Jokowi dalam memimpin, dia tegas bilang bukan. Yang salah itu orang disekitar Jokowi, para Menteri dan lainnya yang dianggap tidak bisa bekerja.


Beberapa pedagang di Pasar Legi Kota Gede juga begitu. Semua kompak bilang bahwa sekarang situasi sulit, tapi kala ditanya soal apakah ini salah Jokowi, tidak ada satupun dari mereka yang mengamininya.Ini nyata, bahwa secara kualitatif atau kuantitatif, Jokowi berhasil mengemas dirinya begitu apik dimasyarakat. Masa 10 tahunan ini, dipakai olehnya untuk mengatur strategi dan mengkonstruksi persepsi dengan matang.


Oposisi yang tiap hari mengkritiknya pun seakan tak mempan. People power cetusan Amien Rais bahkan didatangi hanya sekian puluh orang. Rocky Gerung apalagi, hanya dibalas dengan ketawa khas Jokowi itu.


Prabowo jelas cepat membaca ini. Bahwa untuk bisa menang, mendompleng Jokowi adalah jalan pintas, maka titik temu segera dibuat, and deal! Gibran lolos jadi wakilnya, dengan ungkapan masyhur seakan menggambarkan bahwa penyertaan Gibran adalah atas restu Jokowi : Tenang Pak Prabowo, saya sudah disini.


Apa respon PDIP ? Banteng Ketaton! seruduk sana-sini memberikan perlawanan dengan semangat bahwa pengkhianatan tentunya harus dihancurkan. Saya paham suasana kebatinan ini, apalagi Jokowi dan keluarganya memang dibesarkan salah satunya atas peran PDIP, sejak dia bukan apa-apa dulu.


Awalnya saya juga termasuk yang menyarankan agar narasi perlawanan dibuat, hitam versus putih, serukan #KamiMuak. Sebab isu MK ini mendapat atensi dari publik, utamanya para mahasiswa, intelektual, budayawan dan bahkan tokoh yang dulu pernah mendukung Jokowi.


Tapi hari-hari belakangan ini saya banyak merenung. Berusaha suwung kalau istilah orang Jawa, dengan realitas yang ada. Salah satunya, pasca Litbang Kompas merilis bahwa Ganjar Mahfud berada diurutan ke-3 dengan perolehan 15,3%. Anjlok jauh daripada hari-hari sebelumnya.


Itulah kenapa saran saya, hentikan narasi perlawanan itu, yang menganggap Jokowi adalah musuh. Justru sebaliknya, katakan saja Jokowi tetap bersama kita, Jokowi bersama PDIP, Jokowi bersama Ganjar, Jokowi adalah Kita.


Saya bocorkan sedikit saja, bahwa dilapangan, beberapa temuan menunjukkan bahwa orang-orang cenderung percaya bahwa yang ‘nitik’ Jokowi itu ya Ganjar, bukan yang lain.Bila kita bedah misalnya angka survey diawal-awal lalu, ketika Ganjar masih menempati posisi tertinggi, ya jawabannya salah satunya karena faktor Jokowi. Belum ada narasi yang secara masif mengatakan bahwa Jokowi pindahkan dukungan ke Prabowo.


Tidak perlu melibatkan emosi untuk mengatakan itu, apalagi membawa faktor-faktor selain usaha mencapai kemenangan. Sebab ini hanya Pilpres yang tujuannya adalah kemenangan.


Bila faktor besar untuk menang itu adalah dengan mendompleng Jokowi, maka lakukan, bukan dengan memusuhinya. Lagipula, Jokowi juga tidak akan tiba-tiba bikin konferensi pers untuk mengatakan bahwa dia tidak bersama Ganjar. Wong perkataan bahwa dia mendukung Prabowo saja tidak pernah secara langsung diungkapkan, selain hanya klaim saja.


Soal rasa kebatinan teman-teman PDIP tentang perilaku keluarga Jokowi, saran saya lagi dengarkan dawuh Bambang Patjul dalam talkshow Total Politik beberap waktu lalu. Selama dalam hitungan kualitas dan kuantitas tidak masuk dalam proses negasi-menegasikan, kita tidak perlu saling berlawanan.


Begitu kurang lebih tangkapan saya atas ungkapannya.Terakhir, bila cara ini sampai membuat Prabowo misalnya baper, sibuk memperkuat bahkan membuat klarifikasi bahwa yang benar-benar didukung Jokowi adalah dia, maka poin plus untuk Ganjar Mahfud, teruskan bekerja dengan narasi itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...