Langsung ke konten utama

Politik Iklim; Mencari Makna Invasi Rusia atas Ukraina

Sebagai peneliti yang cenderung menggunakan analisa antropologis, saya mencoba melakukan uji deduktif terhadap sebuah realitas yang sedang dibicarakan oleh seluruh dunia hari ini, yaitu mengenai konflik antara Rusia dan Ukraina dengan menggunakan paradigma Jaringan Sosial atau Jarsos sebagai point of view.


Dalam bukunya yang berjudul Berpikir Jaringan, Rudy Agusyanto seorang antropolog yang mengembangkan paradigma ini menyebut bahwa dengan berpikir jaringan artinya kita menempatkan semua realitas sebagai sesuatu yang penting dan bermakna pada jaringannya dan dengan itu kita harus menghindari untuk menegasikan realitas apa pun yang kemudian muncul dalam konflik Rusia dan Ukraina ini.


Sebagai catatan bahwa dengan menggunakan paradigma jarsos sebagai landasan berpikir, saya tidak langsung pada inti pembahasan konflik antara Rusia dan Ukraina, tetapi mencari makna apa sebenarnya yang terjadi dan menghubungkan antara satu realitas dengan realitas lainnya dan itulah yang kemudian akan membuat tulisan ini sedikit panjang dan melebar ke mana-mana.


Tentunya kita tahu bahwa sampai saat ini, keputusan Rusia untuk menginvasi Ukraina memunculkan beragam opini dan pandangan dari berbagai pihak. Saya sendiri mengikuti berbagai discourse yang memunculkan tema ini untuk dibahas para pakar dan tentunya ada perbedaan sudut pandang dari masing-masing mereka, mulai dari yang melihat ini dari sisi geopolitik, militer hingga ekonomi.


Tapi ada satu hal yang menarik yang kemudian tidak banyak disinggung oleh mereka yaitu berkaitan dengan kepentingan politik iklim yang sedang menjadi agenda barat untuk digulirkan sebagai pengganti politik terorisme yang sudah expired sejak berhentinya invasi Amerika Serikat terhadap Afghanistan.


Untuk memulai ini, saya akan mencoba berangkat melalui content tentang Jerman, sebab sepanjang mengikuti berbagai informasi dan insight dari berbagai saluran-saluran media dan pakar, saya menemukan bahwa content Jerman ini muncul secara signifikan karena pada awal-awal pasukan Rusia bersiap di Belarusia dan Krimea terjadi pertemuan yang cukup intens antara Kanselir Jerman Olaf Schzol dengan Presiden Vladimir Putin.


Content–content tersebutlah yang paling banyak muncul di antaranya mengenai Nord Stream Gas Pipelines dan saluran-saluran gas Rusia yang banyak melewati Ukraina dan menunjukkan bahwa Rusia merupakan negara yang menyuplai gas ke daratan Eropa, di antara yang paling bergantung terhadap itu adalah Jerman dan Italia.


Content–content yang muncul ini kemudian merujuk pada satu kesimpulan bahwa mereka khawatir terhadap suplai gas dan minyak Rusia yang merupakan sumber sebagian besar energi mereka, meski di saat bersamaan muncul juga content mengenai persatuan Benua Eropa yang kemudian menjadi buah simalakama bagi Jerman di tengah pusaran konflik Rusia dan Ukraina yang kita tahu bahwa ini merupakan perang antara Rusia dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa.


Jika merujuk lebih jauh tentang pipa gas Rusia ini, kita akan tahu bahwa sejak pembangunan Nord Stream yang petama sebenarnya Amerika Serikat dan Uni Eropa telah menentang hal tersebut, meskipun kemudian oleh Jerman dijawab bahwa dengan menghindari penggunaan batu bara dan menggantinya dengan gas, agenda untuk bebas emisi yang dikampanyekan oleh barat justru dilakukan, sebab penyumbang emisi terbesar adalah batu bara dan itu menjadi jawaban Jerman ketika diminta untuk menghentikan suplai gas Rusia terhadap negaranya.


Meskipun begitu, Jerman juga mengembangkan renewable energy karena mempunyai kapasitas yang besar untuk itu walau berbeda dengan Norwegia yang sejak 2009 sudah 99% menggunakan energi alternatif tersebut, tetapi karena untuk menutupi gap kemampuan produksi yang terbatas, penggunaan gas masih dianggap sebagai pilihan pertama karena merupakan opsi paling ramah terhadap emisi karbon sembari menyiapkan kemampuan olah produksi renewable energy di negerinya.


Beranjak dari inilah kemudian muncul lagi berbagai content yang salah satunya adalah Amerika Serikat dengan dagangan Liqufied Natural Gas atau LNG untuk ditawarkan kepada Jerman sebagai pengganti suplai gas dari Rusia. Tapi menurut Jerman penggunaan LNG justru lebih merepotkan dan mahal dibandingkan menggunakan saluran-saluran gas.


Saya teringat misalnya dengan yang terjadi di Tanggerang, di mana di sana telah teraliri saluran gas dari Perusahaan Gas Negara (PGN) sehingga dari rumah kita bisa langsung menyalakan gas tanpa repot lagi menggunakan tabung gas yang merupakan salah satu dari bentuk LNG di samping tentunya harga yang lebih terjangkau dan murah, dan asumsi saya inilah alasan Jerman kemudian menolak penggunaan LNG tawaran Amerika tersebut, hingga buntut dari keberpihakan Jerman yang ditandai dengan pembangunan Nord Stream untuk yang kedua ini membuat mereka menerima sanksi dari Amerika Serikat.


Inilah yang kemudian menyebabkan ketika pasukan Rusia telah berbaris di Belarusia dan Krimea membuat Jerman dan Italia gamang, maksudnya sikap yang ditampakkan oleh kedua pimpinan negara ini tidak sekeras negaran-egara lainnya di Uni Eropa. Karena kita dapat melihat Jerman dan Italia punya kepentingan energi dalam hal ini, bilamana Rusia menghentikan suplai gas tersebut otomatis mereka akan berada dalam masalah.


Kronik kepentingan pipa gas inilah yang menjadi momentum awal dari konflik ini, meskipun sebenarnya sejak awal Rusia tidak punya ambisi untuk berkonflik dengan Amerika dan Uni Eropa justru berusaha meyakinkan mereka bahwa pipa gas ini juga ramah lingkungan, dan di tengah pusaran persaingan dagang gas inilah yang membuat Jerman galau.


Sebab jika benar Ukraina berhasil diinvasi oleh Russia maka moncong senjata negara yang dulunya bernama Uni Soviet ini akan langsung berada di depan Jerman, dan kenapa kemudian Rusia bersikeras agar Ukraina berada dalam jangkauannya ya karena saluran pipa-pipa gas itu selain Nord Stream yang melewati Baltik adalah yang juga melewati Ukraina dan ini yang paling banyak.


Untuk merangkai semua realitas ini, salah satu yang jadi rujukan saya adalah pandangan dari Anthony Giddens sosiolog terkenal dari UK yang menulis buku berjudul The Politics of Climate Change dan menyebutkan “Oil is the enemy of freedom – is it possible to make such an apparently absurd theorem stick? Without too much over simplification, the blunt answer is yes, and the reasons why are whell known. What friedman calls the first law of petropolitics.”


Sederhananya saya memaknai apa yang Giddens tulis ini bahwa sedang ada konstruksi sosial tentang jahatnya fossil fuel; batu bara, minyak, dan gas ini adalah barang yang haram dan jahat. Dan memang hampir semua kajian yang saya telusuri berkaitan dengan isu climate change menyebut bahwa fossil fuel adalah sesuatu yang merusak.


Dan ini kembali mengingatkan saya tentang film Lighting McQueen yang berjudul Cars, di mana film tersebut becerita tentang dua mobil yang satu menggunakan energi terbarukan dan satunya lagi menggunakan bensin, sehingga menguatkan asumsi saya mengenai konstruksi yang sedang dibangun tentang fossil fuel ini.


Pencarian saya kemudian berlanjut pada Europoean Green Deal yang berisi agenda-agenda seperti pengurangan kendaraan berbasis fossil fuel, sampai kemudian tentang agriculture, farming, dan ini terkoneksi dengan data dari Oxford yang dia menyatakan bahwasanya emisi karbon yang terbesar itu dari sektor energi (73,2%) dan 20% di antaranya disumbang oleh penggunaan transportasi.


Kemudian data ini saya koneksikan dengan beberapa referensi yang sebelumnya pernah saya dapat misalnya film Kiss The Ground, Cowspiracy: The Sustainability Secret, dan saya pikir bahwa isu tentang climate change ini menarik karena terkoneksi ke mana-mana dan dorongan penggunaan transportasi bebas emisi juga makin besar misalnya di Jakarta, mobil yang bertenaga listrik dibebaskan dari aturan ganjil genap.


Ternyata makna berikutnya adalah seperti Norwegia yang menyebutkan bahwa di tahun 2025 tidak ada lagi penjualan mobil yang berbahan bakar fossil fuel semuanya elektrik, artinya akan muncul disrupsi berupa tidak ada lagi stasiun (POM) bensin, berubah menjadi POM listrik. Kemudian UK di tahun 2020 tidak lagi memperbolehkan penjualan mobil yang berbahan bakar fossil fuel, dan ini tentunya menarik sebab isu ini terkoneksi ke mana-mana.


Karena saya terkoneksi dengan teman yang berkecimpung dalam dunia agriculture, saya sedikit mengerti dengan apa pengaruh agriculture terhadap emisi karbon, dan ini menarik sebab akan ada banyak cara bertani yang baru dan sekarang yang paling maju adalah para negara yang tergabung dalam klub iklim ini.


Mereka punya cara membajak sendiri, memupuk sendiri, lama-kelamaan semua hal yang berkaitan dengan itu akan disertifikasi, dan tentunya menurut saya ini akan membuat budaya baru. Maksudnya, nanti orang-orang yang bertani tanpa tersertifikasi itu akan dianggap melakukan hal yang kriminal karena mengeluarkan karbon saat melakukan pembajakan misalnya.


Setelah mengikuti lebih jauh, ternyata isu climate policy ini bukan barang yang baru sebab sudah bergulir sejak 1980 meski hanya seputar penggunaan plastik, selamatkan hiu, dan lain-lain.


Tapi balik lagi ke Giddens, bahwa ini bukan itu ceritanya melainkan cerita utamanya tentang iklim. Dan membawa saya lebih dalam hingga pada cerita Protocol Kyoto, KTT Iklim Kopenhagen, dan Paris Agreement, bahkan juga sempat saya temui koneksinya dengan berita lokal di mana Kadin merasa khawatir dengan European Green Deal karena dengan isu iklim yang terus dikonstruksi akan membuat regulasi produk-produk Indonesia terhambat sebab tidak memenuhi standar lingkungan dan tentunya berefek pada mahalnya ongkos regulasi dan pajak yang tinggi.


Lalu setelah realitas tentang climate change yang menjadi agenda Uni Eropa dan Amerika Serikat ini, saya mencoba mencari tentang Russia dan ketemu fakta bahwa Rusia adalah penghasil gas terbesar kedua dan produsen minyak tebesar ketiga di dunia. Sehingga hipotesa awal saya adalah perjalanan climate change Uni Eropa dan Amerika Serikat ternyata membahayakan bagi Rusia.


Ilustrasinya saya buat mudah begini, misalnya saya akan melakukan perjalanan ke Pontianak tapi kemudian perjalanan saya ini ternyata membuat teman saya tidak bisa bekerja, ekonomi terganggu, ini sama dengan cerita European Green Deal yang membuat Russia merasa terancam sebagai aktor utama Oil dan Gas kemudian revenue dia yang 40% dari fossil fuel dan GDP 15-20% dari fossil fuel juga akan terganggu dan membuat repot. Sementara anggaran perang itu tidak terlalu besar, paling beberapa persen saja, sehingga bila kehilangan 7-10% dari Uni Eropa dan Amerika sebagai importir terbesar tentu berbahaya.


Saya coba bertanya kepada teman yang kebetulan praktisi IT di dunia oil dan gas, menyebut bahwa Amerika Serikat adalah negara penghasil oil dan gas tersebar di dunia menggantikan Saudi Arabia setelah cadangan minyak terbesar ditemukan di wilayah Texas. Meskipun begitu ternyata setelah ditelusuri, saya menemukan cerita bahwa Amerika percaya tentang cerita 2030, 2050, dan 2100 bahwasanya mau tidak mau dia harus mendukung politik yang ramah lingkungan atau istilah Giddens yaitu politik iklim.


Sebagaimana yang telah saya notice sebelumnya bahwa pada dasarnya pertentangan antara Rusia dengan Amerika dan Uni Eropa tidak lain karena bersikukuhnya para negara klub iklim ini agar semua negara-negara di dunia mengikuti permainan ini, dan menjadi menarik untuk mencari tahu lebih dalam kenapa Rusia tidak mau manut dalam pusaran global warming yang bagi negara-negara di daratan Eropa dan Amerika merasa terancam oleh itu sebab ada kemungkinan bila es di kutub mencair maka mereka akan tenggelam.


Dalam case berkaitan dengan naiknya permukaan air laut yang dipastikan bisa menenggelamkan hampir semua daratan di bumi, yang diuntungkan adalah daratan di sekitar Artik seperti Russia, Skandinavia, Amerika Alaska dan Kanada, karena mereka akan menjadi tempat teraman dari ancaman efek global warming. Dan bila kita mempelajari geografisnya Rusia, akan kita temui sebagian besar wilayahnya yang masih beku seperti Siberia yang sangat luas, sehingga menarik bila Artik nantinya mencair dan menenggelamkan negara lain Rusia justru diuntungkan karena tanahnya bertambah.


Saya pikir mungkin ini yang kemudian membuat Rusia merasa tidak berkepentingan untuk ikut serta memperjuangkan isu climate policy sebagai agenda penting justru setelah didalami mereka mungkin saja ingin mempercepat climate change ini terjadi dengan harapan akan menjadi negara superpower.


Ini terlihat saat gelaran Paris Agreement 2015, dapat kita jumpai bahwa hanya Rusia yang tidak ikut tanda tangan dan baru merativikasi hal itu tahun 2019. Selain itu, saat penilaian mengenai hal ini ditemukan bahwa Rusia tidak serius dalam komitmen mengerjakan agenda yang diusung pada gelaran tersebut. Dan jika kita ikuti lebih lanjut terakhir Rusia melakukan veto terhadap resolusi mengenai climate di PBB.


Jadi saya berkesimpulan dengan ini Rusia justru menunjukkan agar global warming itu kejadian. Bahkan jika bisa saat ini juga terjadinya, caranya ya dengan menolak berbagai agenda climate change dan terus menggunakan dan menjual fossil fuel yang ingin dihentikan oleh negara-negara klub iklim.


Sampai di sini, saya kemudian meluruskan kembali hipotes kerja saya bahwa ini ceritanya adalah sekumpulan orang yang khawatir akan masa depannya yaitu mereka bakal tenggelam, maka dari itu mereka reflektif dengan mencoba cara menghentikannya dengan mencegah agar global warming tidak terjadi dengan menghentikan pemakaian benda-benda yang memicu naiknya suhu bumi serta memaksa semua negara-negara lain yang berkepentingan untuk ikut maunya dia.


Sebab jika hanya dia saja yang berkutat untuk agenda tersebut sedangkan negara lainnya masih bakar fossil fuel sama saja bohong, sehingga politik iklim ini harus dijadikan agenda politik global. Dan ini menurut saya akan menjadi model penjajahan baru yaitu penjajahan atas nama iklim.


Dalam bayangan saya nantinya orang membajak sawah akan ditangkap karena menggunakan peralatan yang memicu emisi karbon, orang melaut atau memancing akan ditangkap karena dianggap merusak sibet yang merupakan tempat penyimpanan karbon terbesar di dasar laut, sehingga nanti akan muncul cara bertani yang baru, cara memancing atau fishing yang baru dengan cara menggunakan renewable energy yang diciptakan oleh mereka.


Karena tentunya dalam perjalanan shifting energi itu ada gap di antara negara-negara tersebut karena berbeda dengan Norwegia yang sejak 2008 telah maksimal memanfaatkan itu dan punya teknologinya sehingga negara lain perlu waktu untuk melakukan shifting tersebut, salah satunya dengan perlahan mengganti batu bara dengan gas seperti yang dilakukan oleh Jerman.


Meskipun kemudian oleh pengasas klub ini juga melarang melakukan itu karena Rusia dianggap justru ingin agar global warming itu kejadian, dan seharusnya menggunakan gas pun juga mesti friendly dengan menggunakan gas yang ramah seperti LNG milik USA.


Lalu bagaimana dengan cerita perang yang selama ini menjadi sudut pandang paling banyak yang dikutip dan diperhatikan oleh orang banyak?


Menurut saya, segila-gilanya klub iklim dan Rusia tentang ini, mereka terlihat masih menghindari agar perang dunia tidak terjadi. Karena mereka menyadari bahwa di dunia ini yang hidup bukan hanya mereka saja, misalnya Cina yang tidak mau terjadinya perang dunia dan percaya bahwa prediksi tahun 2050 itu akan tenggelam dan itulah yang membuat Cina menjadi pemain renewable energy terbesar di dunia dan sebenarnya Cina merasa senang dengan Rusia yang mengambil untung dari ini karena mereka terancam menjadi korban yang tenggelam.


Jadi meskipun Cina abstain untuk menanggapi invasi Rusia atas Ukraina, tapi jangan dikira hubungan kedua negara ini baik-baik saja. Misalnya kita lihat saat sebelum pasukan Rusia dipindahkan dari perbatasan Rusia-Cina, terjadi pertemuan antara Putin dan Xi Jin Ping yang saya duga sebagai upaya negosiasi agar Cina tidak ikut campur dalam masalah ini.


Hubungan antara Cina dan Rusia ini bisa kita dalami salah satunya dengan mendalami content Vladivostok, sebuah kota di Timur jauhnya Rusia dan berdekatan dengan Samudra Pasifik yang jika kita analogikan mirip Kalimantan yaitu banyak sekali orang Cina yang berada di situ dan muncul semacam jaringan anti Cina, dan sebagiannya yang mirip-mirip terjadi di Indonesia.


Sehingga menurut saya terjadi kesepakatan antara Putin dan Xi yang ibaratnya Rusia ingin mindahin pasukan jadi minta agar Cina tidak ambil kesempatan dengan tawaran Rusia akan mengekspor gas ke Cina dengan harga yang murah, dan Rusia sudah menduga ketika invasi dimulai dia akan mendapat sanksi dari barat sehingga mendapat garansi ekonomi dari Cina ketika sanksi-sanksi dari barat itu didapatkan.


Lalu bagaimana dengan NATO?


Menarik jika kita mengikuti keputusan Zelensky yang membuka kesempatan bagi orang asing untuk bergabung dalam militer Ukraina Legiun Asing. Bagi saya, inilah payung untuk menampung pasukan NATO dan Barat tanpa kemudian diendus keberadaannya oleh Rusia dan memperkecil kemungkinan eskalasi konflik menjadi perang dunia.


Dan terbukti dalam waktu kurang lebih seminggu terkumpul 16.000 orang yang menurut saya mustahil jika itu adalah orang-orang yang diklaim berasal dari negara lain, melainkan para tentara bayaran/kontraktor militer yang punya kemampuan melebihi pasukan reguler bahkan pasukan special force sekalipun.


Dan ini membuktikan bahwa Amerika serius membantu Ukraina, sebab ini adalah tentang masa depan mereka, hidup dan mati mereka. Begitu Ukraina lepas, maka Rusia akan makin super power untuk menghambat mereka, terutama negara-negara yang langsung berbatasan dengan Ukraina seperti Jerman yang apabila nantinya menolak untuk teken Nord Stream yang hari ini dibangun maka misil Rusia sudah ada di depan muka mereka.


Kemudian berikutnya adalah mengenai No Fly Zone yang direquest oleh Zelensky kepada Amerika dan NATO yang artinya akan membuat keduanya memastikan tidak ada pesawat apa pun yang terbang di atas Ukraina. Misal, pesawat Rusia tetap memaksa terbang, maka akan ditembak; ini tidak boleh sebab melanggar kesepakatan untuk perang dunia tidak terjadi.


Lalu apa gimmick yang digunakan? Yaitu dengan Polandia mengirim pesawat-pesawat Rusia bekas Soviet dulu ke Ukraina di mana pensiunan-pensiunan pilot banyak berada di sana. Artinya, NATO dan Amerika tidak perlu melakukan patroli pesawat-pesawatnya di langit Ukraina, tinggal meminta agar Polandia mengirim pesawat-pesawat MIG yang dulu pernah berjaya di masa Soviet di mana Polandia masuk dalam Pakta Warsawa sebelum ke NATO.


Sebagai gantinya, NATO akan mengirim F16 dan itu semua kejadian yang menandakan bahwa konflik ini terus bergulir serius, lagi-lagi karena ini tentang masa depan, hidup dan matinya daratan Eropa.


Kemudian apakah Rusia tidak tahu atas gimmick–gimmick tersebut? Tentu saja mereka tahu oleh sebab mereka juga punya yang demikian, untuk itulah Uni Emirat Arab dan Israel tidak terlalu menekan Rusia meskipun dikenal sebagai aliansi Amerika di Timur Tengah karena setelah saya telurusi UEA punya banyak proyek dengan Russia di Afrika dan UEA inilah yang kemudian membayar pasukan-pasukan bayaran untuk membantu Rusia. Sedangkan Israel punya kepentingan dengan Syria yang mana Rusia hadir begitu kuat di situ sehingga bersikap lembut dan tidak keras terhadap Rusia.


Di sini saya melihat bahwa terorisme bukan lagi mainan utama Eropa dan Sekutunya sehingga Israel tak penting lagi, sehingga bisa kita lihat bahwa yang dulunya Israel ini ibarat amplitudonya mereka sekarang nothing karena tidak ada lagi urusan sama sekali. Hal ini terjadi karena ancaman masa depan seperti tenggelam dan lainnya akan lebih serius sebab berhubungan dengan hidup mati dan eksistensi kedaulatan negara, maka Eropa dan sekutunya tentu harus mengubah haluan dengan bermain dalam politik iklim.


Kemudian muncul permintaan dari Polandia agar fossil fuel dari Rusia di-ban atau dilarang sesegera mungkin, dan tentu ini akan membuat Rusia makin mangkel dengan jaringan klub iklim ini, disusul Denmark yang langsung meng-iya-kan pipa gas dari Norwegia itu dilaksanakan.


Dan Biden beserta beberapa law makers atau seperti senator sedang menyusun regulasi untuk melarang penjualan fossil fuel dari Rusia ke Amerika, sedangkan hampir 80% penjualan fossil fuel mereka itu disupply ke daratan Eropa dan menurut saya jika ini berhasil dilarang maka sangat memungkinkan efektif membuat pertumbuhan ekonomi Rusia menyusut jauh dan membuat Rusia akan mengecilkan kapasitas produksinya terkait itu.


Menurut beberapa pendapat pakar yang saya dengar, kebijakan ini tidak akan secara langsung menyusutkan perekonomian Rusia, namun akan memaksa Rusia untuk menjual dengan murah fossil fuel–nya, ditambah mereka tidak punya kapasitas penyimpanan yang jika disimpan terlalu lama akan membuat mereka mau tidak mau menjualnya meski dengan harga murah, dan inilah yang sebenarnya ditunggu oleh Cina.


Dan ini juga berhubungan dengan bank-bank Rusia yang dicoret dari daftar SWIFT yang setelah saya telusuri ternyata tidak semua bank di Rusia dicoret dari daftar tersebut, ada namanya Gazprombank yang ibarat Pertamina-nya Rusia dan tidak dicoret, untuk itulah sekarang pasokan gas dari Rusia itu tetap jalan ke Eropa sampai kemudian dia mengatakan bahwa dia membatalkan karena Rusia berbuat asusila yaitu dengan menyerang Ukraina.


Saya melihat jika seperti ini bisa saja merupakan jebakan buat Rusia, di mana Ukraina ini adalah case untuk menjebak Rusia dan kemudian untuk menakut-nakuti Jerman supaya tidak lagi membeli gas dari Rusia dan kemudian membuat aliansi ekonomi menjadi kompak, ibaratnya kita berjalan bersama bareng-bareng dan uangnya jangan dikasih ke perampok.

Kemudian dari situ apa yang terjadi?


Rusia ternyata menghentikan proyek Nord Stream 2 yang sedang dikerjakan, dan Uni Eropa sedang bekerja untuk mem-ban fossil fuel dari Rusia. Dan di dalam negeri Jerman muncul beragam content misalnya ketidaksiapan mereka menghadapi penghentian pasokan gas dari Rusia yang kemudian saya lihat juga muncul decompose terhadap isu itu ketika para pakar dalam negeri mengeluarkan statement bahwa mereka bisa melewati masa transisi dari penggunaan gas ke renewable energy yang akan disupply oleh Norwegia yang memiliki kapasitas untuk itu.


Kemudian muncul juga contetn dari Aljazair yang mengatakan siap untuk berpartisipasi, yang mana mereka ini juga cukup dengan Eropa dan saat ini sedang membangun saluran gas salah satunya mengalir ke Spanyol, walau kemudian akhir-akhir ini sikap Aljazair berubah karena mungkin mendapat tekanan dari Rusia dan menyatakan abstain saat diminta sikapnya terkait invasi Rusia ke Ukraina, dan membuktikan bahwa Aljazair tidak siap, yang siap adalah Norwegia yang punya kapasitas untuk menandingi Rusia dalam cerita gas ini.


Sampai pada ini saya masih berkeyakinan penuh bahwa ini adalah cerita iklim, akar masalahnya adalah keinginan manusia untuk masa depannya yang terancam, sehingga agenda- agenda penyelamatan seperti bebas emisi karbon di tahun 2050 harus terealisasi apa pun konsekuensinya termasuk saling berhadapan dengan jaringan yang menentang agenda ini.


Lalu siapa yang paling nge-gas dalam hal ini? Tak lain adalah Skandinavian seperti Norwegia, United Kingdom, Swedia, dan sebagiannya agar Uni Eropa dan Amerika serius untuk berjuang bersama merealisasikan agenda ini agar ancaman tenggelamnya mereka bisa dihentikan, padahal Norwegia ini termasuk yang tidak akan tenggelam.


Tapi begitu negara-negara di Eropa tenggelam dia akan tinggal sendirian dengan Kanada dan Rusia yang paling besar, tentu ini ancaman serius bagi mereka. Yang sebetulnya secara daratan dia aman, tapi begitu tahu yang selamat hanya segelintir negara dan yang paling besar adalah yang punya powerfull tentu bagi Norwegia ini ancaman kejatuhan mereka juga.


Jika semua mengenai cerita kepentingan Eropa dan Rusia bagaimana dengan cerita tentang Rusia yang mengatakan bahwasanya dia terancaman dengan keinginan Ukraina yang ingin bergabung ke NATO, karena begitu Ukraina apply join maka pasukan NATO itu ada di pekarangan rumah kami.

Apa makna ucapan itu? Apakah salah?


Tentu tidak, Sebab dia bermakna pada jaringannya, ini adalah alasan Rusia pada jaringannya. Dia meyakinkan orang-orang Russia karena dalam perang butuh dorongan moral untuk meyakinkan pasukannya agar kompak dan tidak terbebani dengan cerita membunuh saudara sendiri.


Yang menjadi menarik kemudian adalah Amerika punya pangkalan militer besar dengan Jepang yang berbatasan dengan Rusia. Jika kita ingat perang dunia yang kedua, saat Soekarno bilang bahwa bangsa Timur itu perkasa bukan bangsa tempe yang dibuktikan dengan Jepang menang melawan Rusia saat perang dunia kedua bahkan jika kita ikuti sampai sekarang ada pulau-pulau di antara perbatasan tersebut yang menjadi sengketa antara keduanya.

Balik lagi ke awal, jika ini ceritanya ancaman terhadap pekarangan, justru Amerika telah berada lama di pekarangan Rusia, termasuk wilayah Alaska yang berbatasan langsung dengan Rusia Siberia. Dan jika bicara tentang ini, Rusia itu punya pangkalan militer besar di Armenia yang berbatasan dengan Turki yang merupakan anggota NATO, artinya sama yaitu Rusia juga berada di pekarangan NATO.

Lalu apakah statement mengenai alasan Rusia menyerang karena terancam adalah salah? Tentu tidak sebab balik lagi ke sebelumnya yaitu ini adalah content yang dicompose untuk meyakinkan orang-orang Rusia agar berjuang mempertahankan kedaulatan negara yang sedang berada dalam ancaman militer NATO dan Amerika.

Berikutnya yang menarik adalah cerita tentang Kadyrov yang oleh netizen dan media Indonesia sempat viral karena teriakan-teriakan takbir pasukannya serta banyak lagi, tapi apa sebenarnya makna dari kehadirannya dalam konflik ini juga menarik untuk diulas.

Di antara yang saya maknai adalah kehadirannya adalah untuk menarik simpati dunia Islam. Hal ini terlihat misalnya kebetulan saya join dalam banyak jaringan aktivis Islam itu terbukti banyak dari mereka shifting yang dulunya men-dewa-kan Erdogan sekarang beralih ke Putin karena dinaggap sebagai teman saudara yang sedang menghancurkan peradaban Amerika dan berbagai narasi lainnya.

Jika kita melihat berita-berita di Rusian Today atau Sputnik yang menarik adalah mereka tidak bilang konflik ini sebagai perang melainkan special operation karena Ukraina dianggap saudara yang bandel dan sedang ditertibkan, supaya bersaudara lagi sehingga tak disebut sebagai perang. Jadi orang Rusia ini ada semacam kebenaran dalam jaringan bahwa sebenarnya mereka sedang tidak menyakiti saudaranya melainkan menyelamatkan mereka dari pemerintahan Zelensky yang dianggap merusak dan merugikan Ukraina dan persaudaraan bangsa-bangsa yang lahir dari pecahan Uni Soviet.

Lalu cerita-cerita tentang Kadyrov, Special Opreation, Neo Nazi dan sebagiannya sebenarnya adalah bisa-bisanya Putin untuk membangkitkan moral pasukannya agar membantunya melawan jaringan-jaringan klub iklim sebagaimana klub iklim juga melakukan berbagai gimmick dan compose untuk berusaha merealisasikan agenda mereka demi masa depan mereka yang lebih baik.

Terakhir, what next?

Saya ingin membayangkan berbagai situasi yang mungkin saja terjadi dan menjadi akhir dari semua cerita ini, di antaranya adalah jika Rusia menang, bukan bearti jaringan iklim tidak bisa merealisasikan agendanya, sebab cerita manusia itu bukan zero some game karena manusia itu reflektif, sebagaimana paradigma jarsos yang saya pakai untuk menelusuri cerita ini menyebut bahwa semua realitas itu selalu berubah, never ending meanings, bahwa kita tidak berenang pada sungai yang sama.

Jadi jika Rusia menang mungkin dia akan terus menghambat perjalanan klub iklim, tapi saya yakin klub iklim akan punya cara lain, terus reflektif agar hambatan demi hambatan bisa dihindari. Sebaliknya jika Rusia kalah maka mungkin dia akan kehilangan revenue di fossil fuel yang dijual ke Amerika Serikat dan Uni Eropa efeknya akan ada krisis pada ekonomi Rusia yang cukup serius untuk dia hadapi.

Berikutnya yang terakhir adalah sebagaimana tesisnya Parag Khana yang menyatakan kenapa orang-orang pada berantem untuk kepentingan ini, apa tidak ada cara agar kita bisa hidup bersama? Okelah nanti yang selamat itu adalah kawasan Rusia, Kanada, Skandinavia, Amerika Alaska dan sebagiannya, sehingga kenapa tidak kita tinggal bareng saja di daratan yang selamat.

Maksudnya sebagaimana gerakan anti negara yang sudah cukup lama muncul, yang menganggap bahwa batas-batas geografi seperti negara itu adalah satu hal yang tidak lagi penting yang membuat antar manusia berkonflik atas kepentingannya sehingga mendorong kita bisa hidup dalam daratan yang tidak perlu ada batas-batas kenegaraan, planet bersama yang dihuni bersama-sama tanpa perlu saling merusak dan membunuh antara satu dengan lainnya.

Demikianlah tulisan panjang ini berakhir, sebagaimana di awal saya sampaikan bahwa penggunaan paradigma jarsos sebagai bahan membaca setiap realitas akan membawa kita pada makna sebenarnya yang salah satunya dalam case ini saya menyimpul tidak lain dan tidak bukan ini adalah perang iklim.

Namun bukan berarti pula ini akan berhenti sampai di sini sebab semuanya reflektif, semuanya akan berubah, dan semuanya penting sehingga kita harus terus mengeksplore, mengkoneksikan tiap-tiap realitas yang ada tanpa menegasikan apa pun, baik itu tentang Kyadrov, Klenik, Eskatologi, dan lainnya karena semuanya penting dan bermakna pada jaringannya.









Komentar