Dalam kisah yang mahsyur tentang bagaimana peradaban Mataram Islam di bangun, kita akan jumpai satu scene dimana simbol ”air” dan “perempuan” hadir sebagai pembuka.
Tersebutlah ketika Panembahan Senopati berupaya untuk membangun dinasti tersebut baik secara fisik atau budaya, terdapat gangguan cuaca dan para makhluk goib yang datang dari arah Pantai Selatan.
Gangguan tersebut ternyata berefek pada lambannya pembangunan, hingga kemudian Panembahan Senopati memilih untuk meminta arahan dari Ki Juru Mertani, seorang Ahli Spiritual serta strategi di masa tersebut.
Berdasarkan tirakat yang di lakukan olehnya, Panembahan Senopati diminta untuk merapat ke Pantai Selatan dan bersilaturahmi kepada penguasanya yang santer kita kenal sebagai Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul.
Sampai hari ini, jika kita berkunjung ke Pantai Parangkusumo, akan kita jumpai sebuah petilasan yang berisi dua buah batu yang konon merupakan tempat bertemunya penguasa daratan Mataram dan laut Selatan.
Diskusi itu pada akhirnya menemukan satu buah kesepakatan bahwa segenap makhluk ghoib yang berada di wilayah Pantai Selatan tidak akan mengganggu wilayah daratan selama Panembahan Senopati berjanji untuk terus mengkonektivitaskan diri serta anak keturunannya dengan segenap penduduk laut terutama Nyi Roro Kidul sebagai pertanda ikatan kekeluargaan antara darat dan laut.
***
Jika kita membaca sejarah berdirinya Kesultanan Pontianak oleh Syarif Abdurrahman al Qadri, akan kita jumpai pula simbolitas air dan perempuan didalamnya.
Bahwa ketika Sultan Abdurrahman dan bala tentaranya akan merapat ke daratan untuk membangun sebuah pemukiman ternyata mereka di ganggu oleh segenap makhluk ghoib perempuan yang kita kenal sebagai Kuntilanak.
Sultan Abdurrahman kemudian meminta arahan dari ayah beliau, seorang ulama dari Tarim Hadramaut Yaman yang juga seorang qodhi Kesultanan Mempawah, Habib Husien bin Ahmad Al Qadrie.
Setelah Habib Husien bertirakat, beliau kemudian memerintahkan Sultan Abdurrahman menembakkan sekian jumlah meriam ke wilayah daratan yang itu sekaligus menandai tempat berdirinya Masjid dan Bangunan Keraton Kesultanan Pontianak.
Konon katanya, meriam yang di tembakkan bukanlah meriam biasa hingga membuat segenap makhluk ghoib bernama Kuntilanak itu ketakutan dan menyerah untuk tidak lagi mengganggu prosesi berdirinya Kesultanan Pontianak.
Di akhir, antara makhluk goib ini dengan Sultan Abdurrahman saling berpakat untuk tidak mengganggu, bahkan untuk mengenang hal tersebut, Sultan Abdurrahman menamai wilayah Kerajaannya dengan nama “Pontianak” yang dalam kosakata bahasa Melayu sinonim dari Kuntilanak, sang hantu perempuan.
***
Sakralitas air dalam kebudayaan Jawa atau Melayu ternyata kurang lebih sama. Kedudukan air dimaknai sangat dalam terutama perannya dalam menjaga stabilitas kehidupan manusia.
Dalam berbagai kebudayaan Jawa dan Melayu, tradisi adat biasanya selalu erat berkaitan dengan penggunaan simbol air, yang konon dimaknai sebagai “hadiah” dari Syurga. Jadi air adalah salah satu bentuk langsung yang akan juga kita jumpai di Syurga.
Penggunaan mitologi air dalam hikayat atau legenda di kebudayaan Jawa dan Melayu, ternyata di konstruksi untuk beragam purpose, utamanya saat itu.
Pertama, air dimaknai sebagai simbol “kejernihan” dan “kebersihan”.
Bahwa tiap-tiap individu di harapkan dapat bercermin dari air dalam mengelola diri dan hati.
Kedua, Sumber mata air mengalir tiada henti bahkan bertemu menjadi satu di anak-anak sungai.
Ini mengajarkan pada individu untuk hidup sebagaimana air, bahwa perbedaan atribut dan purpose selalu bertemu pada satu punca pertemuan, saling begotong royong dalam pembangunan.
Ketiga, Di lereng perbukitan, air mengalir berubah-ubah, tidak selalu sama.
Pemaknaan ini lekat sekali dengan pandangan paradigma jarsos yang kental dengan sisi antroposen atas pengaruh pos strukturalisme.
Keempat, aliran air menampung segala macam hajat hingga kotoran, tapi disitu pulalah semuanya di netralkan, dijernihkan kembali tanpa bekas.
Kelima, air senantiasa mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah.
Bahwa nilai yang ingin ditarik adalah manusia diminta untuk hidup selalu rendah hati dan tanpa suka menyombongkan diri.
***
Adapun simbol perempuan dalam tiap mitologi tersebut, menurut saya bisa dimaknai pada dua hal
Pertama, soal keseimbangan
Sebenarnya bisa jadi sejak awal Kebudayaan Jawa itu berusaha mendekonstruksi patriaki. Bahwa pada era dikemudian hari itulah budaya jawa yang lekat dikenal agak mengedepankan patriaki itu baru dilakukan.
Jadi sebenarnya, mitologi pertemuan antara Panembahan Senopati dengan Nyi Roro Kidul itu bermakna keseimbangan, bahwa perempuan juga punya andil dalam kesepakatan kehidupan.
Kedua, soal Taurits atau regenerasi
Tidak ada manusia yang bisa lahir tanpa pertemuan intim antara lelaki dan perempuan. Sejak awal nilai penghargaan perempuan selalu dikedepankan, sebab dari merekalah lahir para raja dan penguasa tanah Mataram nantinya.
Maka mungkin saja, budaya patriaki dan strukturalitas antara lelaki dan perempuan baru lahir di era baru, ya mungkin saja dengan purpose tertentu.
***
Lalu apa yang bisa kita tarik sebagai konklusi ?
Jika menggunakan paradigma jarsos, tentu saja kita harus memuji Ki Juru Mertani, Habib Husien al Qadrie, Panembahan Senopati dan Sultan Abdurrahman yang berhasil immers dalam menemukan konten dalam membangun sebuah peradaban.
Konten air dan perempuan dikonstruksi pertama kali sebagai langkah mentarbiyahi generasi masa itu agar peradaban besar bisa terbangun dan bertahan hingga kini.
Masyaa Allah!
Komentar
Posting Komentar