Langsung ke konten utama

Penaklukan 1453 dan Kitab Tajul Muluk

 Dalam serial netflix bertajuk Rise Empires Of Ottoman yang menceritakan tentang penaklukan Konstantinopel oleh Mehmed II di tahun 1453 dengan sudut pandang author-author yang menarik.

Salah satu dari scene yang menarik adalah kisah tentang kedekatan antara Mehmed II dengan Maria Brancovix, istri dari ayahnya yang merupakan putri dari Serbia, salah satu dari kekuasaan diwilayah Balkan. Kedekatan itu misalnya digambarkan ketika Mehmed dan ayahnya punya hubungan yang dingin, Maria hadir untuk menjadi sosok ibu, mendekap dan menyapih-nya dengan kasih sayang.

Tapi yang lebih menarik adalah, saat Mehmed merasa 'futur' karena gelombang penyerangan yang terus saja gagal, Maria kemudian hadir dengan membawa selembaran-selembaran ramalan astrolog Serbia yang menyebut bahwa besok ( 29 Mei 1453) adalah waktu yang tepat untuk Mehmed melancarkan serangan habis-habisan kepada Konstantinopel. 

Ramalan astrologi tersebut menyebut bahwa posisi bulan-matahari-dan bumi menjadi satu posisi, atau dengan kata lain akan terjadinya Gerhana Bulan Merah Darah (blood moon) yang bagi orang-orang Kristen Ortodhoks di Konstantinopel adalah tanda atau nubuwat dari Tuhan akan terjadinya peristiwa besar.

Orang-orang beriman di seluruh dunia yang beragam aliran agama (Yahudi dan Kristen) menghubungkan fenomena bulan darah ke ajaran nabi Yoel: "Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu." (Yoel 2:30-31).

Sedangkan bagi orang-orang Ottoman, Gerhana adalah tanda-tanda kebesaran Allah hingga kemudian dalam nash disebut Nabi melakukan sholat gerhana untuk menepis pikiran masyarakat Arab pra-islam yang menganggap gerhana adalah kejadian menakutkan.

Berbekal keyakinan itulah kemudian Mehmed memerintahkan pasukan yang konon berjumlah 800.000 orang tersebut untuk bersiap melakukan serangan habis-habisan, dengan memusatkan serangan dia pintu St.Romanus dan Benteng sisi Golden Horn.

Saya memiliki ketertarikan dengan versi ini sebab ketika melakukan rihlah di Aceh, saya bertemu dengan seorang yang kemudian mengenalkan saya dengan kitab Tajul Muluk.

Tajul muluk atau ilmu Tajul adalah nama yang paling sering dipakai untuk menyebut sistem geomansi Melayu yang terdiri dari prinsip-prinsip metafisika dan geomantis saat menentukan tempat atau merancang bangunan untuk memperbaiki dan mempertahankan keberadaannya. Sistem ini sering dipraktikkan oleh dukun atau bomoh dan arsitek Malaysia dan Indonesia. Istilah ini sebenarnya mengacu pada buku berjudul Tajul Muluk yang mengulas beberapa topik, termasuk pengobatan herbal, astrologi, penafsiran mimpi, dan geomansi. Meski semua topik tersebut dikategorikan ke dalam ilmu tajul, istilah ini sering ditujukan pada serangkaian ritual dan aturan konstruksi bangunan dalam budaya Melayu.

Bukan hanya itu, kata orang itu menyebut bahwa Tajul Muluk juga berisi isyarat bencana, isyarat jodoh, dan sebagiannya yang mengacu pada hitungan-hitungan perbintangan. 

Menarik bagi saya bahwa artinya ramalan-ramalan aglomerasi dan perbintangan itu sebenarnya bukan hal yang tabu di masyarakat Islam, bahkan Mehmed II yang konon di tokohkan sebagai sosok yang dinubuwatkan nabi dalam kata ' falaa ni'amal amiru amiruha- wala ni'amal jaisy dzalikak jaisy ' juga menggunakan ramalan astolog Serbia itu dengan memahami konteks dari dalil Gerhana sebagai tanda kebesaran Allah.

Tentu cerita ini berbeda dengan kebanyakan yang pernah saya tahu, bahwa dikisah yang lain disebut bahwa saat Mehmed merasa putus asa karena gagalnya tiap gelombang penyerangan, ditambah pasukan Ottoman yang juga sudah mulai bertanya-tanya 'kapan kita menang?', hal tersebut membuat Halil Pasha merasa bimbang karena paham psikologis prajurit Ottoman yang maunya satsetwaswes atau cepat serang dan menangkan.

Atas kebimbangan itulah Halil Pasha memanggil Syaikh Aaq Syamsudin, guru dari Mehmed saat diasingkan oleh ayahnya pasca turun tahta. Syaikh Aaq kemudian membawa Mehmed jaulah untuk menemukan posisi makan Abu Ayub Al-Anshari, seorang sahabat nabi yang sepuh tapi tetap gigih ikut berjuang ketika Omar bin Khattab juga berusaha menembus tembok Konstantin.

Dengan spirit cerita Abu Ayyub itulah Mehmed kemudian kembali tancap gas hingga kemudian menang di tanggal 29 Mei 1453.

Komentar