Langsung ke konten utama

Aklamasi ala Fahri

Dia selalu rajin, seperti biasa, mencuit di Twitter atau yang sekarang berubah jadi X. Dan sama seperti platform yang dipakainya untuk bicara pada publik, Fahri berubah. Jangan tanya karena apakah itu, yang pasti hanya Tuhan, dia, dan teman-temannya yang tahu.


Satu cuitannya yang gila belakangan ini. Soal aklamasi memilih Prabowo-Gibran. Alasannya sederhana, bahwa pasangan ini yang paling punya kejelasan konsep dalam membangun negara kedepan. Ia juga menambahkan bahwa kedua orang ini bukan hanya akan melanjutkan program Jokowi, tapi juga menambahkannya dengan gagasan brilian lain yang tentunya bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.


Sejak mengenalnya pada tahun 2018-an, saya, anak muda yang masih penuh gelora kala itu, selalu jatuh cinta dengan pikiran Fahri soal sistem bernegara dan keseimbangan demokrasi. Soal KPK yang kini bobrok-pun, saya jelas ikut serta membelanya. Tapi entah, tiba-tiba saya merasa bahwa orang ini tengah menggila untuk mencapai tujuan politiknya.


Aklamasi ini misalnya. Mbok ya kalau punya harapan Partai Gelora dibantu Jokowi lolos PT 4% dan dapat jatah Menteri bila Prabowo Gibran menang ya tidak perlu dengan ide semacam inilah. Kasarnya, kesan yang terlihat itu ya menjilat sekali romannya.


Bila alasannya karena survei pasangan 02 yang paling tinggi, perlu Fahri pikirkan juga bahwa sampai saat ini angkanya masih di kisaran 40%-an. Beda jika hasil-hasil statistik itu menunjukkan bahwa Prabowo Gibran mendapat 90% lebih, saya pun akan sepakat untuk aklamasi sebab kita sudah tahu siapa yang akan menang. Dan itu baru masuk logika penghematan APBN untuk pemilu yang ratusan triliyun itu.


Disisi yang lain, seakan-akan Fahri mensarkaskan bahwa paslon yang lain bukanlah orang-orang yang jelas cita dan cintanya terhadap bangsa negara. Sehingga program-programnya dianggap tidak punya value bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.


Bila Fahri mau adil dan egaliter menjalankan pikirannya, harusnya dia kritik program pemberian makan siang dan susu gratis yang menguras APBN itu. Sebab, di paslon 01 dan 03, angka segitu dapat meng-cover puluhan program-program strategis untuk rakyat.


Yang pasti, saya sampai hari ini, tetap mencintai pikiran-pikiran lama Fahri. Dan dengan penuh harap, ia kembali lagi bak dulu orang-orang menjulukinya, Singa Parlemen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa?

** Tulisan ini adalah penugasan dalam kuliah Politik Islam Global yang diampu oleh Prof Din Syamsuddin, Cendekiawan Islam Indonesia abad Kontemporer** Dinamika Hegemoni Islam dalam Tatanan Dunia Baru: Dalam Bentuk Seperti Apa? Oleh Sultan Alam Gilang Kusuma ( Mahasiswa HI UIN Jakarta, Korpus Fodaru) Pendahuluan Perubahan besar dalam sejarah umat manusia selalu ditandai oleh perebutan dominasi dan pengaruh antar peradaban. Sejak runtuhnya sistem bipolar Perang Dingin, relasi internasional tidak lagi didominasi hanya oleh kekuatan militer atau ekonomi barat, namun juga oleh arus budaya, pengetahuan, dan sistem nilai yang mengglobal melalui proses modernisasi dan globalisasi. Tatanan baru yang muncul sering diwarnai oleh hegemoni Barat yang didukung oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, berhasil menempatkan negara-negara lain, terutama dunia Islam, dalam posisi subordinat . Dalam konteks ini, penting untuk membahas hegemoni Islam sebagai respon, kritik, bahkan tawaran alternatif a...

Wotgaleh ; Mencari Bapak, Membunuh Ibu

Jumat pekan ketiga di tanah Mataram, saya menziarahi Masjid Sulthoni Wotgaleh yang bersebelahan dengan makam Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo, anak Panembahan Senopati dari trah Ki Ageng Giring. Ini dalam upaya menggenapi ziaroh saya terhadap berbagai sosok yang masyhur dalam catatan-catatan Trah Mataram Islam hingga terpecah menjadi Yogyakarta dan Surakarta. *** Menukil Babad Tanah Jawi, Wotgaleh diambil dari kalimat Wot Ing Pengaleh, kata wot berarti jembatan atau meniti sementara galeh atau galih berarti hati. Sehingga Wotgaleh dapat diartikan jembatan menuju ketenteraman atau kemantapan hati mencapai kedamaian. Wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Agung kepada pamannya, Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo karena telah ikut membantu mendampingi Sultan Agung Hanyokrowati tersebut dalam pemerintahannya. Banyak orang datang berkunjung ke Masjid dan Makam ini untuk berbagai hajat, termasuk mitos yang berkembang bahwa konon wasilah keberkahan Panembahan Purboyo dapat menenangkan...

Edisi Revisi: Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

 Sebagai seorang peneliti yang cenderung menggunakan analisis antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang menjadi perhatian seluruh dunia saat ini, yaitu konflik antara Rusia dan Ukraina. Dalam membaca fenomena ini, saya menggunakan paradigma Jaringan Sosial (Jarsos) sebagai sudut pandang utama. Dalam bukunya Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto – seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini – menyebut bahwa berpikir jaringan berarti menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya. Dengan itu, kita dituntut untuk tidak menegasikan realitas apa pun. Maka, dalam membaca konflik Rusia–Ukraina ini, saya berusaha menangkap makna dari tiap realitas yang muncul dan menghubungkannya dengan realitas lain. Cara pandang ini membuat tulisan saya meluas ke banyak arah, karena setiap titik memiliki keterhubungan. Konflik Rusia–Ukraina dan Arah Pandangan Dunia Keputusan Rusia untuk melakukan invasi ke Ukraina sej...