Review Articel Jurnal Author, Ø., & Smith, S. (1997). Epistemology, Postmodernism and International Relations Theory: A Reply to
Dalam artikel ini, Smith secara khusus memberikan jawaban terhadap esai Oyvind Osterud yang dianggap menyerang kehadiran postmodernisme dalam teori hubungan internasional. Sebelumnya, Osterud merasa khawatir bahwa postmodernisme memberikan ancaman dasar pada kalangan akademis karena mengabaikan norma dan menganggap tidak adanya penelitian profesional. Sebaliknya, Smith yang sebelumnya juga skeptis terhadap postmodernisme ini, justru berbalik arah membelanya dengan mengatakan bahwa kritik yang dilontarkan Osterud berada pada tingkat abstraksi yang begitu umum.
Pada variable bahasa, Osterud menyampaikan bahwa postmodernisme penuh dengan terminologi yang formulasinya tidak jelas, terkesan terlalu banyak bicara, dan jalan pintas yang tidak tepat. Keberatan semacam itu sebenarnya dapat diajukan pada semua pendekatan teori terutama dari rumpun ilmu sosial, tetapi postmodernisme mengharuskan seseorang untuk mempelajari bahasa baru. Lagi pula, sebagian besar penulis postmodern sangat peduli terhadap ketepatan sebuah makna kata dan cenderung suka memperkenalkan konsep baru di medan positivisme yang sudah dikenal dan biasa.
Kritik terhadap dekonstruksi Deridda juga muncul, tapi pada dasarnya justru ini kembali menjadi pembenaran bahwa pengetahuan yang selalu bergerak mendekonstruksi adalah kepastian. Justru alih-alih menjadi kelemahan, postmodernisme membuktikan bahwa dirinya terbuka akan kritik dan demikian pula metodenya yang bisa digunakan melalui berbagai jenis analisis terkait pengetahuan dan kekuasaan.
Anggapan bahwa relativisme yang mengalir kuat dalam nadi postmodernisme pada dasarnya bukan menentang “ilmiah” justru sebaliknya membuka ruang untuk “ilmiah” itu dipertanyakan. Baik Foucault atau Deridda, keduanya tidak memiliki kesan bahwa analisis mereka harus diterima begitu saja. Yang dipertaruhkan adalah apa itu epistemologi dan bagaimana wacana itu muncul.
Bila kemudian Osterud mengklaim bahwa postmodernisme membawa kemunduran atas semangat pencerahan, justru Foucault dan Deridda berkeyakinan bahwa mereka tengah membawa pengetahuan itu ke jalan pencerahan, dimana fokus yang semestinya dilakukan adalah bagaimana produksi pengetahuan yang kita hasilkan adalah untuk memperbaiki kondisi hidup manusia dan tidak lagi terjebak pada epistimologi.
Komentar
Posting Komentar