Pada suatu hari, dengan menunggangi kuda datanglah seorang pimpinan kolonialisme Inggris ke India dan menjumpai seorang penduduk disana. Dalam kesempatan itu, terjadi dialog seru antara keduanya ;
Inggris : dengar! dengar! Atas perintah Yang Mulia Ratu kami telah tiba! Kamu yang ada disana, apa nama tanah ini ?
India : Ada tanah disini ? ini disebut "India" bukan tanah,
Inggris : Baiklah sobat, kami ada disini untuk memberitahukan bahwa India sekarang berada di bawah kerajaan Inggris!
India : (sambil melihat ke atas langit) Dan saya senang bahwa saya dapat memberitahu anda bahwa India persis seperti kemarin, gak ada Inggris diatasnya.
Inggris : (agak sedikit kesal) bukan itu yang aku maksud, saya memberi tahuanda bahwa kami disini untuk menjajah anda atas perintah Ratu!
India : Siapa ratunya ? (dengan aksen khas Indianya)
Inggris : Sang Ratu. Ratu Inggris Raya yang ditahbiskan oleh Tuhan!
India : Tuhan yang mana ?
Inggris : Hanya ada satu Tuhan! satu-satunya Tuhan yang benar, dan anda harus menyembahnya.
India : Anda ingin saya menyembah Tuhan anda, tapi tidak memberitahu saya namanya? ada banyak Dewa disini, ada Shiva Laksmi Krishna. Lalu apa nama Tuhanmu ?
Inggris : Namanya Tuhan! (jawabnya sambil berteriak)
India : Anda tidak tahu nama Tuhan anda ? mirip papa atau mama ? Anda menyuruh saya menyembah Tuhan anda tapi tidak memberi tahu namanya, lalu bagaimana saya akan menyembahnya ?
Setiap pagi saya bangun, dan saya berdoa 'Ya Tuhan, Ya Tuhan, saya berharap anda dapat membantu saya Tuhan, lalu saya saya harus memilih tidak tidak, bukan anda, Tuhan yang lain. Tidak tidak, Tuhan yang lain lagi. Tidak, Tuhan yang belakang lagi, bukan anda anda hari ini, Tuhan lain.
Inggris : (saking kesalnya dia lalu berteriak) Beraninya anda berbicara seperti itu kepada saya! anda tidak tahu siapa saya?
India : Tidak, karena anda tidak pernah memperkenalkan diri, pak
Inggris : Saya datang kesini mewakili Inggris Raya!
India : dan saya belum pernah mendengar tentang Inggris Raya. Siapa yang memberimu nama itu ?
Inggris : Maksudku bukan itu, aku mewakili Inggris Raya! sebuah negara hebat!
India : Lho? anda datang kesini dan berkeliling dunia hanya untuk mengatakan aku "hebat" ?
Inggris : No! kami melakukannya secara naluriah, bahwa kami adalah Inggris Raya!
India: Nah, kalau begitu Welcome to Great India!
Inggris : Bukan itu yang ku maksud! Beraninya kamu berbicara itu kepadaku
India : Bukan aku yang lancang, tapi kamu yang begitu. Aku disini hanya untuk berbisnis dan bertani, lalu kamu datang sambil menunggang sapi yang kurus ini lalu memberi tahu saya bahwa segalanya akan berubah.
Selepas itu, prajurit Inggris ini kewalahan menghadapi penduduk ini lantas pergi sambil misuh-misuh.
* * *
Dialog ini mengarahkan kepada kita fakta bahwa "realitas" apapun itu bentuknya adalah hasil dari sosialisasi, hasil dari tambal sulam berbagai realitas lainnya.
Meski begitu, kita jumpai hari ini masyarakat kita yang terjebak pada batas-batas struktural dan membawa mereka pada kekakuan dan pengakuan terhadap "orisinalitas".
Begini, beberapa hari yang lalu, dalam sebuah webinar membahas seorang tokoh Islam dan karyanya, beberapa narasumber dalam gelaran tersebut mengatakan bahwa "kita hari ini terlalu banyak mengkonsumsi hasil-hasil pemikiran para orientalis, atau lebih tepatnya kita banyak terjebak pada wacana-wacana Barat dalam mensyarahkan pemikiran Islam".
Sederhananya, dia meminta agar para pemikir dari kalangan "Islam" tidak serta merta mencomot hasil pikiran orang-orang "Barat" dan "Kafir" yang berupaya mensyarahkan pemikiran-pemikiran tokoh Islam. Akan lebih baik, jika kita merujuk pada kalangan "Islam" saja, boleh mengambil tapi dalam upaya menambah khazanah dan tidak terjebak padanya.
Oke, sebelum kita mencoba men-challange ungkapan di atas, mari membahas beberapa hal berikut ini ;
* * *
satu. Kita tentu mengenal nama Ibnu Khaldun dan karya monumentalnya "Mukaddimah", dimana dalam buku tersebut banyak sekali khazanah-khazanah pemikiran Khaldun mengenai sosiologi-antropologi-politik-ekonomi- dan lain sebagiannya.
Karya ini juga banyak disyarah oleh para "orientalis" bahkan tidak sedikit yang kemudian menjadi inspirasi para pemimpin-pemimpin dari dunia Barat.
Namun dalam sebuah jurnal bertajuk "Ibnu Khaldun and The Greek Philosophy : some notes from the Muqaddima" karya Said Ahmad disebutkan bahwa Khaldun sendiri dalam penulisan Mukaddimah banyak terpengaruh filsafat-filsafat Yunani. Bahkan Khaldun sendiri menganggap Aristoteles adalah "the first teacher" or "Al Muallim Al Awwal".
So, apakah lantas kita sebut karya beliau ini syubhat dan diragukan karna banyak mencomot dan terpengaruh pemikiran para filsuf Yunani ?
dua. Masa pencerahan Eropa atau kita kenal dengan istilah "Renaisans" adalah satu masa dimana muncul kritik terhadap otoritas Gereja masa itu yang dianggap sangat otoritarian dan mengganggu perkembangan Ilmu pengetahuan.
Nama-nama seperti Galileo Galile, Nicholas Copernicus, Leonardo Da Vinci, Michelangelo, Michel de Montaigne, dan lainnya sebagiannya itu rupa-rupanya terpengaruh pada pemikiran-pemikiran seorang ulama Muslim bernama "Ibnu Rusyd".
Ibnu Rusyd adalah orang yang berhasil mengumpulkan dan mensyarah pemikiran Aristoteles masa itu, dalam pengasingannya kala itu yang dekat dengan wilayah Eropa, banyak orang-orang datang berguru padanya hingga kini dikenal kelompok itu sebagai "Avveroisme".
* * *
Maka hari ini, bila ada kalangan-kalangan yang kemudian membuat wacana batas-batas terhadap pemikiran seharusnya mengokohkan terlebih dahulu tahapan ontologi supaya tidak terjebak pada supremasi orisinalitas.
"Kita tidak boleh mengambil dari Barat, cukuplah kita paham pemikiran mereka dan hanya merujuk pada kalangan Islam saja!"
Lho, ini bisa jadi mereka tidak paham bahwa pada dasarnya semua realitas termasuk pemikiran-pemikiran itu adalah hasil dari budaya tambal sulam.
Bukti lagi bahwa budaya itu sebenarnya tambal sulam dan saling meminjam misalnya pada diksi-diksi berikut ;
satu. Tuhan, di kalangan Kristen dan Katholik Indonesia misalnya mengenal istilah Allah Bapa, Yesus, dan Roh Kudus.
Coba tanyakan pada orang-orang Kristen dan Katholik di Eropa, apakah mereka mengenal Tuhan, atau Allah Bapa, atau sebagiannya?
Justru disana hanya mengenal istilah God untuk menyatakan yang sebut sebagai "Tuhan atau Allah Bapa" tadi.
dua. Surga, apa yang ada di bayangan orang Islam tentang surga ?
Jannah itu adalah taman-taman yang di dalamnya teraliri sungai-sungai dan lain sebagiannya, nah bagi orang Jawa atau Hindu, Surga adalah yang ada dipuncak gunung, ada di antara awan-awan, dijaga oleh Dewa Indra dengan gajah-gajahnya, dan lain sebagiannya.
tiga. Hukum Islam, tentu di bayangan kita hukum Islam adalah sesuatu yang merujuk pada nash Al-Quran dan Hadist yang pasti orisinil ?
Apakah benar ?
Al-Quran turun melalui Rasulullah lalu di sosialisasikan ke orang-orang yang hidup dimasa itu, lalu orang-orang ini berpencar dan beranak cucu hingga muncullah misalnya istilah "mustholah hadist" dalam proses pengumpulan nash-nash ini.
Hari ini, jika kita tanya kalangan Syiah, mereka tidak akan percaya pada Al-Quran yang beredar di kalangan sunni, mereka juga tidak akan percaya pada hadist yang dalam riwayatnya terdapat nama Amr Ibn Ash, Muawiyah, dan hanya menerima yang dari Fatimah, Ali Ibn Thalib, dan 12 Imamnya.
Dalam proses pembuatan Al Quran misalnya, kita jumpai angka-angka yang ada itu juga meminjam dari kebudayaan Hindu, lalu apakah masih bisa kita sebut sebagai orisinil dalam case-case di atas ?
Belum lagi karya-karya yang disyarah oleh ulama juga menyesuaikan tempat-waktu dan masa dia menulis karya tersebut, dan banyak sekali akan kita temukan singgungan dengan hukum-hukum Roman dan Persia.
Lalu adakah yang bisa kita sebut sebagai Islam orisinil ? maka akan bertanya kita, Islam yang mana ?
empat. Muhammad, tahukah anda nama ini didapat Abdul Mutholib dari seorang pendeta kala ia sedang pergi berdagang ke Syam ?
lima. Kubah, tentu asosiasi kita akan mengarah pada Masjid ?
Tapi benarkah kubah hanya berasosiasi pada Masjid ?
kalau kita pergi ke Rusia, kita akan jumpai gereja-gereja ortodoks yang akan sama persis kubahnya dengan kubah masjid.
atau Hagia Sophia misalnya, diakan awalnya dibangun sebagai Gereja ? coba lihat kubahnya, itu akan sama persis dengan kubah-kubah masjid kita hari ini.
dan berbagi realitas lainnya yang bisa kita gali lebih dalam berkaitan dengan budaya saling pinjam atau tambal sulam ini.
* * *
Apa yang dapat disimpulkan ?
1. Sudah saatnya kita berhenti terjebak pada wacana batas-batas ini, tidak boleh terjebak pada orientalis, barat, dan sebagiannya. Sebab pada dasarnya, realitas termasuk ilmu pengetahuan kita hari ini semuanya tambal sulam, saling pinjam dan melengkapi.
2. Saya tidak sedang berusaha mencampur adukkan dan melakukan supremasi kebenaran, sebab pada akhirnya yang harus kita ketahui dari semua fakta ini bahwa "kebenaran itu ada pada jaringan".
3. Beranjak dari kebenaran pada jaringan tadi, kita akan lebih luwes dan mudah dalam beragama dan belajar dan tidak mudah mendaku orisinalitas pada yang kita pahami.
Misal, Islam saya yang paling benar, dalil ini yang paling shohih, lho apa iya ?
Maka seharusnya, yang muncul adalah ; pada jaringan saya saya, Islam yang benar itu begini, begini dan begini.
4. Pada akhirnya, diskursus tentang ilmu pengetahuan akan lebih maju dan damai kala ontologi kita kokoh dan pemahaman berkaitan tambal sulam ini kita ketahui. Kita akan semakin kuat menganut apa yang kita yakini, serta tidak mudah menegasikan apa yang orang yakini.
5. Kemajuan ilmu pengetahuan akan semakin pesat, bilamana kita paham pada dasarnya semua adalah tambal sulam, tidak ada yang benar-benar asli, sampai saat ini.
6. Tulisan ini, bebas untuk di kritisi, di challange, atau ditambahkan. Mari berdialektika dengan indah.
Komentar
Posting Komentar