Langsung ke konten utama

Bisakah Prabowo Seperti Anwar Ibrahim ?

Suatu hari, saya berjalan-jalan di sekitar kawasan Kota Surabaya, kemudian melipir ke sebuah kedai 'emperan' untuk sekedar memesan segelas kopi dan menyundut sebatang-dua batang rokok. Pemilik kedai tersebut adalah dua orang suami istri yang mungkin berumur sekitar 60-70an tahun. Setelah duduk di kursi yang berhadapan dengan meja tempat dia mengolah berbagai macam minuman, saya lantas memesan segelas kopi, "Kopi ada pak? segelas ya" ucap saya padanya.


Dia lantas berkata "Siap!" lalu mulai menyeduh kopi untuk saya, setelah selesai dan meletakkan gelas kopi tersebut dihadapan saya, dia lantas dengan ramah dan iringan sumringah berucap, "Ini kopi paling weunak sak Suroboyo dek, monggo" katanya, kemudian saya balas "Wah, tenan tah? aku cobain ya!" jawab saya sambil menyeruput seteguk dua teguk kopi tersebut.


"Duh, iki kopine jos gandhoss, weunakk poll rek" bilang saya sambil memancarkan senyum cerah, "Lho, jelas, yang bikin orang paling guanteng iki" balasnya sambil tergelak, istrinya yang tadi tidur juga bangun memperhatikan obrolan kami. 


Setelah itu, obrolan kami berlanjut terus hingga ke hal-hal yang tak saya duga sebelumnya, dia "notice" tema politik sampai kemudian bilang begini, "Aku ini ya sudah tua kan ya, jadi berharap walaupun ibadah ndak banyak tapi bisa bikin senyum orang kan sudah bagus, tadi kamu juga ketawa kan, nah bagus itu, bisa jadi pahala buatku sekaligus buatmu juga." tukasnya, "Tapi ya itu, ada juga orang yang sudah bau-bau tanah atau ya masih muda tapi ndak mikirin yang kayak-kayak gitu, taunya duniaaaa sajaa." tambahnya lagi sambil raut muka yang terlihat cukup serius.


"Lho, emang siapa tah pak yang begitu?" tanya saya merespon ucapannya, "Ituloh, orang-orang kaya, para politisi, yang njabat-njabat itu mana ada mikirin koyo ngene, taunya ngumpulin duit banyak-banyak itu pun yaa kadang kurang, malahan banyak kan ya yang korupsi itu, nah itu lebih parah lagi" bilangnya terlihat lebih serius. Dia kemudian berhenti sejenak sebab ada pelanggan yang membeli air mineral kemudian duduk lagi dan langsung berucap "Cuman ya ndak semua juga nak yang begitu, ada juga yang baik-baik, kayak pak Jokowi itu, nah itu baru bagus presidennya, aku ini hidup dari zaman Soeharto baru kali inilah yang bagus ini." tambahnya.


Saya yang tertarik dengan kalimat terakhirnya ini mencoba menggali lagi lebih dalam, lalu saya tanya kepadanya "Lalu gimana ini pak, kan udah mau selesai masa pak Jokowi ini, siapa kira-kira yang bisa gantikan supaya baik atau lebih baik juga kayak pak Jokowi itu?" ucap saya, dia kemudian menjawab "Ya tadi itu, jarang yang kayak pak Jokowi itu, dulu aku milih dia kan karena yakin bisa mbangun, sekarang keliatan kerjanya itu, tapi kalau buat yang gantikan sih menurut ku ya kayaknya pak Prabowo" jawabnya.


"Lho, kok pak Prabowo pak? kan dia dulu dua kali berlawanan dengan pak Jokowi?" tanya saya heran, dia lantas menjawab "ya kan sekarang dia sudah jadi Menterinya pak Jokowi toh? aku liat kerjanya juga bagus itu, kan kita juga perlulah kasih kesempatan buat pak Prabowo, selama ini kan kita ndak ngasi kesempatan buat beliau membuktikan dia bisa atau ndak, nah sekarang kita berikan lah dia itu kesempatan buat membuktikan, sekarang sebagai menteri saja kan keliatan itu bagusnya, jadi kita coba dulu, belum rasa kan belum tau" jawabnya sambil senyum.


Berikutnya obrolan kami terus berlanjut sampai kemudian saya pamit untuk melanjutkan perjalanan, di akhir bapak penjaga kedai itu bilang ke saya, "Kalau ke Surabaya lagi, jangan lupa ya singgah kesini, wajib! nanti tak buatkan kopi ter weunakkk sak Indonesia" tukasnya sambil ketawa. "Siappppp grakkk!" jawab saya kemudian.


* * *


PRU 15 Malaysia lalu menorehkan catatan sejarah yang luar biasa, Anwar Ibrahim, pemimpin oposisi berpuluh tahun lamanya kini menduduki kursi Perdana Menteri ke 10 Malaysia. 


Siapa tidak kenal Anwar Ibrahim, tokoh politik Malaysia ini memulai riwayat perjuangannya ketika menubuhkan Gerakan Pemuda Muslim Malaysia atau ABIM pada 1971 lalu menjadi Presidennya. Dia sering berlawanan dengan Barisan Nasional atau BN sebagai koalisi politik yang memerintah Malaysia pada saat itu.


Namun pada 1982, atas tawaran Mahathir Mohammad yang juga Perdana Menteri pada masa itu, ia ditawari untuk masuk kedalam Parti UMNO, sebuah partai politik yang mendominasi dalam koalisi Barisan Nasional hingga saat ini. 


Sejak memutuskan bergabung, karier Anwar kian melesat mulai dari menjadi menteri kebudayaan, pemuda, dan olahraga (1983), menteri pertanian (1984), dan menteri pendidikan (1986–91). Kemudian diangkat menjadi menteri keuangan (1991–98) dan terakhir sebagai wakil perdana menteri (1993–98).


Namun malang tak dapat ditolak, di tengah kegemilangan itu, dia kemudian memiliki masalah dengan Mahathir Mohammad yang dulu mengajaknya bergabung, tersebutlah isunya Tun M merasa pamornya terlibas oleh kecerahan pamor Anwar saat itu. 


Akibat dari konfrontasi tersebut, Anwar dipecat dari seluruh jabatannya baik di pemerintahan atau Partai UMNO, kemudian disebut Tun M melakukan manuver dengan menjebloskan Anwar ke dalam penjara selama 6 tahun lamanya atas tuduhan korupsi. Setelah keluar, Anwar kemudian menubuhkan gerakan Reformasi dan kembali menjadi oposisi di Parlemen Malaysia, namun lagi-lagi malang tak boleh di tolak, gerakan itu mengudang manuver dari berbagai musuhnya, hingga kemudian dia dipenjara kembali pada tahun 2014 atas tuduhan yang cukup keji, sodomi.


Yang menarik kemudian adalah, dalam jeruji besi tersebut, istri dari Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail memainkan peran menggantikan suaminya sebagai pengerusi atau Ketua dari koalisi politik Pakatan Harapan kemudian menjalin kerja sama kembali dengan rival tua Anwar, Mahathir Mohammad. 


Dalam PRU ke 14 Malaysia di 2018, PH berhasil menumbangkan Barisan Nasional sebagai incumbent yang tak pernah kalah dalam kurun 60 tahun dan menubuhkan kerajaan PH dengan Mahathir Mohammad sebagai Perdana Menteri. Salah satu kesepakatan yang telah dibangun sebelumnya adalah, ketika Tun M berhasil menjadi Perdana Menteri, maka dia membantu Anwar Ibrahim untuk keluar penjara kemudian bertukar posisi untuk memberi Anwar jabatan Perdana Menteri tersebut. 


Namun begitulah dinamisnya politik, terdapat pengkhianatan dari tubuh PH yaitu Azmin Ali yang kemudian dikenal sebagai "Langkah Sheraton" yang membuat Tun M harus mundur karena kehilangan suara mayoritas Parlemen dan Anwar gagal menjadi Perdana Menteri. 


Menakjubkannya, pada PRU 15 lalu, semua koalisi politik ataupun Partai Politik gagal mendapatkan suara mayoritas untuk menubuhkan kerajaan atau kabinet pemerintahan. Sempat terjadi deadlock antara masing-masing koalisi politik tersebut sebab sebelumnya baik PH,BN, dan PN sebagai tiga koalisi besar merupakan rival politik dan sulit mencapai kata sepakat.


Akhirnya, Yang Di Pertuan Agong bersama raja-raja dari 9 negeri Melayu di Malaysia mengambil keputusan untuk memerintahkan setiap koalisi politik berkomunikasi dan memutuskan untuk menubuhkan kerajaan perpaduan, pertama kali dalam sejarah. 


Setelah keputusan itu keluar, BN memutuskan untuk bersedia menubuhkan kerajaan perpaduan asal bukan PN yang menerajui atau menjadi Perdana Menteri nya, dan pada akhirnya keputusan BN tersebut jatuh kepada PH yang sebenarnya merupakan rival tua yang ketika masa pra PRU 15 saling olok dan bermusuhan.


Atas keputusan tersebut, YDPA akhirnya mengangkat Anwar Ibrahim yang merupakan pengerusi Pakatan Harapan sebagai Perdana Menteri ke 10, dan mengakhiri perjuangan Anwar sebagai oposisi selama 24 tahun lamanya. 


Sebuah cita besar yang dilalui di atas berbagai halang rintang dan onak duri untuk sampai kesana telah selesai, kini Anwar telah menjadi PM Malaysia dan mari kita lihat apa yang bisa di buktikan atas semua yang dia katakan selama menjadi oposisi sebelum ini.


* * *


Di Indonesia, tersebutlah seorang bernama Prabowo Subianto. Dia adalah Anak ketiga dari Soemitro Djodjohadikusumo, seorang Politisi Sosialis dan pernah menjabat sebagai Menteri pada Kabinet Natsir serta Wilopo, sedangkan kakeknya Djojohadikusumo adalah seorang pendiri Bank Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Agung yang pertama. Jadi, secara trah keturunan, Prabowo punya ‘previlege’ tersendiri.


Prabowo memulai karier nya pada jalan militer dengan mengikuti pendidikan Akademi Militer (Akmil) Magelang dalam kurun waktu 1969 sampai 1974. Sepanjang berkarir di dunia militer ini, Prabowo punya sepak terjang yang cukup gemilang hingga terakhir menjabat sebagai Pangkostrad dari tahun 1996 hingga 1998.


Prabowo memulai peruntungan politik lewat Partai Golkar, saat itu dia ikut dalam konvensi pemilihan Capres Golkar namun sayang dia tidak mendapat posisi tersebut. Hingga kemudian, pada tahun 2009 dia mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra yang disebut sebut sebagai kendaraan politiknya menghadapi Pilpres.


Dan benar saja, pada 2009 ia mendeklarasikan diri untuk ikut serta dalam pilpres bersama dengan Soetrisno Bachir yang merupakan politisi PAN, namun koalisi tersebut layu sebelum berkembang, terlebih koalisi tersebut juga tidak memenuhi syarat pencalonan yang telah diatur.


 Untuk itulah kemudian Prabowo bersepakat untuk berkoalisi dengan PDIP Perjuangan serta berpasangan dengan Megawati Soekarno Putri untuk menghadapi Pilpres, bedanya adalah kali ini Prabowo mundur menjadi cawapres dan Mega maju didepan sebagai capres.


Dalam laga di 2004, pasangan tersebut dikalahkan oleh SBY dan Boediono serta menyisakan berbagai konflik, baik antara Mega dengan SBY ataupun Mega dengan Prabowo sendiri.


Prabowo mencoba kembali peruntungan untuk ikut dalam laga Pilpres tahun 2014, kali ini dia harus melawan Joko Widodo yang diusung oleh teman koalisi lamanya, PDI Perjuangan. Kemenangan Partai Gerinda dalam Pileg memperoleh 73 kursi parlemen menambah daya tawar Prabowo, yang kemudian memutuskan berpasangan dengan Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN saat itu sebagai cawapres.


Nasib tak dapat ditolak, pasangan Prabowo Hatta harus menerima kekalahan dari lawannya Jokowi JK dengan perbandingan suara 53,15% vs 46,85%. 


Di Pilpres 2019, Prabowo lagi-lagi memutuskan untuk kembali berlaga dan lawannya masih sama yaitu Jokowi sebagai incumbet. Dia menggandeng Sandiaga Uno Wakil Gubernur DKI Jakarta sebagai cawapres dan Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin Ketua MUI sebagai cawapresnya.


Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Prabowo lagi-lagi harus menelan pil pahit kekalahan dalam kontestasi tersebut.


Kini, tahun politik 2024 telah tiba, nama Prabowo masih muncul sebagai calon Presiden didalam berbaga survey. Manuver politiknya juga terlihat dengan menggandeng PKB yang diterajui Muhaimin Iskandar untuk kembali maju dalam pilpres tahun 2024 mendatang.


* * *


Setelah uraian cerita dan biografi singkat kedua tokoh lintas negara diatas, kira-kira muncul pertanyaan begini, “apakah Prabowo bisa seperti Anwar Ibrahim ?”


Maka untuk membaca itu, mari kita bedah satu persatu dengan modal “content” pada cerita diatas ;


Pertama, dalam beberapa survey yang dirilis di bulan ini, nama Prabowo masih muncul sebagai 5 besar di bursa pencapresan.


Charta Politika menempatkan Prabowo di urutan ketiga dengan besaran angka 22%, Indekstat menempat beliau di urutan kedua dengan angka 11%, Y-Publica menempatkan Prabowo di urutan kedua dengan angka 20,2%, SMRC merilis Prabowo diurutan kedua dengan angka 76%, Median merilis Prabowo diurutan pertama dengan 24,2%, Indostrategi merilis Prabowo diurutan pertama dengan 31,8%, serta berbagai survery-survey lain yang juga tidak beranjak dari nama Prabowo di 5 besar.


Kedua, sebagaimana yang saya ceritakan diatas, muncul content “kasihan” dan content “kesempatan” pada beberapa jaringan terhadap nama Prabowo, kebanyakan dari mereka beralasan bahwa dia merasa kasihan dengan Prabowo yang sejak 2004 mencoba peruntungan dalam kontestasi Pilpres tapi belum berhasil. 


Beberapa dari mereka juga menjelaskan bahwa Prabowo juga layak untuk diberikan kesempatan, terlebih setiap orang harus berikan kesempatan untuk membuktikan.


Ketiga, sebagai orang yang juga mengamati serta mengikut perkembangan politik Malaysia, oleh masyarakat disana juga muncul content yang sama sebelumnya terhadap Anwar Ibrahim.


Hampir sering sekali saya menjumpai ungkapan rakyat Malaysia yang mengatakan bahwa mereka merasa kasihan dengan Anwar. Sebab apa? satu, karena begitu banyak laluan dan cobaan yang harus dihadapi Anwar dalam perjuangannya terhadap bangsa dan negara serta begitu teruk berbagai fitnah yang menghujam dirinya.


Disatu sisi juga seringkali muncul bersamaan jaringan yang mengungkapkan bahwa Anwar wajib diberikan kesempatan untuk menjadi Perdana Menteri. 


Mereka telah pernah merasakan kepemimpinan Muhyiddin Yasin yang merupakan Calon PM dari koalisi Politik Perikatan Nasional, mereka juga pernah merasakan dipimpin Ismail Sabri yang merupakan nama calon PM dari Barisan Nasional, tetapi Anwar Ibrahim belum lagi pernah dicoba dan dirasakan serta sudah sepatutnyalah ia diberikan kesempatan menerajui pemerintahan Malaysia dan membuktikan apakah ia benar-benar mampu bekerja sebagaimana janjinya dalam banyak pidato.


Keempat, dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk gubahan Buya Hamka, tersebutlah bahwa “taraf cinta yang paling tinggi ialah karena kasihan”, sebagaimana ketika Zainuddin harus ‘merengek’ dihadapan Hayati atau kala Hayati harus merengek dihadapan Zainuddin agar menerima kembali cintanya.


Tentu kita sudah tahu, lain di mulut, lain pula dihati, walaupun Zainuddin mengatakan enggan atas itu, tetaplah benih cinta itu muncul kala tahu bahwa kapal yang membawa sang kekasih hati tenggelam.


Ibarat pepatah Melayu, meski meremuk meredam tubuh dan jiwa, suci cinta tiada boleh didusta.


Lain juga dengan kesempatan. Sebagian dari sebenarnya paham bahwa cinta adalah soal kesempatan. Kesempatan untuk dicabar dan diuji melalui perjuangan. Maka, tiadalah cinta itu dapat diterajui tanpa kesempatan.


Kelima, kembali kepertanyaan diatas, apakah dengan content “kasihan” dan “kesempatan” tadi Prabowo boleh menjad sebagaimana Anwar Ibrahim ?


Maka jawabnya, boleh dan bisa.


Cuman masalahnya, meskipun saya telah bocorkan clue tersebut, muncul kembali pertanyaan berikutnya ; “lalu bagaimana caranya ?”


Nah, untuk menjawab itu, tentu perlu kita bersetatap mata sembari ditemani kopi dan beberapa batang rokok untuk membicarakannya.


Lagi-lagi, content perlu diuji dan dipastikan presisi, untuk itulah perlunya ngopi untuk itu, hihi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...