Langsung ke konten utama

Caleg

Harinya sisa 40-an. Angka bagus dan kesannya tengah-tengah, tidak lama serta tidak juga sebentar. Konon dimasa ini langkah-langkah paling strategis mulai dijalankan. Kalau bisa setan dan jin pun segera bekerja untuk pemenangan dirinya.


Biasanya, pada pendekatan lama, mereka akan mulai meng-evaluasi kerja bertahun-tahun sebelumnya. Tebar spanduk, stiker, kalender, sembako, kunjungan sebagiannya itu sudah dapat diakumulasi berapa persen suara untuk dapat naik. Timses dan broker yang paling akan gaduh soal urusan ini, karena bila laporan menyedihkan, sedang uang milyaran sudah dihabiskan, bisa ditendang itu orang sampai ujung Bumi oleh si empunya hajat.


Tapi 2024 ini menarik pula, beberapa temuan malah menujukkan, yang rame dari caleg itu hanya spanduknya. Duit dan sembako yang biasa datang masih urung, beberapa info malah bilang hadirnya benda-benda sakral Pemilu itu nanti diujung. Sepertinya, para calegpun mulai sadar, takut buntung diawal, bagi-bagi nanti diakhir saja.


Disisi lain, mereka agaknya pula mulai paham karakter para pemilih mengambang serta broker-broker politik yang menjamur sana-sini itu, sehingga yang ditempuh bukan bagi langsung tunai seperti program Pemerintah itu, tapi operasi non-elektabilitas, main di penyelenggara. Ini pasti jadi ? nggaklah, resikonya malah jadi lebih besar. 


Pada market ini, sistemnya lelang, siapa paling tinggi dia menang. Kadang ada yang sudah investasi sekian tunai untuk sekian suara, eh ternyata disalip oleh pemilik angka besar yang lebih menggiurkan panitia. Hasilnya ? ambyar. Banyak yang gila, untung kabarnya sudah disiapkan berbagai fasilitas bagi caleg-caleg yang stress dan depresi.


Artinya, langkah money politik sudah mencapai usia senja, seharusnya. Para caleg yang masih berorientasi pada pendekatan uang dengan segala resiko tingginya ini, perlu kesadaran baru. Cara-cara yang lebih kreatif, inovatif, dan tentu berkontribusi pada perbaikan demokrasi. Bayangkan, selain mereka akan hemat budgeting, kita akan melihat perhelatan pemilu begitu megah dengan para sosok yang kian pandai mengambil hati pemilih. 


Ya, uang memang akan diterima, tidak ada pemilih yang akan menolak uang itu. Tapi ada yang luput, bahwa mereka manusia, berpikir-berjiwa-dan mampu merasa. Sebagian kenapa meminta ? karena produksi pikirannya sejauh ini adalah, mereka yang terpilih akan LUPA. 


Uang kartal itu, dianggap punya nilai “harga”. Maka, kala mereka tahu akan dilupakan, harga tawar awal itulah yang diminta, supaya pun kalau si caleg terpilih dan lupa diri, sudah ada feedback yang diterima. Ini menandakan masyarakat kita tidak bodoh, mereka berpikir, reflektif terhadap apa yang mereka alami dan rasakan.


Maka, seharusnya caleg-caleg itu mulai sadar untuk rajin mendengar dan mencari tahu. Apa sih yang rakyat mau, apa yang mereka rasakan hari ini, besok, dan dimasa depan. Layaknya matahari, yang selalu hadir menyinari, disitulah caleg sebagai pemegang mandat Wakil Rakyat memposisikan dirinya. 


Tapi, apa ada ya ratusan orang itu yang punya kesadaran sebegini idealis ? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...