Nama besar Ruhullah Khomeini kiranya sudah tidak lagi asing ditelinga kita. Pemimpin Besar Republik Islam Iran ini adalah pelopor ; jantung dan otak dari peristiwa Revolusi Iran 1978 yang berhasil menumbangkan rezim Monarki Syah Mohammad Reza Fahlevi dan dicatat sebagai salah satu dari tiga revolusi besar yang pernah terjadi sepanjang sejarah setelah Prancis dan Bolshevik.
Saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang runtutan bagaimana peristiwa revolusi yang berlatar semangat "Teokrasi" ini terjadi, namun salah satu variabel yang penting untuk diingat sebagai salah satu dari langkah Khomeini melakukan revolusi adalah mengajak orang-orang untuk menolak eksploitasi sektor migas yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Iran saat itu.
Sebelumnya, Syah mengubah strateginya yang bergantung pada kekuatan asing setelah Revolusi Musadiq pada tahun 1953 melalui jalinan hubungan lebih khusus dengan Amerika Serikat sekaligus sebagai antisipasi membendung kekuatan Komunis yang sedang subur-suburnya tumbuh di Moskow.
Jalinan hubungan khusus itu, Amerika Serikat memberikan konsentrasi yang penuh kepada Iran sebab ; Pertama, karena perbatasannya dengan Uni Soviet yang memanjang kurang lebih 2500 km. Kedua, kekayaan Iran dari hasil minyak bumi. Ketiga dan yang tak kalah pentingnya, letak strategis Iran yang berbatasan secara langsung dengan negara-negara di Kawasan Timur Tengah.
Pada saat yang sama, Syah memberikan legalitas secara penuh kepada perusahaan-perusahaan kepada Amerika Serikat untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi secara langsung sumber daya minyak mentahnya yang begitu besar dalam jumlah tak terbatas.
Sehingga dalam waktu 10 tahun saja, mereka berhasil memproduksi 340 juta ton minyak mentah. Jumlah yang jauh lebih besar dari yang telah di ambil Inggris setalah 50 tahun menjajah Iran serta semua hasil minyak bumi itu digunakan oleh Syah dalam rangka memperkaya aset pribadi dan menguatkan basis kekuatan militernya.
Pada variabel inilah yang kemudian juga digunakan oleh Ruhullah Khomeini saat ceramah di depan pendukungnya untuk mengonstruksi keharusan dilakukannya perlawanan terhadap eksploitasi itu ; bahwa harta yang terkandung dibawah kita ialah milik kita, dan harus dikelola oleh kita sendiri. Jika bangsa lain ingin memilikinya, maka mereka harus membeli dari kita sebagai bangsa, dengan kata lain, Ruhullah menekankan pentingnya hilirisasi terutama pada sektor migas yang Iran kaya akan hal tersebut.
" Jika kondisi seperti ini terus berlangsung hingga 30 tahun kedepan, maka minyak Iran akan terkuras habis tanpa sisa. Saat itu bangsa kita tidak akan memiliki minyak dan tidak pula lahan pertanian. Dan jika diteruskan 30 tahun lagi, maka bangsa kita akan menjadi bangsa pengemis. Saat ini kita sudah bisa disebut sebagai bangsa pengemis, namun nanti semua rakyat kita akan menjadi pengemis, sebab tidak memiliki kekayaan apa pun. Kalaulah kita biarkan orang ini, maka dia akan mencerabut seluruh kemuliaan dan kehormatan kita. "
Itulah petikan dari pidato Ruhullah Khomeini di Paris tahun 1978 kala dia dalam pengasingannya.
***
Baru-baru ini, ide tentang hilirisasi sektor migas ini datang dari bangsa kita, Indonesia. Presiden Joko Widodo melalui forum G20 beberapa waktu lalu menekankan komitmen Indonesia untuk menghentikan izin eksploitasi secara langsung sumber daya mentah terutama pada sektor minyak bumi dan gas. Jokowi berkeyakinan bahwa hilirisasi ini akan berdampak secara luas dan langsung terhadap pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia, terutama menyambut tahun emas di 2045 mendatang.
"Hilirisasi adalah gerbang emas untuk mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045," tegas Presiden dalam pertemuan dengan 18 pemimpin redaksi media nasional di Istana Negara beberapa waktu lalu serta beberapa pernyataan lainnya yang pada intinya menekankan bahwa Indonesia siap untuk melakukan hilirisasi pada sektor migas, pertanian dan perkebunan.
Presiden yakin, dengan hilirisasi di bidang pertambangan, migas, perkebunan, dan pertanian, PDB Indonesia akan terdongkrak. Lonjakan ekspor 2021 yang mencapai 38,3% dikontribusi oleh industri manufaktur. Dengan hilirisasi, ekspor nikel melonjak dari US$ 1,1 miliar tahun 2014 ke US$ 20,9 miliar tahun 2021.
Mengutip dari https://investor.id/business/279156/jokowi-hilirisasi-adalah-gerbang-emas-indonesia ; Berdasarkan data Kementerian ESDM, jumlah cadangan bauksit Indonesia mencapai 1,2 miliar ton atau 4% dari cadangan bijih bauksit dunia sebanyak 30,39 miliar ton. Adapun pemilik cadangan bijih bauksit terbesar di dunia yaitu Guinea mencapai 24%, lalu Australia menguasai 20%, Vietnam 12%, Brazil 9%, dan Jamaika 7%. Presiden menjelaskan, berdasarkan laporan yang disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, nilai ekspor stainless steel Indonesia pada 2021 melonjak sekitar US$ 20,8 miliar.
Sedangkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Indonesia memiliki 30% cadangan nikel dunia, yaitu sebanyak 21 juta ton. Nikel dapat ditemukan di berbagai wilayah, seperti Halmahera Timur di Maluku Utara, Morowali di Sulawesi Tengah, Pulau Obi di Maluku Utara, dan Pulau Gag di Kepulauan Raja Ampat. Bijih nikel laterit (limonit dan saprolit) merupakan komoditas umum di industri nikel di Indonesia. Jumlah bahan baku tersebut sangat berlimpah. Kondisi ini menjadi alasan dibangunnya industri baterai kendaraan listrik berjenis NCA (nikel kobalt aluminium oksida) dan NMC (nikel mangan kobalt oksida).
***
Ide revolusioner ini bukannya mudah, melainkan harus menghadapi jalan terjal perlawanan terutama dari Barat yang selama ini "nangkring" dan mengeksploitasi begitu besar sumber daya yang terkandung di tanah yang disebut "negeri gemah ripah loh jinawi" ini.
Uni Eropa mengambil langkah untuk menggugat Indonesia ke World Trade Organization atau WTO dan terakhir kabarnya gugatan tersebut dikabulkan oleh Badan Penyelesaian Sengketa (DSB) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sehingga ini menjadi batu sandungan untuk melakukan reformasi terhadap ekonomi Indonesia.
Meski begitu, ternyata Presiden Jokowi masih berkeyakinan besar bahwa ide hilirisasi dan pelarangan ekspor bahan mentah ini masih bisa dilakukan dan memang harus dilakukan dengan berbagai cara. Tentu ini perlu benar-benar kita puji ; bahwa Jokowi terbukti membangun konstruksi negarawan pada dirinya ; bahwa kita adalah bangsa besar yang mampu maju dan setanding dengan negara-negara maju lainnya di dunia.
"Sekali lagi, meskipun kita kalah di WTO, kalah kita urusan nikel ini digugat oleh Uni Eropa dibawa ke WTO kita kalah, enggak apa-apa. Kalah saya sampaikan ke menteri, banding," tegas Jokowi dalam Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2022 beberapa waktu lalu.
***
Pada variabel ini, saya harus benar-benar mengakui kekaguman terhadap sosok yang beberapa waktu lalu dianggap sebagai Fir'aun ini. Sebagaimana cita Ruhullah Khomeini kala membangun batu bata revolusi Iran 1978 lalu melalui desakan hilirisasi terhadap migas milik Iran, kini hal itu dilakukan pula oleh seorang pemimpin bangsa yang dikenal dulunya sebagai Nusantara ini.
Saya paham, pada beberapa bagian, tentu ada kebijakan yang perlu di kritik kepada Jokowi, tapi dalam beberapa bagian lain ; kita harus memuji seorang Jokowi untuk itu.
Jika boleh meminjam istilah Anhar Gonggong dalam ILC beberapa waktu lalu ; kita harus memuji seorang Jokowi yang telah berani mengambil jalan untuk memperbaiki masa depan, serta mencoba menutup kesalahan dan dosa bangsa ini di masa lalu.
Komentar
Posting Komentar