Langsung ke konten utama

Menang dan Kalah adalah “Adat Kompetisi”

Malaysia secara resmi malam ini telah menyelesaikan tahapan pemilihan DUN alias Dewan Undang Negeri (sejenis anggota DPRD Provinsi) pada enam wilayah negeri ; Selangor, Negeri Sembilan, Pulau Pinang, Kedah, Kelantan dan Terengganu. 


Dari rekapitulasi akhir, terlihat komposisi penguasaan pada enam negeri tersebut tidak berubah seperti sebelumnya, hanya ada sedikit perbedaan pada koalisi gabungan politik mengikut situasi pasca PRU-15, dimana Pakatan Harapan (PH) dalam hal ini telah bergabung bersama Barisan Nasional membentuk pemerintahan Kerajaan Perpaduan, dan selepas ini 3 Kerajaan Negeri yang dimenangi juga akan dipengerusikan secara bersama-sama antara keduanya.


Saya, secara khusus, mengikuti perkembangan-perkembangan politik disana. Pertama, karena nge-fans berat dengan sosok Anwar Ibrahim yang secara pribadi memiliki kematangan personal dalam berbagai sisi, dan kedua iklim politik Malaysia yang akhir-akhir ini begitu unik dan hampir menyerupai apa yang sedang terjadi di Indonesia belakang waktu.


***


“We accept the people’s choice” ucap Anwar Ibrahim tadi dalam sidang media Koalisi Kerajaan Perpaduan sepasca hasil akhir PRN 15 diumumkan. 


Ini benar-benar sikap “gentleman” untuk seorang yang berpuluh tahun tungkus lumus dalam arena perpolitikan. Selain itu, juga menunjukkan kematangan akan prinsip, bahwa kemenangan dan kekalahan adalah adat dalam kompetisi yang akan selalu berlaku.


Kiranya, bila boleh memberikan catatan-catatan terhadap DSAI, sapaan akrab Anwar Ibrahim, berserta seluruh jajaran Kerajaan Perpaduan mulai dari jentera hingga elite-nya, 


1. Hasil PRN ini adalah awal bukan akhir. 


Kerajaan Perpaduan yang diterajui DSAI memiliki segudang pekerjaan rumah, terutama berkaitan dengan kebijakan-kebijakan publik yang sesuai dengan hala tuju dan janji yang selama ini di tawarkan pada rakyat.


2. Kemenangan pada 3 Negeri ini dapat dimaksimalkan sebagai penguatan sinergitas antara Kerajaan Pusat dan Negeri untuk menjaga stabilitas politik Malaysia yang beberapa waktu lalu amat sangat rapuh. 


Perlulah diingat bahwa stabilitas politik adalah kunci untuk meneruskan cita-cita yang termanifestokan dalam visi Malaysia Madani, selain karena kepentingan ekonomi dan pembangunan, stabilitas dan keharmonian diperlukan untuk tidak membawa Malaysia ikut-ikutan ke dalam gelombang krisis yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia, dimana krisis politik akan berujung pada krisis sosial yang melumpuhkan negara.


3. Oposisi, dalam hal ini Perikatan Nasional yang kerap kali mengaktivasi isu politik identitas, perlu kiranya diambil sebagai salah satu prioritas oleh institusi terkait. 


Rakyat yang begitu mudah dikonstruksi oleh sentimen suku,ras, dan agama (disana disebut isu 3R) menjadi semacam pintu masuk bagi ancaman-ancaman krisis sosial. 


Indonesia, jiran Malaysia yang juga tengah sibuk dalam tahun-tahun politik menjelang Pemilu 2024, juga mengalami hal yang sama. Bahkan, negara ini punya pengalaman bagaimana residu pemilu menjadikan masyarakat terpolarisasi oleh sentimen identitas yang sering kali dipakai politisi untuk meraup elektabilitas.


4. Saya kira, salah satu yang diperlukan sekarang oleh Malaysia dan segenap elite politiknya adalah “konsolidasi elite” untuk membawa Malaysia yang benar-benar Madani.


Salah satu kelebihan negara ini adalah, adanya semacam institusi kuat dan berkuasa penuh, berupa para Raja-Raja Melayu yang dapat menjadi pihak untuk memfasilitasi upaya konsolidasi elite tersebut. 


5. Barisan Nasional, terlebih khusus Parti UMNO yang merupakan warisan politik yang kalau di Indonesia mirip-mirip dengan Partai Golkar, perlu kiranya melakukan re-generasi terhadap pucuk-pucuk pimpinan-nya.


Kehilangan deposit yang ditunjukkan pada hasil PRN dimana BN hanya mendapat 19 kursi dari 6 negeri tersebut, menunjukkan akar umbi UMNO-BN mungkin saja kehilangan kepercayaan pada elite partai.


Konsolidasi dan membangun ulang struktur kekuatan hingga ke ujung tombak yaitu akar umbi diperlukan segera, mumpung hari ini UMNO masih duduk di kursi kekuasaan.


Regenerasi ini jangan pula dimaknai sebagai upaya menggeser kalangan tua yang memegang pucuk pimpinan, melainkan semacam upaya konsolidasi internal yang hari ini terlihat ada celah perpecahan antara kaum tua dan muda disana.


Jadi, prinsip dimana yang tua hadir dengan kebijaksanaannya dan muda dengan semangatnya dikelola sebaik mungkin sebagai perbaikan ulang terhadap “partai keramat” ini.


Kiranya, kesemua poin diatas dapatlah dianggap sebagai pandangan—masukan dari pihak luar yang secara intens memperhatikan situasi politik di negara yang pernah disebut-sebut Macan Asia itu.


Terakhir, ucapan tahniah dan selamat bekerja untuk seluruh ADUN-ADUN yang telah mendapat kepercayaan rakyat di enam negeri, dan doa terbaik untuk DSAI serta seluruh jajarannya untuk terus menerajui Malaysia yang MADANI.

Komentar