Langsung ke konten utama

Ki Ageng Giring III ; Teladan Keluasan Hati (Bagian Satu)

Jika Ki Ageng Pemanahan lahir dari jalur Prabu Brawijaya V dengan Putri Jeumpa, maka Ki Ageng Giring III datang dari hasil pernikahan Prabu Brawijaya IV dengan Retna Mundri. Kedua tokoh besar yang nantinya menjadi awal mula trah peradaban Mataram Islam ini adalah murid terpilih dari Sunan Kalijaga, salah satu dari wali mahsyur Tanah Jawa yang dikenal begitu alim dan kasyaf. 


Kisah dramatis antara kedua tokoh besar ini masih begitu lekat dalam ingatan orang-orang, tentang bagaimana keduanya sempat berselisih rasa kala “degan” yang konon nya berisi wahyu gagak emprit atau wahyu keraton justru diminum oleh Ki Ageng Pemanahan.


***


Kala itu, Sunan Kalijaga memberikan dawuh kepada keduanya kelak akan turun wahyu keraton ; bahwa barang siapa yang mendapatkannya, maka anak keturunannya akan menjadi raja-raja penerus di Tanah Jawa. 


Sebelumnya, Ki Ageng Pemanahan merupakan salah satu dari dua sosok yang membantu Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya Pajang dalam mengalahkan Aryo Penangsang di Jipang Panolan. Dia dan Ki Ageng Panjawi di janjikan tanah perdikan yang luas untuk di kelola. Satu di wilayah Pati yang diberikan kepada Ki Ageng Panjawi dan satunya lagi adalah wilayah Alas Menatok. Kononnya, karena terpengaruh pada ramalan Sunan Giri Prapen cucu Sunan Giri Gajah, Sultan Hadiwijaya sempat menangguhkan pemberian perdikan di Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan.


Di saat itu pulalah, dia menerima dawuh gurunya ; Sunan Kalijaga, untuk pergi ke wilayah yang dikenal sekarang sebagai Gunung Kidul bersama Ki Ageng Giring III untuk mencari wahyu keraton yang nantinya akan turun di Pegunungan Kidul. Kelak wahyu Gagak Emprit akan turun di tengah pegunungan selatan dalam sebuah air degan. Namun kapan wahyu itu akan turun, Kanjeng Sunan tidak pernah menjelaskan dan pantang bagi murid untuk bertanya kepada Guru.


Ki Ageng Pemanahan berharap dengan pergi mencari wahyu keraton ini, dia bisa mengusir jauh-jauh rasa kecewa terhadap kebijakan Sultan Hadiwijaya. Oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pemanahan kemudian disuruh melakukan tirakat di daerah yang terdapat pohon mati yang berbunga. Pohon mati yang berbunga itu ditemukan oleh Ki Pemanahan yang sekarang disebut Kembang Lampir, wilayah Panggang, Gunung Kidul.


Adapun Ki Ageng Giring III yang memang tinggal di wilayah Desa Sodo, Paliyan, diminta untuk disuruh menanam sepet atau sabut kelapa kering, yang kemudian tumbuh menjadi pohon kelapa yang menghasilkan degan atau buah kelapa muda. Sabut kelapa kering yang secara nalar tidak mungkin tumbuh, namun atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, tumbuh menjadi sebatang pohon kelapa.


Bertahun-tahun lamanya kelapa tersebut dirawat, namun tidak satu pun buah yang dihasilkan olehnya. Meskipun begitu, Ki Ageng Giring III tetap tekun merawatnya dengan harap-harap nantinya wasilah pohon kelapa itu “wahyu keraton” akan turun kepadanya. Hingga pada suatu hari, dia mendapat mimpi bahwa harus segera memetik buah dari pohon kelapa tersebut dan harus langsung meminumnya. 


Benarlah, keesokan harinya, dijumpai bahwa kelapa tersebut telah menghasilkan satu buah kelapa hijau. Setelah dipetik, degan tersebut di simpan dilumbung terlebih dahulu. Niat hati Ki Ageng Giring III ingin berjalan dulu ke persawahan miliknya hingga kemudian haus dan langsung meminumnya, namun ternyata takdir Allah memiliki rencana yang lebih indah.


Saat itu Ki Ageng Pemanahan datang dari Kembang Lampir dalam kondisi kehausan, kemudian setelah tidak menemukan keberadaan Ki Ageng Giring III, dia menuju lumbung berharap ada air yang dapat diminum untuk menghilangkan dahaga. Qodarullah, yang diminum oleh Ki Ageng Pemanahan ternyata degan kambil ijo yang disimpan Ki Ageng Giring III.


Setelah pulang, barulah tahu Ki Ageng Giring III bahwa degan yang konon disitulah turun wahyu keraton telah diminum Ki Ageng Pemanahan, bermula dari situlah kisah masyhur penuh teladan tersebut berpuncak.


***  

 

Dalam berbagai lakon pentas rakyat, peristiwa tersebut dilakon dengan dialog yang kurang lebih seperti ini ;


“Lo Adi Pemanahan? Kapan tiba di gubukku ini, Di?” tanyanya sambil merangkul melepas rindu kepada sahabatnya.


“Baru saja Kakang, sudah lama aku tidak berkunjung ke sini, bagaimana kabar Kakang Giring?” kata Ki Ageng Pemanahan. “Kakang, karena kehausan dari perjalanan jauh, eh sampeyan dan mbakyu tidak ada. Aku langsung njujug pawon dan meminum degan yang ada di babragan milik Kakang, aku mohon maaf sebelumnya Kakang”, lanjut Pemanahan.


Mendengar itu, Ki Ageng Giring tertunduk lemas, tahu bahwa wahyu keraton itu justru turun kepada Ki Ageng Pemanahan. Begitu pula Ki Ageng Pemanahan sedikit terkejut kala diberitahu bahwa degan tersebut bukanlah degan sembarangan ; cemas pula bilamana kakak seperguruannya itu akan marah kepadanya.


Adalah sudah sifat dasar manusia yang mempunyai hati, bahwa rasa kecewa itu pastilah ada pada hati Ki Ageng Giring III ; namun sejenak beliau sadar, bahwa ini adalah suratan takdir Allah yang tak akan pernah bisa ditolak ataupun dirubah oleh manusia sebagaimanapun laku yang dilakukan untuk itu.


Kita juga tentu tidak perlu meremehkan seorang Ki Ageng Giring III yang tentunya adalah seorang wali yang memiliki kualitas ruhani dan kepasrahan jiwa. Beliau sudah lama olah jiwa dengan meper hawa nepsu hasil tarbiyah Kanjeng Sunan Kalijaga ; sehingga tidaklah mudah terbawa arus hawa nafsu kemarahan atas takdir Ilahi. 


Beliau juga lantas teringat, bagaimana Ki Ageng Selo di Purwodadi juga sempat melakukan tirakat yang sama untuk mendapatkan wahyu keraton ; dia berpuasa dan mlaku batin berpuluh tahun lamanya, namun takdir justru menuliskan bahwa seorang pemuda yang baru menjadi muridnyalah yang mendapat mimpi di sembah orang setanah Jawa ; dialah Joko Tingkir yang kemudian menjadi Raja di Pajang.


***


Kepada saudaranya tersebut, Ki Ageng Pemanahan kemudian menawarkan kesepakatan ; bahwa mungkin yang terjadi ini memang sudah garising pepesthen, namun untuk menjadi penawar dan menghindarkan perselisihan rasa antara keduanya ; bahwa setelah keturunan ketujuh (artinya kedelapan) dari Ki Ageng Pemanahan, maka anak putunya Ki Ageng Giring III juga ikut mukti wibawa.


Selain itu, ditawarkan pula bahwa keduanya akan saling berbesan dengan menikahkan Raden Danang Sutawijaya atau kelak dikenal sebagai Panembahan Senopati dengan anak perempuan Ki Ageng Giring III ; Roro Lembayung. Dari pernikahan keduanya ini nanti lahir dan masyhur kisah seorang Joko Umbaran atau Panembahan Purboyo.


***  


Meskipun kesepakatan telah terjadi, Ki Ageng Giring III tetap berusaha untuk menghilangkan masygul dalam hatinya ; dia melakukan tirakat berkepanjangan di sebuah kali yang kini dikenal sebagai Kali Gowang. Dinamai itu karena hatinya lagi terluka, gowang, kecewa, teriris-iris atas kegagalannya memperoleh wahyu Mataram.


Sodo atau Sada ; nama desa tempat tinggal Ki Ageng Giring juga memiliki makna yang unik. Sada atau sodo itu diartikan pula sebagai tulang daun kelapa. Sebagaimana desa tersebut juga banyak ditanami kelapa oleh Ki Ageng Giring.


Seorang teman yang ahli dalam dunia perkerisan juga berujar bahwa Sada sakler merupakan nama salah satu pamor penting di Keris. Filosofinya memperoleh petunjuk dan jalan lurus menuju kemuliaan.


***


Takdir terus berjalan, dengan ditemani Kanjeng Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pemanahan lantas pulang ke Pajang untuk menagih janji Sultan Hadiwijaya. Nantinya terdapat kisah menarik lainnya kala penagihan tanah perdikan ini dilakukan. Sultan yang kala itu terpengaruh ramalan bahwa kekuasaannya akan tergantikan lantas membuat kesepakatan pula dengan Ki Ageng Pemanahan atas saran Kanjeng Sunan Kalijaga ; bahwa dia tidak akan menjadi raja atau membangun kekuasaan sampai akhir pemerintahan Sultan Hadiwijaya.


Kesepakatan itu ditunaikan Ki Ageng Pemanahan hingga akhir hayatnya, dia tetap setia mengawal kekuasaan Joko Tingkir sembari mengelola Alas Mentaok yang nantinya menjadi cikal bakal Peradaban Mataram Islam. Raden Danang Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan lah yang kelak menunaikan wahyu keraton tersebut hingga dikenal sebagai Raja Pertama Kerajaan Mataram Islam.

Komentar